Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » NEWS » Pendidikan: Antara Janji Merdeka dan Realita Yang Terpenjara

Pendidikan: Antara Janji Merdeka dan Realita Yang Terpenjara

  • account_circle admin
  • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
  • visibility 284
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Merdeka. Kata itu sering ditulis Ki Hajar Dewantara di atas sekolah pertamanya. “Merdekakan manusia”, katanya. Bukan Cuma merdeka dari penjajah, tapi merdeka pikirannya, merdeka batinnya, merdeka jadi diri sendiri.

100 tahun kemudian, kita punya jutaan lebih anak sekolah. Kurikulum merdeka. Kampus merdeka. Guru penggerak. Semua ada kata “merdeka”. Tapi cobalah kita bertanya jujur kepada anak-anak SMP dan SMA sekarang, kamu merasa merdeka tidak di sekolah?

Jawabannya menyentuh hati. Karena janji merdeka itu masih jauh. Realitanya? Pendidikan kita masih terpenjara.

  1. Terpenjara oleh Nilai Di atas Kertas
    Janji pendidikan: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Realita: mencerdaskan cara untuk mendapatkan nilai 100 atau nilai bagus.

Anak-anak kita merdeka memilih ekstrakurikuler, tapi tidak merdeka pilih untuk tidak ikut les tambahan. Merdeka pilih jurusan kuliah, tapi tidak merdeka bilang “saya tidak mau jadi guru, tidak mau jadi dokter dan profesi lainnya ke orang tua.

Kita bilang bahwa kurikulum merdeka bikin siswa bisa eksplorasi minat. Tapi begitu raport keluar, yang ditanya itu rangking berapa?. Guru merdeka mengajar, tapi tetap dikejar target ketuntasan materi 100 % sebelum PTS atau UAS berlangsung. Kalau tidak tercapai, dibilang bahwa guru itu tidak kompoten atau tidak berkemampuan.
Hasilnya? Semua peserta lulus dengan nilai baik, tapi tidak tau dia suka nya apa. Guru lulus sertifikasi, tapi ngantuk di kelas karena mengurus begitu banyak materi untuk persiapan mengajar. Kita semua merdeka di kertas tapi terpenjara di angka.

  1. Terpenjara oleh Tembok Kelas Yang tidak Relevan

Ada janji merdeka belajar: bahwa sekolah lebih dekat dengan dunia nyata.
Realita : dunia nyata sudah pakai teknologi canggi, sekolah masih sibuk melarang anak bawah hp ke sekolah.
Anak SD dan SMP bisa edit video 1 juta vievs dari rumahnya, tapi di sekolah disuruh bikin kliping dari koran. Anak SMA jago jualan di shopee, tapi mata pelajaran kewirausahaan masih mengajari buat proposal ke bank. Kita bicara merdeka berinovasi., tapi ruang kelasnya masih format ceramah satu arah dan di tambah papan tulis terpapar di depan kelas.

Anak merasa sekolah itu penjara, bukan penjara fisik tapi penjara waktu. 7 jam sehari duduk, mendengarkan hal yang tidak tau di luar sana.begitu bel pulang, baru di merasa merdeka buat belajar hal yang dia suka: dari YouTube, dari Internet dan dari ChatGPT. Sangat Ironis sekali. Yang buat merdeka pintar justru yang dilarang sekolah.

  1. Terpenjara oleh Beban Administrasi Bernama “Merdeka”

Sulit sekali dan ini yang paling pahit. Atas nama merdeka belajar, guru semakin tidak merdeka. Mau jadi guru penggerak? Silahkan isi belasan modul, unggah aksi nyata, buat laporan refleksi. Mau sekolah dapat BOS kinerja silahkan input raport pendidikan, susun perencanaan berbasis data, sinkron ARKAS. Mau Akkreditasi? Siapkan 8 standar dalam ratusan dokumen.

Guru yang harusnya mikirin “bagaimana cara membuat anak di pojok belakang itu bisa berbicara, malam berpikir “bagaimana buat LKPD biar lolos penilain”. Waktu buat peserta didik dipenjara oleh waktu buat aplikasi.
Kita merdeka tahun 1945. Kita merdeka dari penjajah Belanda. Tapi terjajah oleh exel, word, PDF, dan dealine upload.

