Film dalam Bingkai Budaya: Ketika Tradisi Hanya Jadi Hiasan, dan Perlunya Imersi sebagai Jalan Keluar
- account_circle admin
- calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
- visibility 272
- comment 10 komentar
- print Cetak

Film dalam Bingkai Budaya Ketika Tradisi Hanya Jadi Hiasan, dan Perlunya Imersi sebagai Jalan Keluar (foto penulis)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Setiap kali film Indonesia menampilkan tarian adat, upacara kematian yang megah, atau pakaian tradisional dengan warna-warna mencolok, kita sering bertepuk tangan. Kita merasa bangga. Kita berkata, “Wah, film ini mengangkat budaya!” Namun, setelah film usai, pertanyaan yang jarang kita ajukan adalah: Apakah budaya itu benar-benar menjadi jiwa cerita, atau hanya sekadar latar eksotis yang mempercantik poster? Saya khawatir, jawabannya sering kali yang kedua. Masalah ini bukan sekadar soal estetika, melainkan kegagalan mendasar yang oleh para pengkaji film disebut sebagai kegagalan membangun deep cultural representation. Artinya, budaya direduksi menjadi elemen dekoratif. Ia dipotong, diambil gambarnya yang paling instagramable, lalu ditinggalkan esensinya. Tradisi, bahasa, ritual, dan nilai-nilai sosial seolah menjadi ornamen yang bisa dipasang dan dicopot sesuka sutradara, tanpa pernah menjadi tulang punggung naratif maupun psikologis tokoh.
Tulisan ini ingin mengajak kita semua pembuat film, mahasiswa, kritikus, dan penonton untuk berhenti sejenak dan bertanya: sudah cukupkah representasi budaya kita di layar lebar? Dan jika belum, apa yang harus diubah? Saya akan berargumen bahwa pendekatan berbasis riset, khususnya imersi budaya, bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan. Bukan hanya agar film kita otentik, tetapi agar film dapat menjalankan fungsinya sebagai diplomasi budaya, edukasi, dan ruang refleksi kritis bagi masyarakat yang hidup di persimpangan antara tradisi dan modernitas.
Masalah Utama: Budaya sebagai Komoditas Eksotis
Mari kita jujur. Sepanjang sejarah perfilman Indonesia terutama genre horor, drama keluarga, atau film yang mengklaim diri “kultural”—kita sering melihat pola yang sama. Sebuah adegan pembuka menampilkan tarian sakral, lalu kamera bergerak lambat ke wajah seorang dukun atau tetua adat. Namun, setelah lima menit, budaya itu ditinggalkan. Yang tersisa hanyalah cerita jump scare atau melodrama yang sebenarnya bisa dipindahkan ke latar mana pun tanpa kehilangan makna. Mengapa ini terjadi? Karena banyak sineas dan penulis naskah masih bekerja dari jarak aman. Mereka membaca artikel daring, menonton dokumenter singkat, atau mewawancarai satu atau dua narasumber dari balik meja. Hasilnya adalah representasi budaya yang dangkal, yang oleh Suryanto (2021) disebut sebagai kegagalan membangun deep cultural representation. Budaya tidak lebih dari sekadar “kemasan” untuk menjual eksotisme kepada penonton perkotaan atau bahkan penonton internasional. Padahal, dampak dari representasi yang dangkal ini tidak main-main. Film memiliki peran penting sebagai wahana diplomasi budaya dan penyeimbang arus budaya asing.
Film dapat menjadi alat kesadaran, dapat mengedukasi. Tapi semua itu mustahil tercapai jika naskah yang menjadi fondasinya tidak disusun dengan pemahaman utuh tentang struktur cerita, karakter, dan yang terpenting: realitas budaya yang ingin diangkat.
Solusi: Imersi Budaya, Bukan Sekadar Riset Meja
Apa yang hilang dari pendekatan konvensional? Pengalaman empirik. Sebuah naskah tidak bisa ditulis dari ruang ber-AC dengan secangkir kopi, lalu mengklaim dirinya “berbasis budaya”. Dibutuhkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman akademik. Dibutuhkan proses yang dalam literatur kreatif disebut sebagai imersi budaya. Imersi budaya adalah proses mempelajari, memahami, dan menyatu dengan budaya baru melalui interaksi langsung. Bukan sekadar observasi pasif, tetapi benar-benar tinggal di lingkungan setempat, belajar bahasa lokal, mengikuti tradisi, dan yang terpenting: menjadi bagian dari komunitas, bukan pengamat eksternal.
Dalam praktiknya, ini berarti penulis naskah harus rela mengalami sendiri disorientasi kultural, bingung saat nilai- nilai pribadinya berbenturan dengan praktik sosial setempat, dan menyaksikan langsung bagaimana konflik internal maupun eksternal bergulir di antara warga. Pengalaman empirik inilah yang kemudian menjadi sumber narasi yang otentik. Karena konflik yang sesungguhnya konflik yang menyentuh penonton tidak lahir dari imajinasi meja tulis, melainkan dari ketegangan dan kontradiksi yang hidup dalam kebudayaan itu sendiri. Sebagaimana dikemukakan Firmansyah & Nurhayati (2020), kebudayaan yang hidup tidak pernah harmonis secara sempurna. Ia selalu berada dalam tarik-menarik antara tradisi dan perubahan, antara generasi tua dan muda, antara kewajiban kolektif dan kebebasan individu.
