Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » INSPIRASI » Menimba Oase Dari Drs. Yakob Kareth, M.Si Sang Birokrat Ulung Dari Tanah Papua Surga Kecil Yang Jatuh ke Bumi

Menimba Oase Dari Drs. Yakob Kareth, M.Si Sang Birokrat Ulung Dari Tanah Papua Surga Kecil Yang Jatuh ke Bumi

  • account_circle Nasarius Fidin
  • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
  • visibility 757
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Meniti karier, khususnya di dunia birokrasi, bukanlah perjalanan singkat yang dapat diraih dalam semalam. Karier yang baik dibangun melalui proses panjang, kerja keras, ketekunan, dan komitmen yang terus dijaga dari waktu ke waktu. Banyak orang melihat jabatan tinggi sebagai puncak keberhasilan, tetapi sering kali lupa bahwa di balik jabatan itu ada perjalanan penuh tantangan, pengorbanan, dan pembelajaran. Dari perjalanan seorang birokrat seperti Yakob Kareth, kita dapat belajar bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh nilai-nilai hidup yang kuat.

Nilai-nilai ini penting bukan hanya bagi pegawai negeri atau birokrat, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin berhasil dalam pekerjaan dan kehidupan. Berikut beberapa nilai penting dalam meniti karier yang dapat dijadikan pedoman.

  1. Kerja Keras

Nilai pertama dan paling mendasar adalah kerja keras. Tidak ada keberhasilan tanpa usaha. Orang yang berhasil biasanya adalah mereka yang bersedia bekerja lebih sungguh-sungguh dibanding orang lain. Jabatan tinggi tidak datang secara tiba-tiba, melainkan lahir dari proses kerja panjang dan konsisten.

Dalam dunia birokrasi, kerja keras terlihat dari kesungguhan menyelesaikan tugas, disiplin waktu, dan tanggung jawab terhadap pekerjaan. Seorang pegawai yang datang tepat waktu, menyelesaikan pekerjaan dengan baik, serta siap membantu ketika dibutuhkan akan lebih dihargai. Kerja keras juga berarti tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Banyak orang ingin hasil besar, tetapi enggan menjalani proses. Padahal, proses itulah yang membentuk karakter. Yakob Kareth, seperti banyak birokrat yang berhasil, tentu melewati tahapan dari bawah, belajar memahami sistem, menghadapi tantangan, dan tetap bekerja dengan tekun. Dari sana kita belajar bahwa kesuksesan adalah hasil dari usaha yang terus dilakukan, bukan keberuntungan semata.

Kerja keras juga menanamkan rasa percaya diri. Ketika seseorang tahu bahwa ia telah berusaha maksimal, maka ia akan lebih siap menghadapi tantangan yang lebih besar. Karena itu, siapa pun yang ingin maju harus menjadikan kerja keras sebagai kebiasaan harian.

  1. Loyalitas pada Tugas

Nilai kedua adalah loyalitas pada tugas. Loyalitas bukan berarti sekadar taat kepada atasan, tetapi setia pada tanggung jawab yang diberikan. Seorang pegawai yang loyal akan menjalankan pekerjaannya dengan penuh komitmen, menjaga amanah, dan tidak bekerja setengah hati.

Dalam birokrasi, kepercayaan adalah hal yang sangat penting. Tugas-tugas besar biasanya diberikan kepada orang yang terbukti setia, jujur, dan dapat diandalkan. Jika seseorang sering mengabaikan pekerjaan, tidak konsisten, atau hanya bekerja ketika diawasi, maka sulit baginya memperoleh kepercayaan lebih besar.
Loyalitas juga berarti tetap menjalankan tugas dengan baik meskipun situasi sedang sulit. Ada masa ketika pekerjaan terasa berat, kritik datang dari banyak pihak, atau hasil belum terlihat. Pada saat seperti itulah loyalitas diuji. Orang yang bertahan dan tetap memberikan yang terbaik akan menjadi pribadi yang matang.

Yakob Kareth sebagai birokrat tentu memahami bahwa tanggung jawab kepada negara dan masyarakat harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Kepercayaan untuk menduduki jabatan penting biasanya diberikan kepada orang yang memiliki rekam jejak loyalitas yang baik.

Dalam kehidupan sehari-hari, loyalitas dapat dimulai dari hal sederhana: menyelesaikan tugas tepat waktu, menjaga komitmen, dan tidak lari dari tanggung jawab.

  1. Rendah Hati

Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin penting sikap rendah hati. Banyak orang gagal mempertahankan keberhasilan karena kesombongan. Mereka merasa tidak membutuhkan orang lain, menolak kritik, dan menganggap diri paling benar. Sikap seperti ini justru merusak kepemimpinan.

