Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » CERPEN » Bahasa yang Menyatukan Jejak

Bahasa yang Menyatukan Jejak

  • account_circle admin
  • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
  • visibility 198
  • comment 7 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.


Matahari di pesisir pantai selatan membakar kulit dengan cara yang berbeda, seolah menyambut Amelia di tanah pengabdian yang baru. Sambil berdiri di depan cermin kecil di kamarnya, yang kini berbalut seragam SMK yang tegak dan kaku, ia mencoba menelan getirnya rindu. Amelia mengikat janji pada dirinya sendiri. Merantau bukan sekadar berpindah tempat, tapi membiarkan mimpi tumbuh di tanah yang paling sunyi sekalipun. Namun, ini adalah keputusan besar yang ia ambil, merantau ke pedalaman Manggarai demi menempuh pendidikan di salah satu SMK tepatnya di pesisir Pantai Selatan Satarmese. Di sini, ia tidak sendiri. Ia tinggal bersama Opa dan Oma-nya di sebuah rumah tua berbatu di dusun kecil.
“Amelia, hang ge (makan sudah)! Nanti kau telat,” suara Oma dari dapur memecah lamunan.
Amelia tersenyum tipis. Kalimat “Hang ge” yang berarti “Makan sudah” adalah kosa kata Manggarai pertama yang ia hafal sejak tiba dua minggu lalu. Opa dan Oma adalah sosok yang disiplin namun penuh kasih.
“Amel, di sini kau harus belajar lidah baru,” ujar oma saat mereka duduk di meja makan. Manggarai itu bukan cuma soal bicara, tapi soal bagaimana kau menghargai tanah tempat kau berpijak. Tiga tahun itu waktu yang lama, jangan sampai merasa asing di rumah sendiri.
Amelia mengangguk pelan. “Iya, Oma. Amel berusaha. Tapi kadang Amel bingung kalau teman-teman bicara cepat sekali. Kedengarannya seperti mereka sedang berdebat, padahal ternyata cuma bercerita.” Oma tertawa kecil, suara tawanya serak namun hangat. Itulah Manggarai. Kami bicara dengan dada, bukan cuma mulut tapi hatinya lembut.

Hari-hari pertama di sekolah adalah tantangan nyata. Amelia seringkali hanya terdiam di pojok kelas, mendengarkan riuh rendah dialek Manggarai. Ia merasa lidahnya kelu. Setiap kali ingin bicara, ia takut dialek Ende-nya yang kental akan membuat teman-temannya bingung atau justru menertawakannya.
Suatu siang, saat jam istirahat di kantin, seorang gadis dengan kepang dua menghampirinya.
“Kamu Amelia, toh? Yang dari Ende?” tanya gadis itu. Senyumnya lebar dan matanya berbinar ramah. “Iya, saya Amelia,” jawab Amel dengan canggung.
“Saya Tasya. Jangan diam terus di kelas, nanti kau dikira patung kayu,” canda Tasya. Ayo ikut kami duduk di sana.
Tasya adalah gadis desa, ia menjadi pintu pertama bagi Amelia untuk masuk ke dalam labirin budaya baru ini. Tasya tidak pernah menertawakan saat Amelia salah mengucapkan kata dalam bahasa Manggarai, ia justru mengoreksinya dengan sabar.
Tasya, kenapa kalian bilang ite (kamu)? tanya Amelia suatu hari saat mereka mengerjakan tugas kelompok di bawah pohon mahoni di halaman sekolah.
“Itu bentuk hormat, Amel dan sapaan untuk yang lebih tua. Kalau di Ende, kalian pakai kata apa untuk menyapa teman dengan sopan?”
“Kami biasanya pakai “Eja’’ jawab Amelia untuk teman akrab, atau kalau bicara dengan orang tua, kami pakai bahasa yang lebih lembut, tapi tidak punya kata ganti khusus sebanyak di sini,” jelas Amelia. Tasya mengangguk-angguk. “Unik ya. Kita ini kan satu pulau, tapi bicara saja sudah beda jauh. Tapi tidak apa-apa, nanti lama-lama kau pasti bisa jatuh cinta dengan bahasa ini.”