  1. Terus, Kuncinya Dimana?

Merdeka itu bukan dikasih. Merdeka itu diambil, dan buat ambilnya 3 penjara ini yang harus kita bobol bersama.

Bobol penjara Nilai: Berani Definisi Ulang “Pintar”

Berhenti bertanya “kamu dapat nilai berapa hari ini?”. Ganti jadi “kamu kemarin buat bangga karena apa?’. Kalau anak bisa bongkar mesin motor sendiri pada SMK, itu pintar. Kalau anak bisa menangani adiknya yang menangis, itu pintar. Kalau raport boleh tidak 100, asal mental nya tidak 0 sama sekali.
Sekolah harus berani kasih raport narasi. Anak hebat di kolaborasi, tapi perlu latiha deadline. Itu lebih merdeka dari pada angka 90 yang tidak bicara apa-apa.

Bobol Penjara Tembok Kelas: Kasih Anak masalah Nyata

Ganti memberi tugas “buat makalah Globalisasi” menjadi “wawancara kejadian nyata dekat rumah”: apa masalahnya?.

Ganti PR Matematika “hitung luas trapesium” menjadi “ukur kelas kita, butuh cat berapa kaleng kalau 1 kaleng untuk 5 Meter persegi?’’
Biar anak-anak merasakan: ilmu itu alat, bukan hukuman. Kalau sudah merasa gunanya seperti apa, tidak perlu disuruh, dia bakal belajar sendiri. Itu merdeka benaran.

Bobol Penjara Administrasi: Percaya Sama Guru.

Kementrian pendidikan dan kebudayaan harus berani: pangkas 80 % administrasi guru. Ganti laporan 30 halaman menjadi 1 video berdurasi 2 menit.
Kalau kita tidak percaya guru, mengapa kita rekrut mereka? Kasih guru merdeka, baru dia bisa memerdekakan murid. Sesimpel itu saja.

Penutup

Merdeka Itu Bukan Seragam.
Bapak Pendidikan kita Ki Hajar Dewantara, tidak pernah bilang, seragam harus putih abu-abu. Tidak pernah bilang bangku harus berbaris. Dia Cuma bilang: “ Didiklah anak sesua kodrat zaman nya” .
Kodrat zaman sekarang: anak bisa aksen info secepat kedipan mata. Kodrat zaman sekarang: anak gampang cemas, gampang kesepian.

Jadi kalau pendidikan kita masih buat anak takut bertanya, takut salah, takut beda, berarti kita belum merdeka. Kita baru ganti seragam penjajahnya saja. Dari kompeni menjadi menjadi kurikulum yang kaku.

Pendidikan yang merdeka itu sederhana: pas lulus, anak tidak Cuma bawah ijazah. Tapi bawah keberanian.berani mikir, berani beda, berani menjadi diri sendiri.
Sampai hari itu datang, kita masih punya PR: Bebaskan pendidikan dari penjara yang kita bikin sendiri.

Karena bangsa yang tidak merdeka pikirannya, selamanya akan terjajah. Walaupun kita mengikuti upacara setiap senin.

Oleh : Artemius Janu, S.Pd.,Gr (Guru Geografi SMA Negeri 4 Satarmese )

Penulis

Admin adalah anak kampung yang punya kerinduan untuk mengubah dunia dengan cinta, kebenaran dan kebijaksanaan melalui goresan-goresan bernas. Setiap detik tulisan pasti bernas. Admin akan selalu mempublis tulisan yang menyejukkan dahaga para pembaca. Kiranya teman-teman pembaca selalu hadir dan betah untuk menikmati setiap suguhan pena detikbernas.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Maju Pilkades 2026-2034 Pemuda Kreatif Ini Siap Sihir Todo Jadi Barometer Desa Wisata dan Sejahtera

    Maju Pilkades 2026-2034: Pemuda Kreatif Ini Siap Sihir Todo Jadi Barometer Desa Wisata dan Sejahtera

