Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » NEWS » Pendidikan: Antara Janji Merdeka dan Realita Yang Terpenjara

Pendidikan: Antara Janji Merdeka dan Realita Yang Terpenjara

  • account_circle admin
  • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
  • visibility 246
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Merdeka. Kata itu sering ditulis Ki Hajar Dewantara di atas sekolah pertamanya. “Merdekakan manusia”, katanya. Bukan Cuma merdeka dari penjajah, tapi merdeka pikirannya, merdeka batinnya, merdeka jadi diri sendiri.

100 tahun kemudian, kita punya jutaan lebih anak sekolah. Kurikulum merdeka. Kampus merdeka. Guru penggerak. Semua ada kata “merdeka”. Tapi cobalah kita bertanya jujur kepada anak-anak SMP dan SMA sekarang, kamu merasa merdeka tidak di sekolah?

Jawabannya menyentuh hati. Karena janji merdeka itu masih jauh. Realitanya? Pendidikan kita masih terpenjara.

  1. Terpenjara oleh Nilai Di atas Kertas
    Janji pendidikan: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Realita: mencerdaskan cara untuk mendapatkan nilai 100 atau nilai bagus.

Anak-anak kita merdeka memilih ekstrakurikuler, tapi tidak merdeka pilih untuk tidak ikut les tambahan. Merdeka pilih jurusan kuliah, tapi tidak merdeka bilang “saya tidak mau jadi guru, tidak mau jadi dokter dan profesi lainnya ke orang tua.

Kita bilang bahwa kurikulum merdeka bikin siswa bisa eksplorasi minat. Tapi begitu raport keluar, yang ditanya itu rangking berapa?. Guru merdeka mengajar, tapi tetap dikejar target ketuntasan materi 100 % sebelum PTS atau UAS berlangsung. Kalau tidak tercapai, dibilang bahwa guru itu tidak kompoten atau tidak berkemampuan.
Hasilnya? Semua peserta lulus dengan nilai baik, tapi tidak tau dia suka nya apa. Guru lulus sertifikasi, tapi ngantuk di kelas karena mengurus begitu banyak materi untuk persiapan mengajar. Kita semua merdeka di kertas tapi terpenjara di angka.

  1. Terpenjara oleh Tembok Kelas Yang tidak Relevan

Ada janji merdeka belajar: bahwa sekolah lebih dekat dengan dunia nyata.
Realita : dunia nyata sudah pakai teknologi canggi, sekolah masih sibuk melarang anak bawah hp ke sekolah.
Anak SD dan SMP bisa edit video 1 juta vievs dari rumahnya, tapi di sekolah disuruh bikin kliping dari koran. Anak SMA jago jualan di shopee, tapi mata pelajaran kewirausahaan masih mengajari buat proposal ke bank. Kita bicara merdeka berinovasi., tapi ruang kelasnya masih format ceramah satu arah dan di tambah papan tulis terpapar di depan kelas.

Anak merasa sekolah itu penjara, bukan penjara fisik tapi penjara waktu. 7 jam sehari duduk, mendengarkan hal yang tidak tau di luar sana.begitu bel pulang, baru di merasa merdeka buat belajar hal yang dia suka: dari YouTube, dari Internet dan dari ChatGPT. Sangat Ironis sekali. Yang buat merdeka pintar justru yang dilarang sekolah.

  1. Terpenjara oleh Beban Administrasi Bernama “Merdeka”

Sulit sekali dan ini yang paling pahit. Atas nama merdeka belajar, guru semakin tidak merdeka. Mau jadi guru penggerak? Silahkan isi belasan modul, unggah aksi nyata, buat laporan refleksi. Mau sekolah dapat BOS kinerja silahkan input raport pendidikan, susun perencanaan berbasis data, sinkron ARKAS. Mau Akkreditasi? Siapkan 8 standar dalam ratusan dokumen.

Guru yang harusnya mikirin “bagaimana cara membuat anak di pojok belakang itu bisa berbicara, malam berpikir “bagaimana buat LKPD biar lolos penilain”. Waktu buat peserta didik dipenjara oleh waktu buat aplikasi.
Kita merdeka tahun 1945. Kita merdeka dari penjajah Belanda. Tapi terjajah oleh exel, word, PDF, dan dealine upload.