Bulan-bulan telah berlalu. Amelia pun mulai terbiasa dengan rutinitas di Pantai Selatan Satarmese yang panas. Ia mulai belajar bahwa bahasa bukan sekadar deretan kata di kamus, melainkan jembatan emosi. Ia belajar kata Momang yang artinya sayang, dan bagaimana kata itu memiliki bobot yang sangat kesan bagi orang Manggarai.
Namun, realisme hidup di perantauan tidak selamanya indah terkadang menyelimuti perasaan sedih yang luar biasa. Suatu malam, hujan turun sangat deras di pesisir Pantai Selatan. Suara rintik hujan di atap seng rumah Opa dan Oma mengingatkan dirinya di kampung halaman. Ia teringat adiknya, teringat ayah dan ibunya. Amelia menangis di kamarnya.
Di sekolah, Tasya pun menjadi sandaran. Saat Amelia kesulitan memahami penjelasan guru yang sesekali terselip istilah bahasa daerah, Amelia pun binggung dan tersipu malu sambil berbisik pada temannya yang bernama Tasya. Tasya pun menjawab dan membisikkan artinya.
Satu tahun kemudian, Amelia sudah jauh lebih berani untuk berbicara. Ia tidak lagi menjadi penonton di kelas. Ia bahkan mulai berani menggunakan beberapa kata dalam Bahasa Manggarai dalam percakapan sehari-hari.
Suatu hari, sekolah mengadakan festival budaya. Tasya mengajak Amelia untuk ikut dalam pementasan tarian kreasi budaya Manggarai. Tentu saja Amelia tidak ikut, namun ia diminta menjadi bagian dari kelompok penyanyi lagu daerah Manggarai.
“Tapi saya tidak tahu lagu-lagunya, Tasya,” protes Amelia.
“Kau punya suara bagus, Amel. Kau tinggal ikuti rima kami. Lidah Ende-mu itu punya vokal yang jernih, kalau digabung dengan power suara kami, pasti luar biasa,” bujuk Tasya.
Latihan demi latihan dilewati.
Di sinilah Amelia benar-benar merasakan Bahasa yang Menyatukan Jejak. Saat mereka menyanyikan lagu-lagu adat Manggarai, Amelia pun merasakan getaran yang sama seperti saat ia mendengar senandung lagu Ende. Ia menyadari bahwa meski kosa katanya berbeda, struktur rasa itu sama, ada penghormatan pada leluhur, alam, dan Tuhan.
Pada hari pementasan, Amelia mengenakan sarung Songke yang dipinjamkan Oma. Ia terlihat anggun. Di atas panggung, ia berdiri di samping Tasya. Saat musik dimulai, Amelia bernyanyi dengan sepenuh hati. Beberapa tamu undangan, termasuk Opa dan oma, tampak berkaca-kaca melihat bagaimana seorang anak dari Ende bisa membawakan lagu Manggarai dengan begitu tulus.

Waktu berjalan begitu cepat, tiga tahun telah hampir usai. Amelia kini sudah berada di tingkat akhir di SMK. Ia bukan lagi gadis pemalu. Kini, ia seorang gadis yang fasih bahasa Manggarai dan bisa berdebat ringan dengan teman-teman seperjuangannya.
Di bawah pohon Mahoni di dekat sekolah sebagai saksi bisu untuk mencurahkan segala isi hati dan harapan yang ada dalam diri mereka. Mereka sangat bahagia bercanda tawa sambil mendengarkan lagu Manggarai. Tiba-tiba Tasya berkata: Mel, jadi kau mau lanjut kuliah di mana? “Mungkin balik ke Ende atau ke Kupang” ujar Amelia. Tapi Manggarai sudah jadi rumah kedua buat saya Tasya, jawab Amelia. Terima kasih sudah jadi jembatan dan teman buat saya di sini.
Tasya memeluk Amelia erat. Kau itu sudah jadi orang Manggarai, Amel. Biar kau balik ke Ende, jejakmu di sini tidak akan hilang. Kau sudah tanam momang (sayang) di sini.
Pukul 07:30 dengan angin yang sepoi-sepoi menembus jantung, terdengar bus yang akan membawanya pulang ke arah timur mulai bergerak meninggalkan terminal, Amelia melihat Tasya melambaikan tangan dari kejauhan. Opa dan Oma berdiri tegak dengan mata berkaca-kaca. Semua kenangan tentang Amelia menjadi kenangan yang hangat dihati opa, oma dan semua teman-teman yang ada di Manggarai.
Amelia pun membuka jendela bus, membiarkan udara dingin kota Ruteng masuk untuk terakhir kalinya. Ia mengambil buku catatan kecilnya dan menuliskan satu kalimat sambil meneteskan air mata:
“Aku datang dengan bahasa yang kaku, namun pulang dengan hati yang penuh melodi. Ternyata, perbedaan bahasa bukan untuk menjauhkan jejak, melainkan untuk membuat kita belajar cara melangkah bersama di atas tanah yang sama.”
Bus pun terus melaju, membelah kabut, melewati jalanan berbelok. Amelia menyandarkan kepalanya di kursi. Di telinganya, masih terngiang suara Tasya, suara Oma dan Opa, dan suara debur ombak Ende yang menantinya di ujung jalan. Ia tahu, ke mana pun ia pergi nanti, ia membawa dua kekuatan besar dalam dirinya ketegasan Manggarai dan kelembutan Ende.
Tiga tahun di Manggarai telah mengajarkannya bahwa bahasa adalah rumah. Dan bagi Amelia, rumah itu kini menjadi jauh lebih luas daripada sekadar garis batas kabupaten. Ia telah menyatukan jejak-jejak itu menjadi sebuah cerita yang abadi.

