Perpisahan dengan Peserta Didik Kelas XII, Pimpinan SMKN 1 Satarmese, Berotak Global Berhati Budaya Lokal
- account_circle Nasarius Fidin
- calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
- visibility 1.378
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto para peserta didik kelas XII saat ujian praktek PJOK di lapangan bola sepak.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wae Cepang – Seusai tiga tahun berada bersama, SMKN 1 Satarmese mengadakan acara perpisahan dengan para peserta didik kelas XII yang akan segera melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi atau di dunia usaha dan industri. Acara tersebut dilakukan di Aula Kapela Stasi Sta. Maria Stella Maris Wae Cepang, Senin, (13/04/2026).
Kepala SMKN 1 Satarmese, Fransiskus Jehoda, S.Pd menyampaikan buah refleksinya bersama para siswa/siswi kelas XII selama tiga tahun. Bahwa pertualangan pendidikan dalam ideologi yang sama di SMKN 1 Satarmese penuh dinamika. Para peserta didik mampu mengasah segala potensi dan kemampuan sehingga mereka pantas melewati proses pendidikan dengan sangat baik. Pimpinan mensharingkan kembali proses awal angkatan ketiga sejak masuk hingga selesai.
“Mereka masuk di sini tahun 2023, itu menjadi pelengkap bagi sekolah yang sedang berdiri ini. Mereka angkatan ketiga. Ketika mereka datang, lengkap sudah, ada kelas 1, 2 dan kelas 3, sehingga kehadiran angkatan ketiga ini semakin menunjukan bahwa ini benar-benar sekolah. Kemudian tahun 2023 itu, tahun di mana sekolah ini mulai dengan pembangunan, bantuan dalam bentuk DAG pemerintah dan saya berkeyakinan bahwa pembangunan itu adalah hadiah angkatan ketiga. Dengan kehadiran angkatan ketiga dan juga kehadiran sejumlah pembangunan, masyarakat melihat bahwa sekolah ini betul-betul menjadi sebuah sekolah”, ujar kepala sekolah saat diwawancara detikbernas.com
Perspektif Budaya
Sejak awal berdiri, sekolah SMKN 1 Satarmese menggunakan pendekatan-pendekatan budaya menjadi sebuah kekuatan. Siswa/i dididik, dituntun, dan dibina untuk mengasah dan mengembangkan segala potensi (bakat-bakat dan kemampuan) yang mereka miliki.
“Para peserta didik dituntun dan dibina untuk mengasah dan mengembangkan segala bakat dan kemampuan yang dimiliki. Mereka diikutsertakan dalam pelbagai jenis perlombaan seperti lomba di bidang budaya. Mereka didampingi untuk mahir bermain caci (pertarungan dalam adat Manggarai). Dengan terlibat dalam aktivitas-aktivitas budaya baik internal maupun eksternal, kita percaya, setelah lulus, mereka turun ke masyarakat dan menjadi pelaku-pelaku budaya Manggarai yang berkompeten”, hematnya.
Fransiskus mengharapkan pendekatan budaya, penguatan pemahaman dan praktek budaya semakin ditingkatkan dari tahun ke tahun sehingga bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Untuk mewujudkan hal itu, pimpinan menegaskan agar sekolah berkomitmen dan berkonsistensi untuk menjadikan kekuatan budaya sebagai salah satu fundasi dalam mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa.
Berotak Global dan Berhati Budaya
Fransiskus menerangkan fenomena kemajuan semakin pesat dan cepat dan hal itu menuntut kompetisi yang sangat tinggi, sehingga sejak dini para peserta didik dipersiapkan secara sungguh-sungguh untuk beradaptasi dan meningkatkan daya saing global tetapi mempertahankan nilai-nilai budaya lokal.
Hemat kepala sekolah, ada beberapa strategi yang akan dilakukan ke depannya yakni:
- Sekolah (kepala sekolah) harus memiliki visi yang sama, bagaimana semua elemen melihat tantangan perubahan sebagai kesempatan untuk memerlihatkan daya saing global tetapi menjaga nilai-nilai budaya Manggarai.
- Penguasaan IT. Para guru diharapkan untuk mampu mengasah bakat dan kemampuannya dalam bidang IT sehingga proses pembelajarannya semakin kontekstual dan berkualitas. Selain itu para peserta didik membiasakan diri dengan penggunaan teknologi atau produk-produk teknologi yang bermanfaat.
- Aktivitas-aktivitas budaya Manggarai juga sangat penting, sehingga dimasukkan dalam mata pelajaran seni budaya agar ketika anak hidup di dunia global saat ini mereka juga tidak meninggalkan kekhasan budaya Manggarai.
Hal senada disampaikan wakasek kurikulum, Anisetus oktavianus talung, S.Fil, Gr mengenai pentingnya adaptasi dan semangat juang tinggi di tengah gempuran teknologi. Di tengah realitas keterbatasan SMKN 1 Satarmese yang baru berumur lima tahun, semua elemen baik pimpinan maupun para guru memiliki ideologi yang sama dalam meningkatkan daya saing global dengan mempertahankan nilai-nilai budaya lokal.
“Keterbatasan merupakan kesempatan untuk belajar banyak hal, mengasah semua bakat dan kemampuan untuk meningkatkan persaingan global khususnya di dunia kepariwisataan tetapi tetap berpegang teguh terhadap nilai-nilai budaya Manggarai”, kata Oktavianus.
Oktavianus menambahkan di tengah daya saing globalisasi, SMKN 1 Satarmese harus memiliki strategi integrasi global untuk menghasilkan lulusan profesional, kompetitif, inovatif, kreatif, cerdas dan berkreatif. Dampaknya, lulusan SMKN 1 Satarmese memiliki kapasitas terkait integrasi nlai-nilai budaya Manggarai dalam dunia kepariwisataan, sehingga tugas dan pelayanan dipenuhi dengan nilai-nilai etika, keramahan, integritas dan penuh tanggung jawab.
Penulis: Nasarius Fidin
- Penulis: Nasarius Fidin

Saat ini belum ada komentar