Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » NEWS » Rekonstruksi Model Kedisiplinan Siswa Terkait Rendahnya Kualitas Lulusan

Rekonstruksi Model Kedisiplinan Siswa Terkait Rendahnya Kualitas Lulusan

  • account_circle admin
  • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
  • visibility 1.169
  • comment 4 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di tengah persaingan global, peserta didik lebih cendrung melakukan hal-hal yang tidak penting dari pada upaya pengembangan kualitas diri. Kecanduan penggunaan hp/gadget di luar batas nalar yang membuat siswa tersebut lupa mendisiplinkan diri. Hal itu dilakukannya dengan tahu dan mau. Dia tahu bahwa sikap tidak disiplin dapat merugikan diri sendiri dan masa depannya, tetapi dia tidak mau tahu. Dampaknya sangat jelas yakni rendahnya kualitas lulusan atau prestasi belajar siswa di satuan pendidikan.

Realitas sikap indisipliner menjadi masalah mendesak di tengah kemajuan teknologi. Pertanyaannya, bagaimana merekonstruksi model kedisiplinan terkait rendahnya kualitas lulusan siswa di satuan pendidikan? Ada beberapa hal yang akan dipergumulkan secara bersama untuk membangun kembali model kedisiplinan yakni sekilas tentang kualitas pendidikan Indonesia, metode dialogal-solutif dan rekonstruksi model kedisiplinan dengan tujuan anak-anak Indonesia menjadikan kedisiplinan sebagai metode yang sangat efektif dalam upaya peningkatan kualitas kecerdasan, karakter dan daya saing global.

Kualitas Pendidikan Indonesia

Pendidikan Indonesia merupakan realitas yang menjadi perhatian bersama dalam mencerdaskan anak-anak bangsa menuju generasi emas. Pendidikan menjadi fondasi utama untuk mengasah dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM) secara adil dan menyeluruh. Ki Hajar Dewantara dalam filsafatnya menggarisbawahi pendidikan sebagai tuntunan yang memerdekakan mindset, mentalitas dan kehendak bebas manusia.

Kemajuan suatu negara menjadi nyata tatkala kualitas pendidikan terungkap dalam peningkatan sumber daya manusia. Dengan kata lain, kualitas pendidikan berdampak pada kemajuan suatu negara dalam setiap aspek kehidupan (Dzaky Satria dkk., 2025). Namun realitas pendidikan Indonesia sangat stagnan dan inkonsistensi serta tidak menyeluruh hingga di pelosok tanah air. Hal itu disebabkan rendahnya kualitas kedisiplinan yang berdampak negatif terhadap prestasi belajar, kualitas lulusan dan kesiapan kerja di dunia usaha dan dunia industri.

Dalam pringkat global, lembaga seperti World Population Review mengungkapkan kualitas pendidikan Indonesia menempati peringkat ke 54 hingga 67 dari 80 negara. Selain itu, kualitas kemampuan siswa Indonesia masih jauh dari harapan tatkala dibandingkan dengan negara anggota The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) seperti yang diberitakan media beritasatu.

Journal of golden generation education menyampaikan data kualitas pendidikan Indonesia berdasarkan hasil studi internasional (PISA). Bahwa Indonesia berada pada posisi terendah dalam hal kemampuan literasi, numerasi dan sains yang berpengaruh terhadap kualitas lulusan sehingga tidak mampu bersikap kritis dan berdaya saing global.

Metode Dialogal-Solutif

Dialog-solutif merupakan metode yang sangat kontekstual dalam merekonstruksikan model kedisiplinan agar anak-anak bangsa Indonesia mampu mengenal eksistensi dirinya. Kekerasan bukan solusi utama dalam memerangi sikap indisipliner siswa.

Pendidikan dialogis membuka ruang kesadaran siswa untuk menyadari keterbatasannya, beradaptasi dan membuat perubahan yakni mewujudkan kedisiplinan dalam banyak hal. Pakar dosen matakuliah filsafat ilmu, Dr. Hj. Umalihayati, S.ST,Keb, S.KM, M.Pd, menyampaikan secara gamblang filsafat Socrates tentang pencarian kebenaran melalui dialog dan pertanyaan kritis (metode dialektika) untuk menemukan hakekat pengetahuan.

Manusia dan moral yang digagas Socrates bermaksud untuk mengarahkan manusia pada prilaku baik. Tindakan baik dipengaruhi oleh cara berpikir bijak. Ada semboyan terkenal hingga sekarang dari Sokrates yakni know your self (kenalilah dirimu). Hal itu disampaikannya agar manusia mengenal keterbatasannya.

Socrates mengajarkan kesadaran menjadi landasan utama untuk mencapai kebijaksanaan. Bahwa manusia itu belum tahu apa-apa tentang segala sesuatu. Oleh karenanya, dia mulai belajar untuk mencari kebenaran.

Metode dialektika Socrates sangat kontekstual dalam membedah persoalan ketidakdisiplinan siswa di satuan pendidikan. Pertanyaan kritis dalam dialog dengan pelaku bermaksud untuk mencari akar atau penyebab rendahnya kualitas kedisiplinan tersebut.

