Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » NEWS » Pembangunan Maju, Warga Desa Tetap Haus: Ada Yang Salah?

Pembangunan Maju, Warga Desa Tetap Haus: Ada Yang Salah?

  • account_circle Nasarius Fidin
  • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
  • visibility 649
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sangat ironis. Jalan aspal yang memanjang, membelai rumah-rumah yang memanjang sepanjang desa, terlihat indah dan bagus di setiap lorong-lorong gang, tower Bakti atau BTS berdiri gagah di samping istana desa, dana miliaran rupiah digelontarkan setiap tahun. Tapi di saat yang sama, bapak dan ibu serta anak-anak di banyak pelosok masih harus jalan 2 km tiap pagi dan sore hanya untuk menimba sejerigen air. Anak-anak mandi menggunakan air terbatas sepulang sekolah. Pembangunan katanya maju, tapi mengapa warga desa tetap haus?

Krisis air di desa bukan lagi cerita el nino atau kemerau panjang dan langkah. Ini sudah menjadi musim yang rutin datang tiap tahun. Data dan realitas berbicara sebagian besar rumah tangga di pedesaan yang belum punya akses air bersih yang layak. Artinya, ditengah gembor Indonesia emas 2045 masih ada ribuan warga yang dahaganya belum terjawab oleh desa.

Pembangunan Yang Salah Alamat

Kita terlalu sibuk membangun sesuatu yang kelihatan. Gedung balai desa dibuat baru jadi megah seperti istana kerajaan, bicara besar terlalu tinggi, setinggi gapura yang bagun tinggi-tinggi oleh desa sebelah, dibuka jalan yang baru. Semua itu penting untuk estetika dan mobilitas atau pergerakan warga desa. Sayangnya, semua itu tidak ada asas manfaat sama sekali. Tetapi apa gunanya jalan mulus kalau warga yang lewatnya tenggorokannya kering?

Kita terjebak dengan kalimat “ yang penting kelihatan “. Semua itu penting, tapi jadi terasa hambar saat warganya harus beli air Rp 150.000 rupiah per tangki tiap minggu dan memikul jerigen ke sungai setiap harinya. Padahal, tanpa air semua insfrastruktur lain lumpuh. Jalan bagus mau dipakai siapa kalau warga sakit akibat memikul jerigen setiap harinya.


Proyek air bersih sering kalah pamor di banding proyek fisik yang besar. Membangun jaringan pipa dengan tenaga teknis, sumur bor dalam, atau embung desa memang tidak semencolok membangun alun-alun. Tidak ada pitah yang bisa digunting. Akhirnya air di desa jadi prioritas nomor kesekian.

Alam Dirampas, Air Pun Hilang

Ini juga soal tata kelola lingkungan. Banyak desa mengalami kekeringan justru setelah hutan di hulunya di tebang secara liar untuk kepentingan sang penguasa. Sumber mata air mati karena daerah resapan berubah jadi tempat pemotongan kayu bahkan jadi beton dan kebun penguasa. Kita membangun waduk besar untuk kota, tapi lupa menjaga waduk alami berupa hutan dan bukit yang selama ini menghidupi desa.

Alam dirampas menurut warga, tapi penguasa berkata: kita punya kesepakatan dan perjanjian. Sang penguasa berlindung di balik alasan yang kuat ternyata memilikki sumber daya yang rendah. Pemerintah berlomba menarik investasi tapi analisis mengenai dampak lingkungan menjadi formalitas. Ironinya nyata: desa dikorbankan untuk mengairi kota, lalu desa itu sendiri sering dibiarkan mati kehausan.
Akibatnya warga desa yang menanggung: sungai mengering, sungai tercemar, dan saat protes dijawab “ ini demi pembangunan, ini demi investasi dan pertumbuhan ekonomi”.

Jadi Apa Yang Harus Dibetulkan?

  1. Geser prioritas dana desa: Undang-Undang Desa sudah memberi kewenangan. Pasti minimal 20% dana desa wajib untuk air bersih dan sanitasi. Jangan habiskan untuk hal seremonial.
  2. Audit Lingkungan serius : ijin usaha yang merusak daerah resapan air harus dievaluasi. Pembangunan tidak boleh menumbalkan hak dasar warga desa.
  3. Libatkan warga Dari perencanaan: warga tau titik airnya dimana, musimya kapan, dan sistem apa yang bisa digunakan. Jangan pakai pendekatan “proyek turun dari atas”

Pembangunan tanpa air adalah pembangunan yang gagal paham. Jalan aspal tidak bisa diminum, saluran air juga tidak bisa mempertahankan kehidupan warga. Tower BAKTI tidak bisa mengairi ke rumah-rumah seperti kondisi jaringan di desa. Kemajuan seajatinya harus diukur dari hal yang paling dasar: Apakah warga desa masih haus atau tidak.
Kalau desa tetap haus ditengah gegap gempita pembangunan, berarti memang ada yang salah. Dan itu bukan takdir. Itu kelelaian kita bersama yang harus segera di koreksi.