Rendah hati bukan berarti merendahkan diri, tetapi menyadari bahwa keberhasilan tidak diraih sendirian. Ada dukungan keluarga, rekan kerja, bawahan, dan banyak pihak lain yang ikut berperan. Pemimpin yang rendah hati akan menghargai setiap orang dan mau mendengar masukan dari siapa saja.

Dalam birokrasi, pemimpin yang rendah hati biasanya lebih dicintai bawahannya. Ia tidak memerintah dengan arogan, tetapi memberi teladan melalui sikap. Ia mau turun melihat kondisi lapangan, mendengar keluhan masyarakat, dan menerima kritik sebagai bahan perbaikan.

Sikap rendah hati juga membuat seseorang terus berkembang. Orang yang rendah hati sadar bahwa dirinya masih perlu belajar. Sebaliknya, orang sombong merasa sudah tahu segalanya sehingga sulit maju.

Jika seorang pejabat memiliki kerendahan hati, maka jabatannya menjadi berkat bagi banyak orang. Inilah salah satu nilai penting yang patut diteladani dalam perjalanan karier.

  1. Mau Belajar

Dunia terus berubah. Peraturan diperbarui, teknologi berkembang, sistem pemerintahan berubah, dan kebutuhan masyarakat semakin kompleks. Karena itu, seorang birokrat harus terus belajar. Tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman lama.

Mau belajar berarti memiliki pikiran terbuka terhadap hal baru. Seseorang yang mau belajar akan membaca, mengikuti pelatihan, mendengar pendapat orang lain, dan tidak malu bertanya. Ia sadar bahwa pengetahuan adalah bekal penting untuk menjalankan tugas dengan baik.

Dalam birokrasi modern, kemampuan menggunakan teknologi sangat penting. Pelayanan publik kini banyak dilakukan secara digital. Jika seorang pegawai menolak belajar, maka ia akan tertinggal. Sebaliknya, pegawai yang mau belajar akan lebih siap menghadapi perubahan.

Yakob Kareth dan birokrat lain yang berhasil tentu memahami pentingnya peningkatan kapasitas diri. Jabatan besar membutuhkan kemampuan besar. Oleh sebab itu, belajar harus menjadi kebiasaan sepanjang hidup.

Pelajaran ini relevan bagi semua orang. Baik pelajar, pegawai, pengusaha, maupun pemimpin, semuanya perlu terus belajar agar tetap berkembang dan mampu bersaing.

  1. Melayani Masyarakat

Nilai terakhir, dan mungkin yang paling penting, adalah semangat melayani masyarakat. Inti birokrasi bukanlah kekuasaan, melainkan pelayanan. Jabatan hanyalah alat untuk membantu rakyat mendapatkan haknya.

Kadang ada orang yang mengejar jabatan demi kehormatan atau keuntungan pribadi. Padahal, jabatan seharusnya dipakai untuk bekerja bagi kepentingan umum. Pemimpin yang baik akan bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan untuk masyarakat?” bukan “Apa yang bisa saya dapatkan dari jabatan ini?”

Pelayanan masyarakat dapat terlihat dari banyak hal: mempermudah urusan administrasi, mendengar keluhan warga, membangun fasilitas umum, memperjuangkan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan rakyat. Ketika pejabat bekerja dengan semangat melayani, maka masyarakat akan merasakan manfaat nyata.
Seorang birokrat seperti Yakob Kareth yang dipercaya memegang jabatan tinggi tentu diharapkan mampu menghadirkan pelayanan yang baik. Jabatan tidak diukur dari kursi yang diduduki, tetapi dari manfaat yang dirasakan masyarakat.

Semangat melayani juga berlaku dalam kehidupan biasa. Guru melayani murid, dokter melayani pasien, pedagang melayani pembeli, dan orang tua melayani keluarga. Siapa pun yang hidup dengan semangat melayani akan membawa kebaikan bagi sesama.

Penutup

Meniti karier bukan hanya soal naik jabatan, mendapat gaji besar, atau memiliki kedudukan tinggi. Karier sejati dibangun di atas nilai-nilai yang kokoh. Dari perjalanan birokrat seperti Yakob Kareth, kita belajar bahwa kerja keras, loyalitas pada tugas, rendah hati, mau belajar, dan semangat melayani masyarakat adalah kunci penting menuju keberhasilan.

Nilai-nilai ini tidak lekang oleh waktu. Di mana pun seseorang bekerja, prinsip-prinsip tersebut tetap relevan. Orang yang rajin bekerja, setia pada tanggung jawab, rendah hati, terus belajar, dan melayani dengan tulus akan memiliki masa depan yang baik.

Jabatan bisa datang dan pergi, tetapi karakter akan selalu tinggal. Karena itu, jika ingin meniti karier yang bermakna, bangunlah diri dengan nilai-nilai yang benar. Dengan demikian, keberhasilan yang diraih bukan hanya membanggakan diri sendiri, tetapi juga membawa manfaat bagi banyak orang.

