Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » NEWS » Kita Lulus Sekolah, Tapi Gagal Lulus Jadi Manusia

Kita Lulus Sekolah, Tapi Gagal Lulus Jadi Manusia

  • account_circle admin
  • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
  • visibility 353
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kelulusan adalah moment yang dinantikan seseorang pada fase titik terakhir. Dulu waktu upacara, kita semua bangga, senang, dan bahagia. Toga dipakai, ijazah dipegang, orang tuan tepuk tangan meriah. Katanya kita sudah “lulus”. Tapi coba kita amati bersama di sekeliling kita sekarang, beberapa banyak sarjana yang tidak mau antre? Berapa banyak anak mendapat nilai tinggi dengan IPL 4,00 yang tidak sanggup minta maaf duluan? Berapa banyak lulusan sekolah-sekolah elit dan favorit yang jago debat dan bicara di medsos tapi gagu kalau disuruh berbicara di depan orang banyak bahkan sama tetangga sendiri.

Kita lulus sekolah. Tapi banyak dari kita gagal lulus jadi manusia.

  1. Sekolah Mengajari Kita Menang, bukan Mengerti

Dari SD sampai kuliah kita diajari bagaimana cara mendapatkan nilai 100. Hafalan rumus. Pilihan jawaban A, B, C, D, E. Siapa cepat dia dapat. Rangking 1 dipajang, rangking terakhir di sindir. Kita jadi ahli mencari benar salah di atas kertas ujian, tapi gagab membedakan benar salah di kehidupan nyata.
Akibatnya lahir generasi yang pintar berargumen tapi miskin mendengarkan. Yang cepat menghakimi tapi lambat memahami. Yang bisa bikin esai 5 halaman tentang toleransi tapi memblokir teman sendiri Cuma karena berbeda pilihan dalam kompetisi. Kita di ajari kompetisi, tapi lupa di ajari koeksistensi.

  1. Ijasah Bisa Dilipat, Karakter Tidak

Saatnya perusahaan menjadi pusing. Banyak pelamar yang nilai nya cum laude, tapi baru ditegur atasan sedikit sudah ingin keluar resign. Di suruh kerja banyak tidak mau, di suruh kerja tim malah mau menang sendiri
Dunia kerja tanya kamu dapat A di mata kuliah apa. Dunia kerja tanya: kamu bisa dipercaya atau tidak? Kamu bisa kerja tim atau tidak? Kamu bisa gagal terus bangkit lagi atau tidak? Sayangnya, itu tidak ada dalam silabus dan PMM.
Kita terlalu sibuk mengajar hard skil sampai lupa human skill. Padahal yang bikin seseorang bertahan di kantor, di rumah tangga, di masyarakat, justru yang kedua. Empati, tanggung jawab, rendah hati dan tahu diri.

  1. Rumah Lupa Jadi Sekolah Pertama

Sekolah juga tidak bisa di salahkan sendirian. Banyak anak datang ke sekolah dalam kondisi “kosong” di rumah tidak pernah di ajarkan bilang tolong, minta maaf, terima kasih. Tidak pernah melihat orang tuanya mengalah, tidak pernah diajari bahwa kalah debat sama keluarga itu adalah sebuah aib.
Orang tua menuntut anak dapat rangking atau juara bahkan nilai yang baik tapi lupa cara melaksanakan pendidikan dalam keluarga. Nuntut anak masuk kampus negeri yang elit, tapi anak menangis karena terlalu di manja. Kita mau anak jadi pintar, tapi kita tidak kasih contoh jadi manusia.

Jadi, Ujian Sebenarnya Ada Di Luar Pagar Sekolah
Lulus jadi manusia itu ujiannya setiap hari. Ujiannya pas melihat orang lagi jatuh, kamu tertawa atau menolongnya? Pas kita antre panjang kamu serobot atau tetap bersabar? Pas kamu salah kamu menyangkal atau kamu mengakuinya?
Nilai ujian ini tidak ada ijasah ny. Tapi justru nilai ini yang bakal ditanya anak kita nanti nya, generasi kita, yang bakal di ingat sekitar kita dan yang bakal di ingat sampai mati.
Mungkin sudah waktu nya kita berhenti bertanya “anak kamu rangking berapa”? dan mulai tanya, anak kamu terakhir bantu orang nya kapan? Sudah waktunya sekolah tidak Cuma bangga dengan jumlah siswa yang lolos TNI, POLRI, dan masuk perguruan tinggi negeri, tapi bangga kalau lulusannya dikenal sebagai orang yang jujur dan bisa diandalkan.
Karena percuma pintar setinggi langit, kalau adab serendah tanah bahkan di dalam tanah itu sendiri. Percuma toga mentereng kalau hati tetap kosong. Kita semua pernah lulus sekolah. Pertanyaan terbesarnya adalah kapan kita mau lulus jadi manusia?

