Metodologi Penelitian Pendidikan; Membongkar Realitas Tersembunyi di Tengah Budaya Instan
- account_circle admin
- calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
- visibility 1.649
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto penulis, Nasarius Fidin, Mahasiswa Magister Managemen Pendidikan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Mencintai masa depan generasi Z tidak dengan kata indah semata, tetapi mengupas persoalan-persoalan bahkan yang luput dari pisau bedah peneliti. Dalam dunia pendidikan, menjadi guru adalah menjadi peneliti realitas secara menyeluruh. Aktivitas penelitian menjadi pilihan hidup sekaligus kewajiban setiap pendidik. Mengapa?
Di era modern ini, dunia sudah dan sedang terjebak dalam budaya instan. Persaingan teknologi sangat cepat dan dasyat. Manusia dikendalikan oleh hawa nafsu yang tak bertuan. Cara hidup dalam cinta dan kebenaran sudah dikuasai oleh berbagai kecendrungan sesaat yang menyesatkan. Manusia lupa diri oleh karena kencanduan gadget/hp.
Gaya hidup serba mudah dan cepat saji ini membuat manusia mengalihkan fokus dan orientasi diri pada perubahan zaman yang tidak dikritisi dengan rasionalitas dan hatinurani. Pilihan untuk menikmati kesenangan sesaat lebih nikmat daripada membangun hidup dari kerja keras dan cerdas. Daya juang pun dilemahkan sehingga manusia sulit untuk bergumul dan meneliti realitas kehidupan dengan tujuan luhur yakni mengubah peradaban dunia menuju generasi emas.
Kemajuan Teknologi: Jebakan Budaya Instan (?)
Kemajuan teknologi bukanlah hal tabu, bukan pula pion dari budaya instan. Persaingan teknologi merupakan sesuatu yang sangat positif karena hal itu menjadi bukti kecerdasan manusia dalam pengembangan segala potensi, bakat dan kemampuan yang dimiliki.
Perkembangan teknologi tidak dimaksudkan untuk meninabobokan ataupun membodohi manusia. Itu adalah sarana atau media yang membantu manusia menemukan kesejatian dirinya.
Filsuf Martin Heidegger menggagas teknologi sebagai metode substansial untuk menyingkapkan keseluruhan keberadaan manusia dan dunia. Teknologi berperan dalam proses perubahan kehidupan dan kebenaran secara menyeluruh. Namun di era modern, muncul pelbagai persoalan yang secara filosofis dapat menghancurkan peradapan dunia tatkala itu tidak dikritisi dan dipertanggungjawabkan secara rasional dan terukur.
Heidegger memakai istilah gestell (kerangka pembingkaian) untuk mengukapkan hal-hal paling esensial terkait teknologi modern tersebut. Bahwa teknologi dijadikan sebagai obyek yang digunakan dengan cara berpikir konsumerisme. Manusia terjebak dalam pola pemikiran instrumentalitas yang berdampak pada absennya ruang gerak rasionalitas dan tumpulnya mentalitas. Bahaya eksistensialis semakin menguasai peziarahan manusia menuju realitas kebenaran dan keberadaan hidup yang filosofis. Manusia menjadi lupa diri, dininabobokan oleh kecanduan dan rutinitas teknologis yang hampa (Heidegger, M, 1977).
Hal senada juga digagas oleh filsuf Don Idhe terkait teknologi tersebut. Bahwa teknologi merupakan media penggerak manusia untuk berada di dalam dunia; mengalami dan memahaminya. Manusia hadir di sana untuk mempersepsikan dunia dan keberadaan manusia itu sendiri.
Idhe menjelaskan teknologi mampu mengalihkan cara pandang manusia terkait realitas kehidupan, ilmu pengetahuan dan relasi-komunikasi antar sesama. Teknologi dipandang sebagai “jalan-tengah” atau disebut pemediasi antara manusia dengan dunia. Manusia dibantu untuk mencapai tujuan yang komprehensif. Kehadiran teknologi memudahkan manusia untuk meluaskan cara berpikir tentang realitas.
Idhe menerangkan keterhubungan antara konsep pengetahuan dengan instrumen teknologi. Ilmu pengetahuan akan terwujud secara nyata dan jelas, tatkala instrumen teknologi beperan penting di dalamnya. Ketergantungan ilmu pengetahuan terhadap teknologi tidak dipandang sebagai sebuah ilusi. Artinya, teknologi berperan sebagai media untuk membantu rasionalitas dalam perwujudan konsep pengetahuan, dan hal itu dapat mengubah persepsi manusia tentang dunia dan keberadaannya (Idhe, D, 1990).
Pertanyaannya, mengapa manusia semakin mengalami kemunduran di tengah kemajuan teknologi? Sesuatu yang sangat ironis, bukan? Persoalannya terletak pada kesadaran, mindset dan mentalitas manusia itu sendiri. Manusia belum mampu memahami dan memanfaatkan teknologi dengan penuh kesadaran, kebijaksanaan, dan penguasaan diri.