Tungku Cu: Menjadikan Tradisi sebagai Pusaran Konflik
Salah satu contoh paling jelas dari pendekatan ini adalah proses penulisan naskah Tungku Cu yang saya tulis sendiri untuk Tugas Akhir sebagai syarat lulus pada jurusan Produksi Film dan Televisi di Institut Seni Indonesia Bali. Pendekatan imersi budaya saya gunakan untuk menulis naskah sebuah film panjang yang mengangkat tradisi perkawinan Tungku Cu (atau kawing tungku) dari masyarakat Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Tradisi ini, secara sederhana, adalah pernikahan yang dilangsungkan antara anak saudara laki-laki dan anak saudara perempuan dengan kata lain, pernikahan dengan asal-usul yang sama. Dalam sistem kekerabatan Manggarai, tradisi ini dianggap sebagai upaya melestarikan hubungan keluarga yang sudah ada, menghubungkan kembali relasi yang putus, dan menyegarkan ikatan perkawinan sebelumnya.
Namun, dari sudut pandang kontemporer, tradisi ini jelas menyimpan ketegangan. Saya sebagai penulis naskah Tungku Cu tidak hanya membaca tentang Tungku Cu dari jurnal
antropologi, tetapi juga melihat dan merasakan budaya Manggarai itu sendiri. Saya menyadari bahwa meskipun saya asli Manggarai, pengetahuan saya akan budaya masih tumpul. Dengan menggunakan metode imersi budaya, saya mencoba mengkaji lebih jauh tentang budaya dan pengaruhnya terhadap keberlangsungan kehidupan masyarakat Manggarai. Selama hampir dua tahun, saya mencoba meneliti lebih dalam tentang budaya di Manggarai. Setelah melakukan riset yang cukup lama, saya menyadari bahwa tradisi Tungku Cu ini memang memiliki peluang untuk dijadikan fondasi cerita yang bernilai dramaturgi terarah dan terfokus.
Tradisi Tungku Cu secara alami mempertemukan oposisi-oposisi besar: tradisi versus modernitas, kewajiban kolektif versus kebebasan individu, serta kepatuhan terhadap adat versus subjektivitas pribadi, terutama bagi perempuan. Dalam naskah Tungku Cu, konflik tidak dibangun sebagai hambatan eksternal yang artifisial, melainkan sebagai refleksi dari struktur kesadaran masyarakatnya. Durasi film panjang memungkinkan eksplorasi oposisi biner ini secara bertahap, sehingga penonton dapat menyaksikan evolusi pergulatan batin tokoh secara utuh. Dengan kata lain, dalam naskah fiksi ini, Tungku Cu tidak menjadikan budaya sebagai bingkai. Budaya adalah karakter itu sendiri. Budaya adalah antagonis sekaligus ruang bagi protagonis untuk bertumbuh. Ini adalah kebalikan dari pendekatan dekoratif yang selama ini mendominasi.
Marlina: Bukti Nyata dari Sumba hingga Cannes
Jika Tungku Cu masih dalam tahap naskah, kita sudah memiliki contoh nyata film yang berhasil menggunakan pendekatan imersi budaya dengan gemilang: Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) karya Mouly Surya. Film yang mengambil latar di Pulau Sumba ini tidak sekadar menampilkan budaya sebagai elemen dekoratif. Ia menjadikannya sebagai tulang punggung naratif dan psikologis tokoh utama. Perhatikan detail-detail kecilnya. Kepercayaan Marapu tercermin dalam perlakuan Marlina terhadap jenazah suaminya. Kain tenun ikat Sumba Timur tidak hanya dikenakan, tetapi juga memiliki fungsi simbolis. Kalung berbentuk rahim, alat musik tradisional jungga, hingga pembagian film menjadi empat babak (Perampokan, Perjalanan, Pengakuan, Kelahiran) semuanya lahir dari riset budaya yang mendalam.
Mouly Surya dan timnya tidak bekerja dari Jakarta. Mereka tinggal di Sumba, bergaul dengan masyarakat, dan memahami bahwa budaya bukanlah koleksi fakta, melainkan cara hidup. Hasilnya? Marlina berhasil menciptakan subgenre baru yang disebut satay western. Film ini terpilih dalam program Directors’ Fortnight di Festival Film Cannes 2017, sekaligus mengubah cara pandang penonton internasional terhadap perempuan dan budaya Sumba. Keberhasilan ini membuktikan bahwa imersi budaya
Fungsi Lebih dari Sekadar Hiburan: Edukasi, Diplomasi, dan Refleksi Kritis
Saya ingin menekankan satu hal: pendekatan berbasis riset dan imersi budaya bukan hanya soal kualitas artistik, tetapi juga soal tanggung jawab etis. Film memiliki fungsi edukasi bagi masyarakat luas. Ketika sebuah film mengangkat tradisi Tungku Cu atau kepercayaan Marapu, ia sedang membawa penontonnya—yang mungkin tidak pernah menginjakkan kaki di Manggarai atau Sumba—untuk memahami cara berpikir, cara merasa, dan cara bertahan hidup komunitas lain. Jika representasinya dangkal, yang terbangun adalah stereotip. Jika representasinya dalam dan jujur, yang terbangun adalah empati. Dan empati adalah fondasi dari masyarakat yang beradab.