  1. Lupa Mengajarkan Cara Gagal dan Minta Maaf

Sekolah kita terlalu takut dengan kata “gagal”. Ulangan remedial dianggab aib, nilai merah harus disembunyikan. Akibatnya kita tumbuh jadi orang dewasa yang panik saat salah sedikit, gampang baperan ketika di kritik, susah mengatakan kata maaf, bahwa aku yang salah.
Padahal jadi manusia itu paket lengkap, bisa sukses, bisa gagal, bisa minta maaf, bisa memaafkan. Kita tidak pernah di ajarkan bahwa jatuh itu normal. Yang tidak normal itu adalah jatuh terus menyalahkan lantai. Kita tidak pernah di kasih tau bahwa minta maaf duluan bukan berarti kalah, itu berarti dewasa

  1. Terus Harus Bagaimana? Mulailah Dari 3 Hal Kecil Ini

Berbicara masalah terlalu gampang, yang paling susah adalah mulai membenarkan. Tidak bisa menunggu kurikulum berubah, tidak bisa menunggu menteri baru, mulailah dari diri sendiri :
“Rumah jadi sekolah adab”
“Sekolah jadi porsi “ pelajaran hidup”
“Kita berhenti mengukur orang dari ijazah”

Ijazah Kedaluarsa, Kemanusian Tidak

15 tahun lagi, tidak ada yang peduli kamu lulus dari SMA mana, tidak ada yang tanya kamu IPK berapa, tapi orang akan ingat kamu bisa kerja sama atau tidak? kamu bisa dipercaya atau tidak? kamu hadir dalam kesusahan orang lain atau tidak?
Itu raport yang nilai nya berlaku seumur hidup. Dan sayangnya, itu raport yang tidak bisa dicontek.
Jadi sebelum kita sibuk menyuruh anak untuk nilai 100, pastikan dulu kita dapat nilai 100 di mata anak-anak kita sebagai manusia. Sebelum anak masuk pergurun tinggi yang baik, bangga dulu kalau anak kita tidak jadi orang baik yang menginjak orang lain.
Karena tujuan akhir pendidikan bukan wisuda. Tujuan akhirnya adalah pas kita tidak ada, orang bilang “anaknya baik, kayak bapaknya”. Itu baru lulus benaran. Lulus sekolah tambah lulus jadi manusia.

  1. Kita Semua Ikut Andil: Bukan Cuman Sekolah Yang Salah

Sangat gampang menunjuk sekolah:
Kurikulumnya salah, gurunya kurang, tapi jujur, kita semua Dosa Kolektif.
Orang tua bangga kalau anaknya juara olimpiade, tapi biasa saja kalau anaknya berani mengaku menyontek.
Kita menuntut sekolah mencetak manusia, padahal di luar pagar sekolah kita sendiri sering tidak kasih contoh menjadi manusia. Anak lihat pejabat korupsi tapi tetap di hormati. Lihat orang buang sampah sembarangan sambil bawah mobil bagus, motor bagus, lihat konten kreator yang menyindir orang, lalu heran kenapa anak-anak kita bingung bedakan benar dan salah.
Sekolah Cuma 6-8 jam dalam satu hari. Sisa 16 Jam nya anak belajar dari kita. Dari apa yang kita tonton, apa yang kita bicarakan, dan apa yang kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari.

  1. Kalau Mau “Lulus Jadi Manusia”, Ini Standar Kelulusannya

Tidak ada Ujian Nasional nya, tidak ada ijazahnya. Tapi kita semua tahu kalau orang sudah lulus jadi manusia:
“Tahu Malu”
“Tahu Berterima kasih”
“Tahu diri”
“Berani bertanggung jawab”
Kalau 4 hal ini saja sudah lulus, mau ijazahnya SD atau S3 tidak ada bedanya. Dia manusia.

