Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » NEWS » Tinjauan Kritis Hakekat Manusia dan Realitas Pendidikan di Indonesia

Tinjauan Kritis Hakekat Manusia dan Realitas Pendidikan di Indonesia

  • account_circle Nasarius Fidin
  • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
  • visibility 1.443
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di era modern, pendidikan menjadi pergumulan bersama yang wajib diprioritaskan. Pendidikan kontekstual memampukan manusia mengasah dan mengembangkan segala potensi yang dimiliki. Manusia yang berpendidikan mampu merumuskan tujuan, proses dan arah pendidikan serta kehidupan yang diimpikan. Kesadaran ini mendorong pendidik berpikir bijak untuk mendidik peserta didik secara humanis dalam kaitannya dengan kurikulum yang ada.

Tulisan ini mengulas hakekat manusia dan relevansinya dalam dunia pendidikan modern Indonesia. Adapun konsep dasar yang dapat memahami judul tersebut yakni hakekat manusia dan pendidikan, hubungan manusia dalam dunia pendidikan dan catatan kritis serta solutif terkait pendidikan di Indonesia. Tujuannya, setiap peserta didik mampu menyadari hahekat manusia dan pendidikan, dan menghayatinya agar mampu mengembangkan dirinya secara holistik.

Hakekat Manusia

Hakekat manusia berkaitan dengan hal-hal paling fundamental yakni eksistensi manusia. Identitas manusia menerangkan siapakah manusia bagi Tuhan, dirinya sendiri, sesama dan semesta? Dari mana manusia datang/hadir dan kemana dia menuju. Bagaimana manusia mengembangkan hal-hal paling mendasar dalam kehidupannya.

Manusia merupakan ciptaan paling istimewah karena memiliki akal budi, hatinurani dan kehendak bebas. Dalam konteks pendidikan, selain yang sudah dijelaskan, manusia memiliki keyakinan dan kemampuan untuk mengembangkan diri secara sadar dan menyeluruh.
Manusia dapat ditinjau dari pelbagai sudut pandang yakni: pertama, dimensi sosial berfokus pada kesadaran dialogalitas manusia. Manusia berada bersama dengan manusia lainnya. Relasi dan komunikasi dapat menjembatani cara manusia hidup sebagai sesama dalam kebersamaan.

Kedua, dimensi moral berkaitan dengan kesadaran nilai-nilai moral. Moralitas manusia tidak terlepas dari penilaian benar atau salah dan baik atau buruk suatu tindakan manusia. Ketiga, dimensi spiritual mendorong manusia bergumul dengan dirinya sendiri. Manusia bermenung tentang eksistensi Allah dalam peziarahan hidupnya. Pergumulan relasi intim dengan Allah adalah cara manusia berada secara spiritual. Aku bergumul tentang Allah maka aku hadir sebagai pribadi yang hidup bukan karena diriku sendiri melainkan Allah ada dan mengubah cara manusia berpikir, bertindak, menjalani hidup dan menjadi teladan bagi sesama serta menemukan makna hidupnya. Keempat, dimensi kultural menerangkan manusia hidup dalam mal budaya. Nilai-nilai budaya tidak bertentangan dengan dimensi-dimensi lain. Sebaliknya, nilai-nilai budaya positif membantu perkembangan eksistensi manusia.

Hakekat Manusia dari Sudut Pandang Filosofis

Banyak filosof mencari tahu tentang hakekat manusia. Namun pada kesempatan ini, penulis membatasi diri mengulas hakekat manusia dari beberapa filsuf seperti Plato, Aristoteles, John Dwey, dan Jean Paul Sartre.

Pertama, Plato melihat manusia dalam konteks spiritualitas, bahwa manusia adalah mahluk spiritual. Selain itu, Plato berbicara tentang dunia ide. Segala sesuatu itu berawal dari ide daripada dunia nyata. Dunia nyata merupakan pancaran dari dunia ide. Misalnya, Ide tentang meja. Manusia membuat meja berdasarkan ide meja yang sudah ada secara apriori di dalam dirinya.

Kedua, Aristoteles membahas hakekat manusia dalam kaitannya dengan rasionalitas. Manusia adalah mahluk berasional. Segala sesuatu dikritisi dari sudut pandang akal budi. Logika menjadi peran penting dalam merasionalisasikan sesuatu yang tampak.

Ketiga, John Dewey memfokuskan diri pada realitas manusia dari pengalaman keseharian. Pengalaman menjadi domain yang dipakai Dwey untuk melihat perkembangan manusia.