Metode dialogal-solutif mengarahkan siswa yang tidak disiplin untuk mengenal diri secara komprehensif khususnya keterbatasan, ketidaktahuan dan kelemahan dirinya. Kedisiplinan merupakan bagian dari nilai kebijaksanaan dan kebenaran.

Tatkala metode dialogal-solutif diterapkan, peserta didik menyadari sikap tidak disiplin merupakan sesuatu yang buruk secara moral. Maka dari itu, dia mengubah mindset dan mentalitas dirinya sebagai bentuk rekonstruksi model kedisiplinan.

Namun Dr. Umalihayati menerangkan kedisiplinan bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan melainkan proses tanya jawab untuk menemukan kebenaran. Siswa perlu diajak untuk memahami pentingnya kedisiplinan bagi pertumbuhan diri mereka. Hal itu diungkapkannya saat perkuliahan atau diskusi tentang matakuliah Filsafat ilmu.

Rekonstruksi Model Kedisiplinan

Dialog-solutif sangat cocok untuk menata ulang model kedisiplinan siswa di lingkungan sekolah. Ada beberapa hal yang dijadikan bahan pergumulan bersama dalam perwujudan model kedisiplinan yakni:

Pertama, pergumulan kesadaran tentang eksistensi diri. Ketika manusia sadar bahwa dia memiliki keterbatasan manusiawinya, maka dia berproses dalam pembentukan dan pengembangan diri. Dia sadar maka dia ada secara eksistensial. Kesadarannya menandakan bahwa manusia itu ingin keluar dari gua keterbatasannya.

Kedua, berfilsafat tentang “aktivitas menuju”. Herakleitos dalam filsafat proses menjelaskan realitas merupakan proses menjadi, bergerak dan berubah secara konstan ke dalam bentuk lain. Hal senada juga disampaikan Sartre atau Camus dalam filsafat eksistensialisme, menerangkan manusia bergerak menuju atau menjadi diri sendiri yang otentik dari dunia yang nir makna.

Ketiga, bertindak segera untuk menata dan membangun kembali model kedisiplinan. Perwujudan nilai kedisplinan bukan sekadar teori pajangan di kepala, melainkan perwujudan ilmu pengetahuan yang dimiliki dalam praksis hidup setiap hari. Jangan menunda atau menunggu sempurna. Lakukan dengan segera! Ketidakdisiplinan merupakan kegagalan pertama yang dialami tatkala manusia menuju diri otentik. Oleh karena itu, rekonstruksi model kedisiplinan menjadi tindakan mendesak demi perubahan menuju.

Keempat, jangan menoleh, tatap dan berjalan maju. Kedisiplinan akan terwujud dengan konsisten tatkala manusia tidak menoleh ke belakang. Kita tidak bisa kembali dan hidup di masa lalu. Masa lalu dengan segala persoalannya adalah masa lalu. Kita berefleksi untuk menimba nilai-nilai positifnya dan itu dijadikan sebagai pembelajaran untuk perubahan diri secara utuh di masa yang akan datang.

Kesimpulan

Setiap warga Indonesia berjalan bersama untuk mencerdaskan kehidupan generasi muda. Persoalan rendahnya mutu lulusan bisa diatasi dengan efektif tatkala masyarakat memiliki ideologi yang sama dalam rekonstruksi model kedisiplinan siswa. Dialog-solutif menjadi metode kontekstual untuk menyelami ruang kesadaran siswa agar mampu mengenal segala keterbatasan diri, bertindak segera untuk membangun kembali model kedisiplinan secara konsisten dan penuh komitmen.

Kiranya tulisan ini menjadi inspirasi agar para peserta didik Indonesia beradaptasi dan belajar banyak hal untuk menata masa depannya yang gemilang. Hal itu akan terwujud tatkala siswa/i itu memulainya dari diri sendiri. Karena diri sendiri adalah tuan atas hidup dan masa depannya sendiri.

Penulis: Nasarius Fidin (Mahasiswa Magister Managemen Pendidikan)

Email: nasariusfidin88.nf@gmail.com

Penulis

Admin adalah anak kampung yang punya kerinduan untuk mengubah dunia dengan cinta, kebenaran dan kebijaksanaan melalui goresan-goresan bernas. Setiap detik tulisan pasti bernas. Admin akan selalu mempublis tulisan yang menyejukkan dahaga para pembaca. Kiranya teman-teman pembaca selalu hadir dan betah untuk menikmati setiap suguhan pena detikbernas.