Air adalah hak dasar dan sumber kehidupan manusia, bukan komoditas mewah. Jika pembangunan terus berlari tapi lupa menoleh ke jerigen kosong di tangan warga desa, maka kita sedang membangun di atas kehausan. Dan itu bukan kemajuan. Itu kegagalan yang disamarkan dengan beton.
Sudah saatnya kita berhenti untuk bangga pada apa yang bisa di lihat, dan mulai peduli pada apa yang benar-benar menghidupi.

Oleh : Artemius Janu

  • Penulis: Nasarius Fidin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 6 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    6 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle Nasarius Fidin
    • visibility 1.339
    • 4Komentar

    1. Budaya Kasih Raungan serakah di setiap acaraasap angkuh mengepul,arak diteguk hingga mabuk kepayang,kata-kata beradu tajam,tawuran menyapu….wajah tergeletak, berserakanseolah tiada bernilai…. Teguk arak jadi tradisi,komplotan jago berkeliarantiada kata saudara pun keluargaasal pedang amarah mengenai sasar Budaya benci mengakar,pesta jadi ajang pertarungan,mental dan minsed tak maju-maju,hidup pun seperti ilalang Dimanakah gendang nurani ditabuh,adakah kesadaran nalar meraja,kenapa […]

  • 10 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    10 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
    • account_circle Nasarius Fidin
    • visibility 1.343
    • 0Komentar

    Karyamu tak kenal pensiunkeilahian tersembunyi di balik nuranitubuh kudus tak elok dipandang duniasedang Kau Maha dari setiap maha Langit tunduk di hadapanMubumi ramah di dalam kebesaraniklim menjinaksegalanya menyembahmunamun dunia tetap tegar hati Tingkah pongah mengotak atik sadarego menggiring rasio hingga benalukau kian memeluk dunia malah menjauhcinta setiaMu dasyat meski entah… Dunia gemar sesat sesaatrindu berdiam […]

  • Merajut Asa, Menggapai Impian

    Merajut Asa, Menggapai Impian

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 294
    • 0Komentar

    Langkah kecilnya tertatih, menyusuri setapak di pinggir hutan. Sepatu robek dengan kaus kaki lusuh dan usang. Wajahnya tetap ceria dengan sesunging senyum mengiring langkah. Bercengkerama dan bercanda ria bersama sahabat-sahabatnya, menyusuri setapak di tengah hutan dalam suasana ceria dan gembira. Bukan jalan aspal mulus berkendara sepeda motor apalagi mobil mewah. Itulah keseharian Agnes, seorang gadis […]

  • KKG Satu Hati Gelar Turnamen Mini Soccer di Satarmese Barat

    KKG Satu Hati Gelar Turnamen Mini Soccer di Satarmese Barat

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Nasarius Fidin
    • visibility 534
    • 0Komentar

    Detikbernas.com – Selain pengembangan kemampuan kognitif di dalam kelas, KKG Satu Hati se-kecamatan Satarmese Barat menggelar turnamen mini soccer sebagai bagian dari proses pertumbuhan fisik dan karakter siswa. Turnamen mini soccer tersebut dilaksanakan pada 11 April – Minggu 19 April 2026 di lapangan Bola Sepak Wela Ngancar SDI Lenggos. Turamen mini soccer itu diketuai Kepala […]

  • 13 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    13 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Nasarius Fidin
    • visibility 1.238
    • 0Komentar

    Cinta sejati dimeteraikan sakramendisaksikan siapapun yang hadirdimatangkan beribu onak tancapjadi bahtera yang romantika Cincin emas hanyalah tanda semata,memahat selaksa belantara,mengikat diri dengan janji setia,satu untuk selamanyaitu yang utama Setiap petir menyambar pikat rasa,arus deras menenggelam bahtera,jangan takut jika dilanda,bangunkan Sang Penjalameredakan gelombang samudera Panas dingin tak usah dikekangpahit manis perlu dikenangtak usah meragu dikala mendungdayun […]

  • Petani mengalami gagal panen pisang di Satarmese Barat.

    Dampak Ekonomi Akibat Gagal Panen Pisang di Satarmese Barat

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 246
    • 0Komentar

    Indonesia mencapai usia emas pada tahun 2045. Dalam menuju usia emas itu, transformasi ekonomi ditetapkan sebagai pilar utama dalam mewujudkannya. Sektor pertanian berkelanjutan memegang peran penting khususnya di wilayah – wilayah yang kaya akan potensi alam seperti Manggrai, Nusa Tenggara Timur. Transformasi ini tidak hanya bertujuan untuk mencapai kedaulatan pangan, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan […]

expand_less