Pendidik: Peneliti yang Mencintai Masa Depan Bangsa
Pendidik merupakan peneliti yang memiliki cinta untuk pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) menuju generasi emas. Pendidik tidak hanya menjadi ahli di bidang pengajaran di kelas, tetapi menjadi peneliti yang bergumul dan meneliti realitas pendidikan secara komprehensif.
Aktivitas meneliti menjadi panggilan dan pilihan substansial pendidik di dunia pendidikan. Pendidik yang disebut peneliti memiliki semangat, kepekaan dan responsif terhadap perubahan realitas dan berjuang untuk memberikan solusi pembangunan pendidikan yang berkualitas. Penelitian tindakan pendidikan di lingkungan sekolah menjadi titik fokus dalam penulisan karya produktif, inovatif dan kreatif pendidik.
KI Hadjar Dewantara menggagas filsafat pendidikan sebagai pedoman dan penuntun yang membantu peserta didik untuk mengembangkan segala potensi, bakat-bakat dan kemampuan yang dimiliki. Pemikiran Dewantara memberikan wawasan yang luas dan kesadaran mendalam bagi pendidik-peneliti mengarahkan generasi muda, tidak hanya melalui pembelajaran di kelas. Penyampaian pengetahuan dan pembentukkan karakter menjadi domain dalam dunia pendidikan. Pendidik meneliti segala persoalan pendidikan menjadi bagian dari perwujudan cinta masa depan bangsa (Dewantara, KI.H, 1962).
Tugas seorang pendidik adalah menjadi peneliti aktivitas pendidikan baik di dalam maupun di luar kelas. Pendidik tidak hanya menyalurkan pengetahuan tetapi juga menjadi arsitektur peradaban dan kaum intelektual yang punya semangat untuk menantang batas kesulitan dan persoalan pendidikan itu.
Dunia pendidikan menjadi wadah penelitian dengan pelbagai pertanyaan transformatif dan filosofis. Dalam filosofi penelitian, Pendidik-peneliti selalu mempertanyakan kenyamanan. Kenyamanan yang sejati adalah ketika dia tidak nyaman dengan kenyamanan yang ada. Dia bergumul, bertanya, dan membangun solusi di balik setiap realitas persoalan dalam dunia pendidikan.
Filsuf Paulo Freire menekankan filosofi pendidikan dialogis yang berkelanjutan. Pendidik-peneliti berdialog dengan realitas. Pertanyaan filosofis tentang proses pembelajaran dan pendidikan adalah senjata ampuh dalam proses penelitian tersebut.
Penelitian konstruktif berbasis cinta akan masa depan. Artinya, pendidik tidak hanya meneliti pendidikan, tetapi subjek pendidikan itu sendiri yakni semua elemen seperti peserta didik dan sebagainya (Freire, P, 1970). Komitmen etis seorang pendidik-peneliti yakni mengubah cara berpikir dan mentalitas peserta didik dalam rangka perwujudan tujuan Pendidikan itu sendiri yakni memanusiakan manusia seperti yang telah digagas oleh Bung Karno.
Pendidik-Peneliti melakukan aktivitas penelitian untuk me-rekonstruksi-kan kualitas dan kecerdasan peserta didik. Pertanyaannya, bagaimana metodologi penelitian pendidikan yang sangat filosofis dan transformatif di era teknologi?
Metodologi Penelitian Pendidikan
Pakar dosen matakuliah metodologi penelitian pendidikan, Dr. Ir. Uli Wildan Nuryanto, ST, MM menjelaskan secara menyeluruh terkait konsep metodologi penelitian tersebut khususnya di bidang pendidikan. Metode penelitian merupakan salah satu hal yang sangat fundamental dalam membongkar realitas persoalan dan tantangan dalam lingkungan pendidikan. Hakekat penelitian pendidikan bersifat sistematis, terkontrol, berbasis data obyektif, kritis, analitis, dan memiliki tujuan utama.
Metodologi penenelitian pendidikan berkaitan erat dengan filsafat ilmu, yang merupakan fondasi kuat yang dapat menjamin kualitas dan relevansinya dengan realitas pendidikan. Ada tiga pilar utama yang wajib dipahami pendidik-peneliti yakni pemahaman ontologis (sesuatu yang paling hakiki/fundamental), epistemologis (bagaimana memperoleh ilmu pengetahuan), dan aksiologis (manfaat atau tujuan) untuk menentukan cara pandang dan metode yang efektif dalam penelitian tersebut.
Selain itu, metodologi penelitian juga bersifat multidisipliner khususnya berkaitan dengan diskusi kritis yang dapat meluaskan cara berpikir tentang karakter pendidikan sebagai disiplin hibrida. Kemudian, pendidik-peneliti mengeksplorasikan secara kritis dan etis terkait pendekatan risetnya.
Hal yang sangat penting dalam metodologi penelitian pendidikan yakni perumusan masalah dan research gap. Pendidik-peneliti mengindentifikasi fenomena dunia pendidikan, menemukan kesenjangan penelitian dan menyusun rumusan masalah secara kritis, komprehensif dan sistematis. Perumusan masalah dan research gap dipahami sebagai domain penelitian efektif dan bermutu.