Keempat, Jean-Paul Sartre mengagungkan kebebasan manusia. Ketika manusia mengekspresikan kebebasannya maka dia hadir secara nyata. Manusia bebas untuk menemukan dirinya. Kebebasan dan pilihan individu menjadi realitas yang patut disadari dalam proses perkembangan manusia itu sendiri.

Hakekat Pendidikan

Hakekat pendidikan merupakan proses menjadi yang sifatnya holistik. Manusia dimanusiakan secara menyeluruh agar manusia itu memiliki kualitas cara berpikir, berhati dan berkehendak. Memanusiakan manusia dimaksudkan agar manusia itu menjadi lebih mandiri, dewasa dan bertanggungjawab terhadap realitas. Proses menjadi berarti ada peralihan menuju. Segala potensi manusia dikembangkan untuk menjadi profesional di bidangnya, sehingga kualitas dan kemajuan hidup jadi lebih baik.

Hakekat pendidikan memiliki ciri-ciri yang perlu direfleksikan bersama. Ciri-ciri hakekat pendidikan yakni pertama, pendidikan itu disadari dan direncanakan untuk mencetak manusia-manusia cerdas dan berkualitas. Kedua, pendidikan berfokus pada pengembangan segala bakat dan kemampuan yang dimiliki. Ketiga, pendidikan tidak dibatasi. Setiap manusia memiliki hak dan kebebasan untuk berpendidikan. Keempat, pendidikan harus memberikan nilai guna untuk perkembangan pribadi.

Pendidikan memiliki fungsi yang jelas yakni terkait humanisasi, sosalisasi, transformasi sosial, liberasi, pengembangan potensi, seleksi dan alokasi. Fungsi pendidikan tersebut dipergumulkan dan dihidupi setiap manusia yang ingin berkembang dan maju.

Hubungan Hakekat Manusia dan Pendidikan

Hakekat manusia dapat menentukan arah perkembangan kepribadian seperti mengasah segala potensi dalam diri, berkolaborasi, menghayati nilai kebenaran, dan menentukan pilihan sesuai kodrat manusia itu sendiri.

Hakekat manusia menjadi hal yang substansial dalam mencapai tujuan, menentukan pilihan seperti memilih isi/materi pembelajaran, metode, evaluasi dan lingkungan belajar. Sedangkan pendidikan membawa manusia dalam proses menjadi seperti pengembangan potensi diri yang sifatnya holistik.

Hal yang sangat penting dalam menjembatani hubungan hakekat manusia dan pendidikan yakni sifatnya yang holistik (utuh/menyeluruh). Manusia dipahami secara menyeluruh. Pendidikan juga mengembangkan segala potensi dalam diri manusia itu secara utuh. Segala aspek kehidupan seperti kognitif, afektif, psikomotorik, sosial, spiritual dan aspek-aspek lainnya dikembangkan agar manusia mampu menemukan kesejatian dirinya.

Catatan Kritis dan Solutif

Pendidikan Indonesia perlu dikritisi sebagai bentuk kecintaan dan tanggung jawab bersama demi mencerdaskan anak-anak bangsa. Realitas pendidikan dewasa ini lebih mengedepankan sesuatu yang sifatnya parsial seperti lebih menekankan satu atau beberapa aspek tertentu dan hal itu kadang mengabaikan aspek-aspek lainnya.

Pendidikan terlalu menekankan unsur kognitif-oriented sedangkan aspek lain seperti afektif, psikomotorik, sosial, spiritual dan sebagainya belum diasah secara maksimal. Tuntutan kogitif atau nilai akademis menjadi syarat utama untuk menentukan kelulusan yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan manusia secara menyeluruh. Padahal aspek lainnya sangat berperan penting dalam pembentukan jati diri manusia itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari konsekuensinya dalam realitas kehidupan sehari-hari.


Banyak fakta berbicara untuk membenarkan hal tersebut. Peserta didik (remaja) sering kedapatan minum minuman keras, tawuran antar remaja, premanisme, dan brutalisme. Persoalan-persoalan tersebut merupakan realitas yang membuktikan krisis identitas, karakter rapuh, ketidakseimbangan aspek-aspek seperti rasionalitas, mentalitas dan kehendak bebas.

Untuk mengatasi persoalan-persoalan di atas, manusia harus keluar dari ketertutupan diri. Pendidikan dianjurkan untuk semakin dialogis, kontekstual, berbasis karakter, bersifat holistik (IQ, EQ, SQ), inovatif, kreatif, inspiratif dan mengedepankan kemanusiaan. Pendidikan meminimalisir metode yang sifatnya guru sentris. Dengan demikian, pendidikan itu semakin utuh dalam memanusiakan manusia secara holistik.