Komentar (4)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gereja Paroki Todo Gelar Prosesi Patung Bunda Maria dari Niang Menuju Gereja

    Gereja Paroki Todo Gelar Prosesi Patung Bunda Maria dari Niang Menuju Gereja

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 691
    • 0Komentar

    Detikbernas.com – Perarakan patung Bunda Maria menjadi tradisi umat Katolik pada umumnya. Umat paroki Todo menggelar prosesi patung Bunda Maria itu secara berbeda mulai dari Niang (rumah kerucut) menuju gereja paroki, Jumat, (01/05/2026). Kampung adat yang menyimpan jejak leluhur itu dijadikan titik awal prosesi tersebut. Seluruh umat paroki melangkah bersama sebagai simbol peziarahan spiritual yang […]

  • Menimba Oase Dari Drs Yakob Kareth, M.Si Sang Birokrat Ulung Dari Tanah Papua Surga Kecil Yang Jatuh ke Bumi

    Menimba Oase Dari Drs. Yakob Kareth, M.Si Sang Birokrat Ulung Dari Tanah Papua Surga Kecil Yang Jatuh ke Bumi

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Nasarius Fidin
    • visibility 710
    • 0Komentar

    Meniti karier, khususnya di dunia birokrasi, bukanlah perjalanan singkat yang dapat diraih dalam semalam. Karier yang baik dibangun melalui proses panjang, kerja keras, ketekunan, dan komitmen yang terus dijaga dari waktu ke waktu. Banyak orang melihat jabatan tinggi sebagai puncak keberhasilan, tetapi sering kali lupa bahwa di balik jabatan itu ada perjalanan penuh tantangan, pengorbanan, […]

  • Kita Lulus Sekolah, Tapi Gagal Lulus Jadi Manusia

    Kita Lulus Sekolah, Tapi Gagal Lulus Jadi Manusia

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 282
    • 0Komentar

    Kelulusan adalah moment yang dinantikan seseorang pada fase titik terakhir. Dulu waktu upacara, kita semua bangga, senang, dan bahagia. Toga dipakai, ijazah dipegang, orang tuan tepuk tangan meriah. Katanya kita sudah “lulus”. Tapi coba kita amati bersama di sekeliling kita sekarang, beberapa banyak sarjana yang tidak mau antre? Berapa banyak anak mendapat nilai tinggi dengan […]

  • Juara FLS3N Manggarai, Dua Sekolah Ini Melaju ke Tingkat Propinsi NTT

    Juara FLS3N Manggarai, Dua Sekolah Ini Melaju ke Tingkat Propinsi NTT

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 937
    • 0Komentar

    Juara FLS3N tingkat kabupaten Manggarai, SMKN 1 Wae Ri’i dan SMKN 1 Satarmese siap melaju ke tingkat Propinsi NTT. Pasalnya, kedua sekolah tersebut berhasil menjuarai berbagai jenis lomba bertajuk Merdeka Berkreasi, Talenta Seni Menginspirasi digelar di SMKN 1 Wae Ri’i, Rabu, (29/04/2026). Kepala dinas cabang wilayah enam yang diwakili Kasubag Handrianus Gampung, M.Sc menyampaikan, kegiatan […]

  • Mantan Guru Turun Gunung! Yosefus Durhaman Siap Sulap Todo Jadi Desa Maju

    Mantan Guru Turun Gunung! Yosefus Durhaman Siap Sulap Todo Jadi Desa Maju

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 599
    • 18Komentar

    Detikbernas.com, Todo – Mantan Guru SD Impres Wejang Raci, Yosefus Durhaman turun gunung untuk mendaftarkan diri sebagai calon kepala desa Todo periode 2026-2034. Dalam pergelaran pilkades tersebut, ia menegaskan dirinya siap bertarung dengan menjunjung tinggi rasionalitas dan hatinurani, Kamis, (28/05 2026). Yosefus Durhaman mengajak seluruh masyarakat Desa Todo untuk tetap bahu-membahu dalam berbagai urusan kehidupan […]

  • Gagal panen menjadi momok yang menakutkan para petani. Beberapa tahun terakhir, bencana gagal panen menimbulkan banyak pertanyaan. Pasalnya, para petani sangat profesional dalam bertani, khususnya dalam mengolah tanah untuk berbagai tanaman seperti padi, pisang, dan sebagainya. Pertanyaannya, mengapa terjadi demikian? Gagal panen disebabkan oleh pelbagai faktor. Selain cara bertani konvensional juga faktor alam seperti musim tak menentu. Beberapa tahun terakhir, musim kemerau panjang berdampak pada menurun drastisnya penghasilan perekonomian di wilayah Manggarai. Persoalan gagal panen menjadi duka bersama khususnya para petani yang dapat mengguncang kestabilan kesejahteraan.

    Realitas Gagal Panen Di Manggarai: Bencana Rumah Tangga dan Ironi Transformasi Ekonomi Berkelanjutan

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 249
    • 1Komentar

    Gagal panen menjadi momok yang menakutkan para petani. Beberapa tahun terakhir, bencana gagal panen menimbulkan banyak pertanyaan. Pasalnya, para petani sangat profesional dalam bertani, khususnya dalam mengolah tanah untuk berbagai tanaman seperti padi, pisang, dan sebagainya. Pertanyaannya, mengapa terjadi demikian? Gagal panen disebabkan oleh pelbagai faktor. Selain cara bertani konvensional juga faktor alam seperti musim […]

expand_less