  1. Terus, Kuncinya Dimana?

Merdeka itu bukan dikasih. Merdeka itu diambil, dan buat ambilnya 3 penjara ini yang harus kita bobol bersama.

Bobol penjara Nilai: Berani Definisi Ulang “Pintar”

Berhenti bertanya “kamu dapat nilai berapa hari ini?”. Ganti jadi “kamu kemarin buat bangga karena apa?’. Kalau anak bisa bongkar mesin motor sendiri pada SMK, itu pintar. Kalau anak bisa menangani adiknya yang menangis, itu pintar. Kalau raport boleh tidak 100, asal mental nya tidak 0 sama sekali.
Sekolah harus berani kasih raport narasi. Anak hebat di kolaborasi, tapi perlu latiha deadline. Itu lebih merdeka dari pada angka 90 yang tidak bicara apa-apa.

Bobol Penjara Tembok Kelas: Kasih Anak masalah Nyata

Ganti memberi tugas “buat makalah Globalisasi” menjadi “wawancara kejadian nyata dekat rumah”: apa masalahnya?.

Ganti PR Matematika “hitung luas trapesium” menjadi “ukur kelas kita, butuh cat berapa kaleng kalau 1 kaleng untuk 5 Meter persegi?’’
Biar anak-anak merasakan: ilmu itu alat, bukan hukuman. Kalau sudah merasa gunanya seperti apa, tidak perlu disuruh, dia bakal belajar sendiri. Itu merdeka benaran.

Bobol Penjara Administrasi: Percaya Sama Guru.

Kementrian pendidikan dan kebudayaan harus berani: pangkas 80 % administrasi guru. Ganti laporan 30 halaman menjadi 1 video berdurasi 2 menit.
Kalau kita tidak percaya guru, mengapa kita rekrut mereka? Kasih guru merdeka, baru dia bisa memerdekakan murid. Sesimpel itu saja.

Penutup

Merdeka Itu Bukan Seragam.
Bapak Pendidikan kita Ki Hajar Dewantara, tidak pernah bilang, seragam harus putih abu-abu. Tidak pernah bilang bangku harus berbaris. Dia Cuma bilang: “ Didiklah anak sesua kodrat zaman nya” .
Kodrat zaman sekarang: anak bisa aksen info secepat kedipan mata. Kodrat zaman sekarang: anak gampang cemas, gampang kesepian.

Jadi kalau pendidikan kita masih buat anak takut bertanya, takut salah, takut beda, berarti kita belum merdeka. Kita baru ganti seragam penjajahnya saja. Dari kompeni menjadi menjadi kurikulum yang kaku.

Pendidikan yang merdeka itu sederhana: pas lulus, anak tidak Cuma bawah ijazah. Tapi bawah keberanian.berani mikir, berani beda, berani menjadi diri sendiri.
Sampai hari itu datang, kita masih punya PR: Bebaskan pendidikan dari penjara yang kita bikin sendiri.

Karena bangsa yang tidak merdeka pikirannya, selamanya akan terjajah. Walaupun kita mengikuti upacara setiap senin.

Oleh : Artemius Janu, S.Pd.,Gr (Guru Geografi SMA Negeri 4 Satarmese )

Penulis

Admin adalah anak kampung yang punya kerinduan untuk mengubah dunia dengan cinta, kebenaran dan kebijaksanaan melalui goresan-goresan bernas. Setiap detik tulisan pasti bernas. Admin akan selalu mempublis tulisan yang menyejukkan dahaga para pembaca. Kiranya teman-teman pembaca selalu hadir dan betah untuk menikmati setiap suguhan pena detikbernas.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menantang Batas Membangun Seni Kepemimpinan Pendidikan Transformasional dan Visioner Dewasa Ini

    Menantang Batas: Membangun Seni Kepemimpinan Pendidikan Transformasional dan Visioner Dewasa Ini