                SELESAI

Oleh: Amelia Christiani Wu, SMKN 1 Satarmese

Penulis

Admin adalah anak kampung yang punya kerinduan untuk mengubah dunia dengan cinta, kebenaran dan kebijaksanaan melalui goresan-goresan bernas. Setiap detik tulisan pasti bernas. Admin akan selalu mempublis tulisan yang menyejukkan dahaga para pembaca. Kiranya teman-teman pembaca selalu hadir dan betah untuk menikmati setiap suguhan pena detikbernas.

Komentar (7)

  • Chief Mkt

    Hello detikbernas.com,

    I noticed a few design-related issues on your website that could impact its performance and user experience.

    Would you like me to send a screenshot highlighting these errors? I can also prepare a detailed audit report, along with a proposal and pricing to improve your website’s design and optimize its ranking.

    Looking forward to your response.

    Kind regard

    Balas20 May 2026 3:54 am
  • Ashwani Sharma

    Hello http://detikbernas.com,

    If you’re looking to boost your website’s visibility, I can help you achieve top Google rankings.

    I’ll prepare a complete SEO plan with actionable steps and potential growth insights for your products or services.

    Once you share your target keywords and target market, I’ll send a full proposal.

    Best Regards,
    Ashwani

    Balas9 May 2026 3:52 pm
  • Sofia

    Hi,

    Do you want your website [http://detikbernas.com] to appear on the first page of Google?

    We can help you achieve higher rankings and more traffic.

    Would you like to see how it works?

    Simply reply “Yes” or “Sure” if interested.

    Thank you.
    Sofia

    Balas7 May 2026 2:59 pm
  • Ella Cookson

    Hey

    Insert detikbernas.com in GoogleSearchIndex and have it show up in online search results!

    List detikbernas.com now: https://searchregister.org

    Balas1 May 2026 11:29 pm
  • Gemma Marshall

    Hi,

    We run a hands-on agency that helps clients’ Instagram accounts build authority and reach new audiences. Rather than just “adding numbers,” we focus on tangible benefits:

    1. Cheaper than Ads: We deliver targeted eyes on your profile for a fraction of the cost of running Instagram Ads.
    2. Real Community: We target users genuinely interested in your niche, leading to higher engagement and potential sales.
    3. 100% Account Safety: We don’t use bots. Our team performs every action manually on actual smartphones, keeping your account secure.
    4. Consistent Results: Expect 300+ new, high-quality followers every month who actually stick around.

    I’d be happy to forward you some further information if that would be of interest?