Sorong, 22 April 2026

Penulis: Agustinus Jehurung, S.Fil., Gr.
Guru SMAN 4 Kota Sorong

  • Penulis: Nasarius Fidin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dr. Mantovanny Tapung: “Fenomena Hiperrealitas vs Pengabdian sebagai Panggilan Hati” Ulasan Bedah Buku: Gigih: Sebuah Catatan Pengabdian, Karya Ir. Boni Hasudungan Siregar

    Dr. Mantovanny Tapung: “Fenomena Hiperrealitas vs Pengabdian sebagai Panggilan Hati” Ulasan Bedah Buku: Gigih: Sebuah Catatan Pengabdian, Karya Ir. Boni Hasudungan Siregar

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 673
    • 6Komentar

    Detikbernas.com, Borong, 1 Mei 2026 – Puncak kegiatan Expo Pendidikan V Manggarai Timur yang berlangsung di Lapangan Depan Pertamina Borong, Sabtu (1/5/2026), menghadirkan momentum reflektif melalui kegiatan bedah buku bertajuk “Gigih: Sebuah Catatan Pengabdian”, karya Ir. Boni Husadungan Siregar. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda utama expo pendidikan sekaligus bentuk penghargaan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur […]

  • Menantang Batas Membangun Seni Kepemimpinan Pendidikan Transformasional dan Visioner Dewasa Ini

    Menantang Batas: Membangun Seni Kepemimpinan Pendidikan Transformasional dan Visioner Dewasa Ini

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 924
    • 12Komentar

    Dewasa ini, pendidikan tengah berada dalam pelbagai tantangan yang menghambat perkembangan dan kemajuan hidup. Persaingan teknologi menjebak karakter seseorang. Hal itu berdampak pada krisis moral dan identitas serta persoalan sosial dapat menguras keseimbangan intelektual dan mentalitas manusia (Lickona, 2013). Namun di tengah realitas seperti itu, pendidikan administratif dan birokratif masih menjadi senjata ampuh untuk menunjang […]

  • Strategi Petani Satarmese Barat Mendukung Kebutuhan Objek Wisata Waerebo

    Strategi Petani Satarmese Barat Mendukung Kebutuhan Objek Wisata Waerebo

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 216
    • 0Komentar

    Menjadi petani modern merupakan itu yang dirindukan oleh setiap petani di tengah kemajuan dunia pariwisata. Petani dengan pelbagai kualitas sumber daya manusia-nya (SDM) dapat meningkatkan transformasi ekonomi pertanian berkelanjutan di Manggarai khususnya wilayah Satarmese Barat. Hal ini menjadi realitas ideal tatkala masyarakat memiliki ideologi yang sama. Namun secara faktual, para petani masih berkutat pada cara […]

  • Kita Lulus Sekolah, Tapi Gagal Lulus Jadi Manusia

    Kita Lulus Sekolah, Tapi Gagal Lulus Jadi Manusia

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 353
    • 0Komentar

    Kelulusan adalah moment yang dinantikan seseorang pada fase titik terakhir. Dulu waktu upacara, kita semua bangga, senang, dan bahagia. Toga dipakai, ijazah dipegang, orang tuan tepuk tangan meriah. Katanya kita sudah “lulus”. Tapi coba kita amati bersama di sekeliling kita sekarang, beberapa banyak sarjana yang tidak mau antre? Berapa banyak anak mendapat nilai tinggi dengan […]

  • Foto bersama pastor Paroki Todo dengan para panitia Paskah tahun 2026.

    Paskah di Paroki Todo, Ini Syarat Jadi Katolik Sejati

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 875
    • 2Komentar

    Detikbernas.com – Dalam Perayaan Tri Hari Suci di Gereja Ratu Para Rasul dan St. Hendrikus Todo, RD. Urbanus Jatang, Pr memberikan kesadaran mendalam kepada umat terkait syarat menjadi Katolik sejati yakni kesetiaan untuk mencintai Ekaristi yang menjadi puncak iman kristiani. “Orang katolik harus mencintai Ekaristi, kalau dia tidak mencintai Ekaristi, dia bukan orang katolik yang […]

  • 5 Puisi terbaik Karya Artemius Janu

    5 Puisi terbaik Karya Artemius Janu

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Nasarius Fidin
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Langit biru merona merah,Matahari membakar tanpa cela,Tanah retak memanggil hujan,Namun awan tak kunjung tiba dan berdatangan Tenggorokan kering, kerontang,Sumur tua tidak lagi terbayangJauh berjalan kaki melangkahMencari setetes air yang tak kunjung datang Dimana bening itu sekarang?Mengapa pergi tinggalkan sunyi?Jerigen plastik berbaris antreMenanti harapan di musim kemarau yang garingMenanti tergugah hati sang penguasa Ya Allah, turunkan […]

expand_less