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 934
    • 19Komentar

    Todo, Detikbernas.com – Politik khususnya tingkat akar rumput seringkali terjebak dalam permainan dengan cara berpikir prakmatis dan janji-janji instan. Salah seorang anak muda desa wisata Todo, Robertus Tambi, SP berani mengambil keputusan untuk mencalonkan diri sebagai salah satu kandidat terkuat dalam pilkades 2026-2034. Kemunculan Robertus Tambi membawa angin segar untuk perubahan politik yang melampaui sekadar […]

  • Kisah Kelahiran dan Masa Kecil Yakob Kareth; Dari Kampung Sederhana Menuju Sekretaris Daerah

    Kisah Kelahiran dan Masa Kecil Yakob Kareth; Dari Kampung Sederhana Menuju Sekretaris Daerah

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Nasarius Fidin
    • visibility 323
    • 0Komentar

    Drs. Yakob M.Kareth, M.Si., bukanlah sosok asing di arena pelayanan publik di wilayah pemerintahan provinsi Papua Barat Daya. Ia adalah role model (panutan)yang memadukan Integritas, dedikasi dan kompetensi akademik yang briliant dengan jabatan strategis dibirokrasi pemerintahan sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Papua Barat Daya. Ia membawa aura profesionalisme berkat pencapaiannya di dunia akademik hingga menyandang […]

  • Gereja Paroki Todo Gelar Prosesi Patung Bunda Maria dari Niang Menuju Gereja

    Gereja Paroki Todo Gelar Prosesi Patung Bunda Maria dari Niang Menuju Gereja

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 774
    • 0Komentar

    Detikbernas.com – Perarakan patung Bunda Maria menjadi tradisi umat Katolik pada umumnya. Umat paroki Todo menggelar prosesi patung Bunda Maria itu secara berbeda mulai dari Niang (rumah kerucut) menuju gereja paroki, Jumat, (01/05/2026). Kampung adat yang menyimpan jejak leluhur itu dijadikan titik awal prosesi tersebut. Seluruh umat paroki melangkah bersama sebagai simbol peziarahan spiritual yang […]

  • Merajut Asa, Menggapai Impian

    Merajut Asa, Menggapai Impian

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 295
    • 0Komentar

    Langkah kecilnya tertatih, menyusuri setapak di pinggir hutan. Sepatu robek dengan kaus kaki lusuh dan usang. Wajahnya tetap ceria dengan sesunging senyum mengiring langkah. Bercengkerama dan bercanda ria bersama sahabat-sahabatnya, menyusuri setapak di tengah hutan dalam suasana ceria dan gembira. Bukan jalan aspal mulus berkendara sepeda motor apalagi mobil mewah. Itulah keseharian Agnes, seorang gadis […]

  • Kokohnya Semangat Dalam Membangun Pendidikan

    Kokohnya Semangat Dalam Membangun Pendidikan

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 722
    • 2Komentar

    Pendidikan penting bagi setiap pelajar di Indonesia, memiliki tekat kuat dan besar dalam membangun pendidikan. Melakukan sesuatu dengan rencana, jika benar rencana tersebut pun akan berjalan dengan baik. Setiap pelajar mungkin bosan dengan adanya tugas yang selalu menumpuk, tapi ini bagian dari proses untuk masa depan yang baik, tidak pernah bosan dengan yang namanya pendidikan. […]

  • Sosok Sederhada Yakob Kareth Cermin Kepribadian Birokrat Teladan

    Sosok Sederhada Yakob Kareth: Cermin Kepribadian Birokrat Teladan

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 185
    • 0Komentar

    Di tengah dunia birokrasi yang sering dipandang penuh formalitas dan jarak antara pejabat dengan masyarakat, sosok Yakob Kareth hadir dengan karakter yang berbeda. Sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat Daya, ia dikenal bukan hanya karena pengalaman dan tanggung jawab besar yang diembannya, tetapi juga karena kesederhanaan yang melekat erat dalam dirinya. Nilai ini menjadi kekuatan […]

expand_less