Lebih jauh lagi, film-film seperti Tungku Cu dan Marlina mengajak kita untuk mempertanyakan tradisi, bukan menerimanya secara buta. Naskah Tungku Cu secara eksplisit mengajukan pertanyaan- pertanyaan yang kerap luput dari diskusi publik: Sejauh mana seseorang boleh mempertanyakan adat yang telah mengakar? Apakah kepatuhan buta terhadap tradisi justru dapat melukai nilai-nilai kemanusiaan? Bagaimana seorang individu, terutama perempuan dalam sistem kekerabatan patriarkal, dapat menyuarakan subjektivitasnya tanpa harus keluar dari komunalitasnya? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab secara dogmatis. Mereka dijelajahi melalui perjalanan emosional tokoh utama yang terperangkap antara kewajiban adat dan hasrat pribadinya. Dengan demikian, film ini berfungsi sebagai cermin refleksi bukan hanya bagi masyarakat Manggarai, tetapi bagi publik Indonesia secara luas mengenai dampak budaya terhadap identitas dan kesehatan mental.
Kesimpulan: Tradisi Bukan Monumen Mati
Di akhir tulisannya dalam laporan kreatif, sebagai penulis naskah Tungku Cu, saya menyampaikan pesan yang menurut saya sangat penting: kearifan lokal tidak harus dipertahankan dengan cara mengkristalkannya menjadi monumen mati yang tak tersentuh kritik. Sebaliknya, tradisi justru hidup ketika ia terus dipertanyakan, dinegosiasikan, dan ditempatkan dalam pergumulan dengan nilai-nilai kontemporer seperti kesetaraan, hak asasi manusia, dan otonomi individu. Semangat inilah yang harus diwarisi oleh dunia perfilman Indonesia. Kita tidak perlu takut mengkritisi tradisi melalui film. Kita tidak perlu membungkus budaya dengan lapisan romantisme palsu agar terlihat “melestarikan”. Karena pelestarian yang sesungguhnya bukanlah pembekuan, melainkan dialog yang hidup antara masa lalu dan masa kini. Pendekatan berbasis riset, terutama imersi budaya, adalah alat untuk mencapai dialog itu. Ia membutuhkan waktu, energi, dan keberanian. Ia membutuhkan penulis naskah yang bersedia merasakan dinginnya malam di
kampung orang, belajar bahasa yang lidahnya asing, dan merasakan sendiri kebingungan saat dua nilai bertabrakan. Tapi hasilnya akan terasa: film yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga menggetarkan secara kultural dan manusiawi. Maka, kepada para sineas, mahasiswa film, dan penulis naskah muda Indonesia: beranilah keluar dari ruang nyaman. Jangan menulis budaya dari hasil pencarian Google Images. Pergilah, tinggallah, rasakanlah. Karena film yang lahir dari imersi tidak akan pernah sekadar tontonan. Ia akan menjadi pengalaman dan dalam pengalaman itulah perubahan sesungguhnya dimulai.
Penulis: Yuan Hadi Setiawan
Mahasiswa Jurusan Produksi Film dan Televisi, Institut Seni Indonesia Bali
Penulis admin
Admin adalah anak kampung yang punya kerinduan untuk mengubah dunia dengan cinta, kebenaran dan kebijaksanaan melalui goresan-goresan bernas. Setiap detik tulisan pasti bernas. Admin akan selalu mempublis tulisan yang menyejukkan dahaga para pembaca. Kiranya teman-teman pembaca selalu hadir dan betah untuk menikmati setiap suguhan pena detikbernas.

https://shorturl.fm/LJRI6
22 June 2026 12:07 pmhttps://shorturl.fm/oHKkr
20 June 2026 7:04 pmhttps://shorturl.fm/7pGni
19 June 2026 11:41 pmhttps://shorturl.fm/HWThH
19 June 2026 9:30 amhttps://shorturl.fm/Jm4Bl
18 June 2026 7:15 pmhttps://shorturl.fm/Dr8h7
17 June 2026 9:57 pmhttps://shorturl.fm/Dx2HZ
14 June 2026 4:09 amhttps://shorturl.fm/KffBa
9 June 2026 8:48 pmhttps://shorturl.fm/8S3Gq
9 June 2026 2:17 pmhttps://shorturl.fm/oL8D1
3 June 2026 3:18 am