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 844
    • 9Komentar

    Dewasa ini, pendidikan tengah berada dalam pelbagai tantangan yang menghambat perkembangan dan kemajuan hidup. Persaingan teknologi menjebak karakter seseorang. Hal itu berdampak pada krisis moral dan identitas serta persoalan sosial dapat menguras keseimbangan intelektual dan mentalitas manusia (Lickona, 2013). Namun di tengah realitas seperti itu, pendidikan administratif dan birokratif masih menjadi senjata ampuh untuk menunjang […]

  • Perjuangan; Seni Menata Masa Depan yang Indah

    Perjuangan; Seni Menata Masa Depan yang Indah

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 306
    • 0Komentar

    Hidup adalah perjuangan. Untuk menggapai kesuksesan, kita wajib mengenal keseluruhan diri baik kelebihan maupun keterbatasan. Dalam pengenalan diri, kita diibaratkan sebuah gelas kosong seperti yang telah digagas oleh seorang pemikir, John Locke. Ketika gelas kosong itu diisi dengan air sampai penuh, maka airnya itu akan berguna bagi siapa pun yang membutuhkannya. Demikian hidup ini, ketika […]

  • Suara Redaksi

    Detikbernas Tampil Bernas, Solutif dan Terpercaya

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 180
    • 0Komentar

      DETIKBERNAS.COM merupakan media online yang hadir karena adanya kerinduan bergelora dari salah seorang anak kampung ujung Nusantara. Kehadiran media ini bermaksud untuk menyejukkan dahaga masyarakat yang haus mengenai keadilan, kebenaran, kebahagiaan, kesejahteraan berpikir, hati dan kehendak bebas. Media ini tidak berfokus pada bagaimana melihat persoalah dari kacamata persoalan itu sendiri, tetapi bagaimana persoalan dikunyah […]

  • Penerimaan Komuni Pertama di paroki Todo Antara Budaya Pesta dan Perayaan Ekaristi terlupakan

    Penerimaan Komuni Pertama di Paroki Todo: Antara Budaya Pesta dan Perayaan Ekaristi terlupakan

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 171
    • 31Komentar

    Todo – Pastor paroki Ratu Para Rasul dan St. Hendrikus Todo, RD. Urbanus Jatang, Pr menyampaikan perihal perayaan Sakramen Maha Kudus lebih mementingkan pesta pora daripada yang paling esensial. Kemeriahan dekorasi pesta, menu resepsi yang lezat, dan kado-kado terindah menjadi prioritas kerinduan sementara esensi Perayaan Ekaristi dilupakan. “Persoalan yang sering ditemukan adalah orang menomorsatukan pestanya […]

  • Yakub Kareth Sosok Ugahari Yang Menjaga Martabat Birokrasi

    Yakub Kareth: Sosok Ugahari Yang Menjaga Martabat Birokrasi

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 113
    • 2Komentar

    Di tengah kehidupan birokrasi yang sering dipenuhi protokoler, fasilitas jabatan, dan berbagai bentuk penghormatan, sosok Yakob Kareth sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat Daya dikenal memiliki karakter ugahari—hidup sederhana, tahu batas, dan mampu menempatkan diri secara bijaksana. Sikap ini menjadi nilai penting yang melekat erat dalam dirinya, sekaligus menjadi teladan bahwa jabatan tinggi tidak harus […]

  • Mampau - Ulu Maor Satar Mese Barat(Merawat Asa yang sempat pudar: Kisah hidup saya dari lokasi proyek ke ruang kelas)

    Mampau – Ulu Maor Satar Mese Barat: Merawat Asa yang Sempat Pudar

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 511
    • 2Komentar

    Bagi saya, hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang. Ada perjalanan panjang mengejar kebenaran, ada juga yang mengejar kebahagiaan, dan ada pula yang mencari kedamaian. Selain itu, perjalanan panjang juga karena ketersestan di mana seseorang sudah kehilangan arah hidup, karena kekecewaan, dan karena keputusasaan. Dan, perjalanan karena kehilangan harapan inilah yang saya angkat dalam kisah ini. […]

expand_less