Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » NEWS » Hardiknas 2026 di Wongka, Diujung Rotan Ada Emas

Hardiknas 2026 di Wongka, Diujung Rotan Ada Emas

  • account_circle admin
  • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
  • visibility 708
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Detikbernas.com – Perayaan Hardiknas se-kecamatan Satarmese Barat yang bertema menguatkan partisipasi semesta mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua, bertempat di lapangan Wongka, Sabtu, (02/05/2026). Kegiatan tersebut diawali dengan acara penjemputan Camat Satarmese Barat yang baru, Yosep Soni dan rombongan. Penjemputan itu dilakukan secara adat Manggarai di tempat sebelum menuju Lapangan Upacara bendera.

Tradisi penjemputan secara adat Manggarai memiliki makna simbolis yang menerangkan budaya penghormatan para tamu dengan kerendahan hati dan ketulusan. Penjemputan tersebut menandakan, bahwa para tamu undangan diterima sebagai bagian dari kebersamaan dan kasih-persaudaraan. Selain itu, acara tersebut dilakukan agar mereka dilindungi dan dibebaskan dari segala rintangan sehingga berada bersama dengan penuh persaudaraan, kekeluargaan dan sukacita.

Setelah itu, para rombongan lansung menuju lapangan upacara dan disambut dengan seni tari drum band SMAN 1 Satarmese. Paduan seni kreativitas, kerja kolaborasi, produktivitas, dan inovasi menciptakan suasana sukacita hardiknas yang berbeda.

Tatkala tiba di tempat yang telah disediakan, Camat dan rombongan diterima secara adat sebagai simbol penerimaan yang penuh makna. Tradisi penyambutan itu menerangkan orang Manggarai memiliki kedalaman nilai budaya yang sudah melekat seperti nafas kehidupan. Bahwa hidup berbudaya merupakan cara orang Manggarai berada.

Seusai penerimaan tersebut, perayaan Hardiknas dimulai. Selama perayaan, suasana hikmat, semangat kebangsaan, jiwa nasionalisme, dan cinta kebhinekaan serta kesetiaan Pancasila bergelora di setiap hati orang yang hadir.

Pemimpin upacara, guru SMKN 1 Satarmese, Lazarus Agun melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Dan Camat baru Satarmese Barat menjadi pembina upacara hardiknas tersebut.

Semua guru se-Satarmese Barat yang hadir tak terhitung jumlahnya. Mereka hadir dengan semangat keindonesiaan di hati mereka. Ini tentang cinta kebangsaan di setiap dada manusia Indonesia, khususnya Satarmese Barat. Aku Pancasila. Aku Indonesia. Aku Bhineka Tunggal Ika.

Perayaan hardiknas itu berjalan aman, lancar dan sukses. Setelah upacara bendera, semua yang hadir disuguhkan dengan sejumlah atraksi. Dan Merching band SMAN 1 Satarmese sebagai atraksi pamungkas yang membuat masyarakat yang hadir merasa kagum dengan penampilan para peserta didik tersebut.

Kegiatan hardiknas itu berlansung hingga sore hari. Cuaca sangat bersahabat. Situasi pun mendukung. Tiada sesuatu yang menghadang. Yang ada hanyalah irama cinta bergelora di setiap sanubari.

Diujung Rotan Ada Emas

Camat baru Satarmese Barat menyampaikan banyak hal tentang perjuangan guru dalam mendidik dan membina siswa/i menuju generasi emas. Dia menyampaikan di ujung rotan ada emas. Bahasa perumpamaan itu memiliki makna filosofis yang sangat mendalam tatkala direfleksikan.

Camat Sony mensharingkan pengalamannya tatkala berada di SD, SMP dan SMA. Bahwa didikan pada zamannya sangat berbeda dengan sekarang. Generasinya dididik dan dibina secara keras. Mereka ditegur dengan kayu atau rotan, diluruskan atau dibenarkan dengan pukulan atau cubitan. Dan itu menjadi cara yang baik untuk menyadarkan dan membuat mereka taat aturan. Rotan itu adalah cara binaan atau didikan yang baik untuk mengubah nasib, zaman itu.

Camat asal Wogel itu sangat bersyukur dan berterimakasih kepada para penjasa (guru) yang mendidik dan membina mereka dengan cara keras. Dengan didikan seperti itu, mereka dimanusiakan menjadi manusia cerdas, berkualitas dan sukses.

Didikan sekarang, kata Camat tidak seperti dahulu. Tatkala guru mendidik siswa dengan sentuhan fisik sedikit seperti mencubit atau memukul dan itu dilakukan secara terukur, mereka dikenai sanksi. Atau orang tua lansung bertindak tanpa melihat fakta dan intensi di balik didikan tersebut. Atau juga ketika ada hal seperti itu, maka lansung distatuskan di media sosial. Gurunya dipersalahkan bahkan dilaporkan ke polisi untuk diadili.
Dampaknya, pendidikan itu terjebak dalam inkonsistensi dan stagnan yang berdampak pada kualitas dan kecerdasan generasi muda yang jauh dari harapan bersama.

Pendidikan: Obor Masa Depan

Seorang anggota DPRD Manggarai, Gusti Nancung menyampaikan pentingnya pendidikan sebagai obor yang menerangi masa depan yang cerah. Pendidikan tidak bertentangan dengan budaya. Dalam hal ini, perayaan hardiknas 2026 bernuansa adat Manggarai. Semuanya berpakaian adat.

Pendidikan dan budaya merupakan satu kesatuan ilmu yang dapat meningkatkan kualitas dan kecerdasan anak-anak bangsa. Pendidikan yang baik akan berdampak pada kehidupan berbudaya dan bernegara yang baik, benar dan indah. Hardiknas mengingatkan para guru untuk mendidik dengan memerdekakan anak-anak bangsa menuju generasi emas.