Oleh: Nasarius Fidin. Penulis adalah Mahasiswa Magister Managemen Pendidikan.

Sumber: Pemikiran Ibu Dr. Ika Pratiwi, S.Pd, MM Terkait Landasan Pendidikan

  • Penulis: Nasarius Fidin

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perjuangan; Seni Menata Masa Depan yang Indah

    Perjuangan; Seni Menata Masa Depan yang Indah

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 253
    • 0Komentar

    Hidup adalah perjuangan. Untuk menggapai kesuksesan, kita wajib mengenal keseluruhan diri baik kelebihan maupun keterbatasan. Dalam pengenalan diri, kita diibaratkan sebuah gelas kosong seperti yang telah digagas oleh seorang pemikir, John Locke. Ketika gelas kosong itu diisi dengan air sampai penuh, maka airnya itu akan berguna bagi siapa pun yang membutuhkannya. Demikian hidup ini, ketika […]

  • Jiwa Pengabdian dan Loyalitas Yakob Kareth Sebagai Sekda Papua Barat Daya

    Jiwa Pengabdian dan Loyalitas Yakob Kareth Sebagai Sekda Papua Barat Daya

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 91
    • 0Komentar

    Dalam dunia birokrasi, loyalitas adalah nilai yang sangat penting. Loyalitas bukan sekadar patuh kepada atasan, tetapi lebih dalam dari itu: setia kepada tugas, bertanggung jawab terhadap amanah, dan konsisten melayani masyarakat dengan hati yang tulus. Nilai inilah yang tampak melekat erat dalam diri Yakob Kareth, Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat Daya. Perjalanan seorang birokrat tidak […]

  • Mampau - Ulu Maor Satar Mese Barat(Merawat Asa yang sempat pudar: Kisah hidup saya dari lokasi proyek ke ruang kelas)

    Mampau – Ulu Maor Satar Mese Barat: Merawat Asa yang Sempat Pudar

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 389
    • 2Komentar

    Bagi saya, hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang. Ada perjalanan panjang mengejar kebenaran, ada juga yang mengejar kebahagiaan, dan ada pula yang mencari kedamaian. Selain itu, perjalanan panjang juga karena ketersestan di mana seseorang sudah kehilangan arah hidup, karena kekecewaan, dan karena keputusasaan. Dan, perjalanan karena kehilangan harapan inilah yang saya angkat dalam kisah ini. […]

  • Membangun Rumah Pembelajar

    Membangun Rumah Pembelajar

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 461
    • 0Komentar

    Dunia kerja masa depan tidak lagi memberikan penghargaan hanya pada “apa yang Anda ketahui” (pengetahuan tekstual), melainkan pada “apa yang bisa Anda lakukan dengan pengetahuan tersebut”. Jika rumah hanya menjadi tempat anak beristirahat dari hafalan sekolah, kita sebenarnya sedang menciptakan generasi yang memiliki ijazah tapi kehilangan kompas kehidupan. Membicarakan rumah sebagai pusat belajar adalah upaya […]

  • Sosok Sederhada Yakob Kareth Cermin Kepribadian Birokrat Teladan

    Sosok Sederhada Yakob Kareth: Cermin Kepribadian Birokrat Teladan

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 76
    • 0Komentar

    Di tengah dunia birokrasi yang sering dipandang penuh formalitas dan jarak antara pejabat dengan masyarakat, sosok Yakob Kareth hadir dengan karakter yang berbeda. Sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat Daya, ia dikenal bukan hanya karena pengalaman dan tanggung jawab besar yang diembannya, tetapi juga karena kesederhanaan yang melekat erat dalam dirinya. Nilai ini menjadi kekuatan […]

  • Metodologi Penelitian Pendidikan; Membongkar Realitas Tersembunyi di Tengah Budaya Instan

    Metodologi Penelitian Pendidikan; Membongkar Realitas Tersembunyi di Tengah Budaya Instan

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 1.651
    • 0Komentar

    Mencintai masa depan generasi Z tidak dengan kata indah semata, tetapi mengupas persoalan-persoalan bahkan yang luput dari pisau bedah peneliti. Dalam dunia pendidikan, menjadi guru adalah menjadi peneliti realitas secara menyeluruh. Aktivitas penelitian menjadi pilihan hidup sekaligus kewajiban setiap pendidik. Mengapa? Di era modern ini, dunia sudah dan sedang terjebak dalam budaya instan. Persaingan teknologi […]

expand_less