    Kind Regards,
    Gemma

    P.S. If you don’t have a profile yet, we can handle the full setup and optimization for you.

    https://unsubscribe.social/unsubscribe.php?d=detikbernas.com

    Balas1 May 2026 7:03 am

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Camat Yosep Soni Bongkar Konsep Pembangunan Bupati Manggarai di Wilayah Satarmese Barat

    Camat Yosep Soni Bongkar Konsep Pembangunan Bupati Manggarai di Wilayah Satarmese Barat

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 1.517
    • 0Komentar

    Detikbernas.com – Camat Satarmese Barat, Yosep Soni, menghadiri perayaan hardiknas sebagai momentum yang sangat istimewah untuk membawa pesan terkait konsep pembangunan yang telah disampaikan Bupati Manggarai, Heribertus Nabit mengenai kebijakan strategis yang akan membawa kamajuan di wilayah Satarmese Barat. Hal itu disampaikannya saat pidato di lapangan gelora Wongka, Sabtu, (02/05/2026). “Konsep pembangunan yang disampaikan Bapak […]

  • 6 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    6 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle Nasarius Fidin
    • visibility 1.218
    • 4Komentar

    1. Budaya Kasih Raungan serakah di setiap acaraasap angkuh mengepul,arak diteguk hingga mabuk kepayang,kata-kata beradu tajam,tawuran menyapu….wajah tergeletak, berserakanseolah tiada bernilai…. Teguk arak jadi tradisi,komplotan jago berkeliarantiada kata saudara pun keluargaasal pedang amarah mengenai sasar Budaya benci mengakar,pesta jadi ajang pertarungan,mental dan minsed tak maju-maju,hidup pun seperti ilalang Dimanakah gendang nurani ditabuh,adakah kesadaran nalar meraja,kenapa […]

  • Kisah Kelahiran dan Masa Kecil Yakob Kareth; Dari Kampung Sederhana Menuju Sekretaris Daerah

    Kisah Kelahiran dan Masa Kecil Yakob Kareth; Dari Kampung Sederhana Menuju Sekretaris Daerah

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Nasarius Fidin
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Drs. Yakob M.Kareth, M.Si., bukanlah sosok asing di arena pelayanan publik di wilayah pemerintahan provinsi Papua Barat Daya. Ia adalah role model (panutan)yang memadukan Integritas, dedikasi dan kompetensi akademik yang briliant dengan jabatan strategis dibirokrasi pemerintahan sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Papua Barat Daya. Ia membawa aura profesionalisme berkat pencapaiannya di dunia akademik hingga menyandang […]

  • 13 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    13 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Nasarius Fidin
    • visibility 1.112
    • 0Komentar

    Cinta sejati dimeteraikan sakramendisaksikan siapapun yang hadirdimatangkan beribu onak tancapjadi bahtera yang romantika Cincin emas hanyalah tanda semata,memahat selaksa belantara,mengikat diri dengan janji setia,satu untuk selamanyaitu yang utama Setiap petir menyambar pikat rasa,arus deras menenggelam bahtera,jangan takut jika dilanda,bangunkan Sang Penjalameredakan gelombang samudera Panas dingin tak usah dikekangpahit manis perlu dikenangtak usah meragu dikala mendungdayun […]

  • Gereja Paroki Todo Gelar Prosesi Patung Bunda Maria dari Niang Menuju Gereja

    Gereja Paroki Todo Gelar Prosesi Patung Bunda Maria dari Niang Menuju Gereja

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 538
    • 0Komentar

    Detikbernas.com – Perarakan patung Bunda Maria menjadi tradisi umat Katolik pada umumnya. Umat paroki Todo menggelar prosesi patung Bunda Maria itu secara berbeda mulai dari Niang (rumah kerucut) menuju gereja paroki, Jumat, (01/05/2026). Kampung adat yang menyimpan jejak leluhur itu dijadikan titik awal prosesi tersebut. Seluruh umat paroki melangkah bersama sebagai simbol peziarahan spiritual yang […]

  • Kita Lulus Sekolah, Tapi Gagal Lulus Jadi Manusia

    Kita Lulus Sekolah, Tapi Gagal Lulus Jadi Manusia

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 213
    • 0Komentar

    Kelulusan adalah moment yang dinantikan seseorang pada fase titik terakhir. Dulu waktu upacara, kita semua bangga, senang, dan bahagia. Toga dipakai, ijazah dipegang, orang tuan tepuk tangan meriah. Katanya kita sudah “lulus”. Tapi coba kita amati bersama di sekeliling kita sekarang, beberapa banyak sarjana yang tidak mau antre? Berapa banyak anak mendapat nilai tinggi dengan […]

expand_less