  1. PR Terbesar Kita Bukan Bangun IKN, Tapi Bangun Manusia

Negara Indonesia mau emas di 2045, mau IKN canggih, mau ekonomi top 5 dunia, tapi semua itu omong kosong kalau manusia nya masih hobi makan teman sendiri, makan hati rakyat, masih gampang di adu domba, masih tidak bisa kerja sama kecuali ada duitnya atau uangnya.
Negara maju bukan karena gedung nya tinggi, tapi karena manusia nya bisa kerja tanpa di suruh, bisa jujur tanpa diawasi, bisa beda pendapat tanpa bunuh-bunuhan.
Jadi PR kita bukan Cuma bikin anak pintar, PR kita : bikin anak tidak tega di buly, bukan Cuma bikin anak jago bahasa Inggris, tapi bikin anak tidak malu bahasa Indonesia dengan sopan.
Karena bangsa yang besar bukan bangsa yang banyak sarjananya. Tapi bangsa yang banyak manusia nya.
Mulai hari ini, sebelum tanya anak, “tadi dapat nilai berapa”? coba ganti jadi “ tadi kamu bikin siapa tersenyum di sekoalh”?
Kalau jawabannya “ada, tadi saya membantu teman yang sedang jatuh”, selamat. Anakmu sudah dapat nilai 100 di mata pelajaran paling penting : pelajaran jadi manusia.
Dan itu ijazah yang tidak akan pernah di tanya HRD, Pimpian kantor, TAPI akan di tanya TUHAN.

  1. Catatan Khusus Buat 3 Pihak

Kalau mau benaran berubah, ini PR spesifiknya:

Buat Guru:

Coba 1 tahun ini, kurangi 10 menit mengajar rumus. Pakai buat bahas, “kenapa menyontek itu bisa buat merugikan diri sendiri”? kasih tugas : “wawancara 1 orang dirumah tentang kegagalan terbesarnya”. Nilai A buat yang ceritanya paling jujur, bukan paling dramatis. Karena hidup tidak perlu basah-basih.

Buat Orang tua:

Anak tidak butuh kamu jadi sempurna, anak butuh didikan,butuh kehangatan dalam keluarga, kasih sayang dan perhatian penuh dalam keluarganya. Laksankan pendidikan dalam keluarga dengan baik, butuh lihat kamu bersabar atau tidak dalam kondisi perilaku anak, sehingga menjadikanmu dewasa. Itu kuliah karakter gratis setiap hari.

Buat Kita Yang Sudah Lulus Sekolah:

Silahkan cek, kita masih menyimpan “raport kemanusian” tidak? Tanya ke 3 orang terdekat kita: saya orangnya seperti apa menurut kamu? Kalau jawabannya bikin malu, berarti kita perlu “remedial” . Untungnya, ujian jadi manusia bisa di ulang setiap detik. Tidak ada deadline nya.

  1. Terakhir: Judulnya Kita Balik

“Lulus sekolah, tapi gagal lulus jadi manusia” itu tamparan.
Tapi judul idealnya harus begini: Belajar Jadi Manusia Dulu, Sekolah Kemudian.
Karena kalau manusia nya benar, mau sekolah di mana saja dia akan tumbuh. Tapi kalau manusianya belum jadi, mau sekolah dimana pun juga hasilnya Cuma jadi “orang pintar yang Goblok.
Jadi sebelum sibuk daftar disekolah favorit dan elit buat anak, daftar dulu jadi orang tua yang favorit buat di tiru anak. Sebelum bangga anank bisa bahasa Inggris, bangga dulu kalau anak tidak malu pakai bahasa yang sopan.
Karena masa depan Indonesia tidak ditentuin sama berapa banyak kita cetak sarjana nya, engineer nya, Tapi sama berapa banyak kita cetak manusia yang tidak menyakiti manusia lain. Seperti hal nya para koruptor di negeri kita yang rakus akan harta rakyat, memerasnya lalu memakannya demi keopentingan pribadi. “seorang filsuf bernama Tom Crus” pernah mengatakan: siapkan 100 peti mati, 99 % untuk otang yang korupsi dan 1 % untuk menguji apakah kita korupsi atau tidak.
Itu baru Indonesia Emas. Bukan Emas di IKN, tapi Emas di hati orang-orangnya.

Oleh : Artemius Janu, S.Pd.,Gr
(Guru Geografi SMA Negeri 4 Satarmese)

Penulis

Admin adalah anak kampung yang punya kerinduan untuk mengubah dunia dengan cinta, kebenaran dan kebijaksanaan melalui goresan-goresan bernas. Setiap detik tulisan pasti bernas. Admin akan selalu mempublis tulisan yang menyejukkan dahaga para pembaca. Kiranya teman-teman pembaca selalu hadir dan betah untuk menikmati setiap suguhan pena detikbernas.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Film dalam Bingkai Budaya Ketika Tradisi Hanya Jadi Hiasan, dan Perlunya Imersi sebagai Jalan Keluar

    Film dalam Bingkai Budaya: Ketika Tradisi Hanya Jadi Hiasan, dan Perlunya Imersi sebagai Jalan Keluar