Anggota DPR asal Narang itu berterimakasih kepada para pendidik dan penjasa yang tak kenal lelah dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Diharapkan, guru-guru maju terus, karena di tangan guru ada obor yang menerangi jalan anak-anak bangsa.

Penulis: Nasarius Fidin

Penulis

Admin adalah anak kampung yang punya kerinduan untuk mengubah dunia dengan cinta, kebenaran dan kebijaksanaan melalui goresan-goresan bernas. Setiap detik tulisan pasti bernas. Admin akan selalu mempublis tulisan yang menyejukkan dahaga para pembaca. Kiranya teman-teman pembaca selalu hadir dan betah untuk menikmati setiap suguhan pena detikbernas.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Langkah Juang Menuju Terang

    Langkah Juang Menuju Terang

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 236
    • 0Komentar

    Setiap pagi, Dela bergegas ke sekolah yang jaraknya hampir lima kilometer. Jalan menuju sekolah bukanlah jalan beraspal, melainkan jalan berbatu dan tanah yang berlumpur. Kadang ia harus menyeberangi sungai kecil dengan jembatan bambu yang rapuh. Meski lelah, Dela selalu membawa buku catatan lusuhnya. Ia tahu, setiap huruf yang ia pelajari adalah batu bata untuk membangun […]

  • Mantan Guru Turun Gunung! Yosefus Durhaman Siap Sulap Todo Jadi Desa Maju

    Mantan Guru Turun Gunung! Yosefus Durhaman Siap Sulap Todo Jadi Desa Maju

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 599
    • 18Komentar

    Detikbernas.com, Todo – Mantan Guru SD Impres Wejang Raci, Yosefus Durhaman turun gunung untuk mendaftarkan diri sebagai calon kepala desa Todo periode 2026-2034. Dalam pergelaran pilkades tersebut, ia menegaskan dirinya siap bertarung dengan menjunjung tinggi rasionalitas dan hatinurani, Kamis, (28/05 2026). Yosefus Durhaman mengajak seluruh masyarakat Desa Todo untuk tetap bahu-membahu dalam berbagai urusan kehidupan […]

  • Yakub Kareth Sosok Ugahari Yang Menjaga Martabat Birokrasi

    Yakub Kareth: Sosok Ugahari Yang Menjaga Martabat Birokrasi

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 113
    • 2Komentar

    Di tengah kehidupan birokrasi yang sering dipenuhi protokoler, fasilitas jabatan, dan berbagai bentuk penghormatan, sosok Yakob Kareth sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat Daya dikenal memiliki karakter ugahari—hidup sederhana, tahu batas, dan mampu menempatkan diri secara bijaksana. Sikap ini menjadi nilai penting yang melekat erat dalam dirinya, sekaligus menjadi teladan bahwa jabatan tinggi tidak harus […]

  • Strategi Petani Satarmese Barat Mendukung Kebutuhan Objek Wisata Waerebo

    Strategi Petani Satarmese Barat Mendukung Kebutuhan Objek Wisata Waerebo

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 176
    • 0Komentar

    Menjadi petani modern merupakan itu yang dirindukan oleh setiap petani di tengah kemajuan dunia pariwisata. Petani dengan pelbagai kualitas sumber daya manusia-nya (SDM) dapat meningkatkan transformasi ekonomi pertanian berkelanjutan di Manggarai khususnya wilayah Satarmese Barat. Hal ini menjadi realitas ideal tatkala masyarakat memiliki ideologi yang sama. Namun secara faktual, para petani masih berkutat pada cara […]

  • Gagal panen menjadi momok yang menakutkan para petani. Beberapa tahun terakhir, bencana gagal panen menimbulkan banyak pertanyaan. Pasalnya, para petani sangat profesional dalam bertani, khususnya dalam mengolah tanah untuk berbagai tanaman seperti padi, pisang, dan sebagainya. Pertanyaannya, mengapa terjadi demikian? Gagal panen disebabkan oleh pelbagai faktor. Selain cara bertani konvensional juga faktor alam seperti musim tak menentu. Beberapa tahun terakhir, musim kemerau panjang berdampak pada menurun drastisnya penghasilan perekonomian di wilayah Manggarai. Persoalan gagal panen menjadi duka bersama khususnya para petani yang dapat mengguncang kestabilan kesejahteraan.

    Realitas Gagal Panen Di Manggarai: Bencana Rumah Tangga dan Ironi Transformasi Ekonomi Berkelanjutan

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 249
    • 1Komentar

    Gagal panen menjadi momok yang menakutkan para petani. Beberapa tahun terakhir, bencana gagal panen menimbulkan banyak pertanyaan. Pasalnya, para petani sangat profesional dalam bertani, khususnya dalam mengolah tanah untuk berbagai tanaman seperti padi, pisang, dan sebagainya. Pertanyaannya, mengapa terjadi demikian? Gagal panen disebabkan oleh pelbagai faktor. Selain cara bertani konvensional juga faktor alam seperti musim […]

  • Bahasa yang Menyatukan Jejak

    Bahasa yang Menyatukan Jejak

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 270
    • 12Komentar

    Matahari di pesisir pantai selatan membakar kulit dengan cara yang berbeda, seolah menyambut Amelia di tanah pengabdian yang baru. Sambil berdiri di depan cermin kecil di kamarnya, yang kini berbalut seragam SMK yang tegak dan kaku, ia mencoba menelan getirnya rindu. Amelia mengikat janji pada dirinya sendiri. Merantau bukan sekadar berpindah tempat, tapi membiarkan mimpi […]

expand_less