Untuk memahami fondasi ilmiah dalam metodologi penelitian pendidikan, kajian pustaka itu menjadi bagian integral agar jurnal tersebut berkualitas. Pendidik-peneliti dapat membangun konsep berpikir ilmiah berbasis data empiris, menemukan gap (celah penelitian) sebagai peluang inovasi dan pengembangan teori yang otentik dan menjadi sumbangan berpikir baru untuk perkembangan pengetahuan.
Selain itu, pendekatan sistematis bermaksud untuk memperkuat validitas kajian, membangun kerangka konseptual yang komprehensif, dan memvisualisasikan hubungan antar variabel secara sistematis dan terstruktur. Sebab penelitian berkualitas dimulai dari konsep berpikir yang cerdas dan metodologi yang tepat dan efektif.
Pendidik-peneliti berusaha mengetahui desain penelitian kuantitatif dengan tujuan agar fokus utamanya menjawab persoalan-persoalan pendidikan yang relevan, obyektif dan terukur. Esensi desain dimaksudkan untuk menentukan validitas dan reabilitas hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pendidik-peneliti memahami perbedaan metode dan desain agar temuan tersebut valid dan aplikatif. Oleh karena itu, metode utama dalam penelitian tersebut yakni survei dan eksperimen.
Selain kuantiatif, pendidik-peneliti juga memahami desain penelitian kualitatif dengan maksud untuk memahami sudut pandang dan dinamika manajemen. Kualitas data seperti validitas, kredibilitas dan ketelitian proses sangat menentukan keberhasilan dalam penelitian tersebut. Selanjutnya, pendidik-peneliti merancang proposal, memilih metode yang paling tepat dan mengasah teknik wawancara yang berkualitas serta meningkatkan kemampuan analisis data kualitatif.
Setelah menentukan desain penelitian, pendidik-peneliti memahami variabel dalam penelitian pendidikan. Variabel penelitian merupakan atribut, sifat, atau nilai suatu obyek yang diteliti. Variabel menjadi kunci dalam analisis dan pengukuran untuk mengkaji hipotesis secara terukur dan sistematis, menghindari bias subjektif, dan menentukan titik fokus serta batasan penelitian. Variabel penelitian memiliki beberapa jenis yakni variabel independen (bebas), dependen (terikat), dan moderasi, mediasi.
Selain unsur-unsur di atas, pendidik-peneliti mengetahui State of The Art (SoTA) yang berkaitan dengan penelitian terbaru, teknologi terkini, teori dan model yang diakui. Dalam penelitian, pendidik-peneliti mengungkapkan pemahamannya secara komprehensif terkait topik yang diteliti.
Unsur yang penting juga berkaitan dengan riset gap yakni celah atau kekuarangan pengetahuan terkait topik penelitian yang belum dijawab dalam penelitian sebelumnya. Sedangkan novelty berkaitan dengan kebaruan; sumbangan pengetahuan yang otentik terhadap pengetahuan yang ada (Basrowi dan Nuryanto, U.W, 2024.
Singkatnya, hal yang paling penting dalam metodologi penelitian pendidikan yakni penentuan locus penelitian, topik masalah yang melatarbelakangi penelitian, State of The Art (SoTA), menemukan kerangka berpikir, menentukan hipotesis langsung dan tidak langsung, Riset Gap dan Novelty. Pendidik-peneliti wajib memahami dan menguasai poin-poin penting ini dalam proses penelitian ilmiah (Elfryanto dkk. 2022).
Kesimpulan
Menjadi pendidik-peneliti adalah panggilan mulia yang dapat membuka lorong gelap dan sunyi. Dunia pendidikan dijadikan domain, tempat pendidik-peneliti belajar menguasai dan mengubah diri dalam rangka mengubah peradaban dunia. Dia hadir untuk memanusiakan manusia baik melalui pembelajaran di kelas, keteladanan, maupun penelitian pendidikan.
Di dunia teknologi yang dipenuhi dengan persaingan, pendidik-peneliti bergumul dengan realitas persoalan dan tantangan dalam dunia pendidikan, lalu membangun transfomasi kehidupan yang cerdas, berkarakter, berkualitas dan berdaya cinta yang dasyat bagi kehidupan generasi muda.
Untuk mewujudkan hal tersebut dengan baik, benar dan indah, pendidik-peneliti menerapkan metodologi penelitian pendidikan untuk membongkar realitas tersembunyi. Pendidik-peneliti membangun karakter peserta didik tidak melalui budaya instan tetapi kerja keras dan cerdas, agar tatanan dunia semakin adil dan beradab.
Oleh: Nasarius Fidin
Penulis adalah mahasiswa Magister Managemen Pendidikan.
Email: nasariusfidin88.nf@gmail.com
Penulis admin
Admin adalah anak kampung yang punya kerinduan untuk mengubah dunia dengan cinta, kebenaran dan kebijaksanaan melalui goresan-goresan bernas. Setiap detik tulisan pasti bernas. Admin akan selalu mempublis tulisan yang menyejukkan dahaga para pembaca. Kiranya teman-teman pembaca selalu hadir dan betah untuk menikmati setiap suguhan pena detikbernas.

Saat ini belum ada komentar