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 398
    • 19Komentar

    Setiap kali film Indonesia menampilkan tarian adat, upacara kematian yang megah, atau pakaian tradisional dengan warna-warna mencolok, kita sering bertepuk tangan. Kita merasa bangga. Kita berkata, “Wah, film ini mengangkat budaya!” Namun, setelah film usai, pertanyaan yang jarang kita ajukan adalah: Apakah budaya itu benar-benar menjadi jiwa cerita, atau hanya sekadar latar eksotis yang mempercantik […]

  • 12 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    12 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 1.456
    • 0Komentar

    Sayap pengetahuan melebarterbentang dari ujung ke ujung,menghajar dungumembongkar bodohmembrantas nakalmenyembuh luka Jiwa ilmu merasukimemanusiakan manusiamenerbitkan juta bukuberbagi inspirasi Dunia terus berubahpengetahuan ikut lebarkan sayapinsan perlu beradaptasihidup bermegah Pengetahuan menopang pikiranmewujud pada tingkah dan rasajadi kebiasaanmembentuk karakter hidupinsan kian bersinar Maju terus pantang mundurmemacu majujangan menolehhidup ini perjalananmenuju istana cinta Alam bawah sadar diafirmasiBerpikir majuhati mau […]

  • Yakb Kareth Sosok yang Selalu Belajar dalam Mengemban Amanah Birokrasi

    Yakub Kareth: Sosok yang Selalu Belajar dalam Mengemban Amanah Birokrasi

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 158
    • 3Komentar

    Dalam dunia birokrasi yang terus berkembang, seorang pemimpin tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman masa lalu. Perubahan zaman, kemajuan teknologi, serta kebutuhan masyarakat yang semakin dinamis menuntut setiap aparatur negara untuk terus belajar. Nilai inilah yang tampak kuat dalam diri Yakob Kareth, Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat Daya. Ia dikenal sebagai sosok birokrat yang selalu ingin […]

  • Foto bersama pastor Paroki Todo dengan para panitia Paskah tahun 2026.

    Paskah di Paroki Todo, Ini Syarat Jadi Katolik Sejati

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 874
    • 2Komentar

    Detikbernas.com – Dalam Perayaan Tri Hari Suci di Gereja Ratu Para Rasul dan St. Hendrikus Todo, RD. Urbanus Jatang, Pr memberikan kesadaran mendalam kepada umat terkait syarat menjadi Katolik sejati yakni kesetiaan untuk mencintai Ekaristi yang menjadi puncak iman kristiani. “Orang katolik harus mencintai Ekaristi, kalau dia tidak mencintai Ekaristi, dia bukan orang katolik yang […]

  • Dr. Mantovanny Tapung: “Fenomena Hiperrealitas vs Pengabdian sebagai Panggilan Hati” Ulasan Bedah Buku: Gigih: Sebuah Catatan Pengabdian, Karya Ir. Boni Hasudungan Siregar

    Dr. Mantovanny Tapung: “Fenomena Hiperrealitas vs Pengabdian sebagai Panggilan Hati” Ulasan Bedah Buku: Gigih: Sebuah Catatan Pengabdian, Karya Ir. Boni Hasudungan Siregar

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 672
    • 6Komentar

    Detikbernas.com, Borong, 1 Mei 2026 – Puncak kegiatan Expo Pendidikan V Manggarai Timur yang berlangsung di Lapangan Depan Pertamina Borong, Sabtu (1/5/2026), menghadirkan momentum reflektif melalui kegiatan bedah buku bertajuk “Gigih: Sebuah Catatan Pengabdian”, karya Ir. Boni Husadungan Siregar. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda utama expo pendidikan sekaligus bentuk penghargaan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur […]

  • Menimba Oase Dari Drs Yakob Kareth, M.Si Sang Birokrat Ulung Dari Tanah Papua Surga Kecil Yang Jatuh ke Bumi

    Menimba Oase Dari Drs. Yakob Kareth, M.Si Sang Birokrat Ulung Dari Tanah Papua Surga Kecil Yang Jatuh ke Bumi

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Nasarius Fidin
    • visibility 756
    • 0Komentar

    Meniti karier, khususnya di dunia birokrasi, bukanlah perjalanan singkat yang dapat diraih dalam semalam. Karier yang baik dibangun melalui proses panjang, kerja keras, ketekunan, dan komitmen yang terus dijaga dari waktu ke waktu. Banyak orang melihat jabatan tinggi sebagai puncak keberhasilan, tetapi sering kali lupa bahwa di balik jabatan itu ada perjalanan penuh tantangan, pengorbanan, […]

expand_less