Yakub Kareth: Sosok Rendah Hati di Balik Jabatan Sekda Papua Barat Daya
- account_circle admin
- calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
- visibility 34
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto Yakub Kareth Sosok Rendah Hati di Balik Jabatan Sekda Papua Barat Daya
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di tengah hiruk-pikuk dunia birokrasi yang sering dipandang penuh formalitas dan jarak antara pemimpin dengan masyarakat, sosok Yakob Kareth sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat Daya menghadirkan warna yang berbeda. Ia dikenal bukan semata karena jabatan tinggi yang disandangnya, melainkan karena sikap rendah hati yang melekat kuat dalam dirinya. Kerendahan hati itu menjadi ciri khas yang membuat banyak orang merasa dekat, dihargai, dan didengar.
Bagi sebagian orang, jabatan sering kali menjadi alasan untuk meninggikan diri. Namun tidak demikian dengan Yakob Kareth. Semakin tinggi tanggung jawab yang diembannya, semakin terlihat kesederhanaan sikapnya. Ia mampu bergaul dengan siapa saja, baik pejabat, pegawai biasa, tokoh masyarakat, maupun warga kecil di kampung-kampung. Dalam perjumpaan dengan orang lain, ia tidak menempatkan dirinya di atas, tetapi hadir sebagai pelayan yang siap mendengar dan mencari solusi.
Kerendahan hati seperti ini sejalan dengan ajaran Kitab Suci. Dalam Mikha 6:8 tertulis: “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan daripadamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” Ayat ini menegaskan bahwa rendah hati bukan sekadar sikap sosial, melainkan nilai rohani yang berkenan di hadapan Tuhan. Seorang pemimpin sejati bukan hanya pandai memerintah, tetapi juga tahu merendahkan hati di hadapan sesama dan di hadapan Allah.
Sebagai birokrat, Yakob Kareth memahami bahwa kekuasaan hanyalah titipan. Jabatan bukan mahkota untuk dibanggakan, melainkan amanah untuk dijalankan dengan setia. Karena itu, dalam berbagai kesempatan, ia lebih suka bekerja nyata daripada mencari pujian. Ia tidak sibuk membangun citra diri, tetapi berusaha membangun pelayanan yang baik bagi masyarakat. Sikap ini menunjukkan kedewasaan karakter yang jarang dimiliki semua orang.
Dalam Amsal 22:4 dikatakan: “Ganjaran kerendahan hati dan takut akan Tuhan adalah kekayaan, kehormatan, dan kehidupan.” Kehormatan sejati lahir dari kerendahan hati. Orang yang rendah hati mungkin tidak selalu banyak bicara tentang dirinya, tetapi hidupnya akan berbicara melalui perbuatan. Demikian pula seorang pemimpin yang tulus bekerja akan dikenang bukan karena kemewahan jabatan, tetapi karena manfaat yang diberikannya bagi banyak orang.
Kerendahan hati juga tampak ketika seseorang bersedia menerima kritik dan terus belajar. Yakob Kareth dikenal sebagai pribadi yang terbuka terhadap masukan. Ia tidak menutup telinga terhadap pendapat bawahan atau masyarakat. Ia menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan tidak ada pemimpin yang mengetahui segala hal. Karena itu, ia memilih untuk terus belajar, mendengar, dan memperbaiki diri. Sikap ini mencerminkan hati yang matang dan bijaksana.
Yesus Kristus sendiri memberi teladan terbesar tentang kerendahan hati. Dalam Filipi 2:3-4 tertulis: “Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.” Nilai inilah yang sangat penting dalam kepemimpinan. Ketika seorang pemimpin lebih mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi, maka kepemimpinannya akan membawa damai dan kepercayaan.
Di Papua Barat Daya yang sedang bertumbuh dan membangun, dibutuhkan pemimpin-pemimpin yang bukan hanya cerdas secara administrasi, tetapi juga kuat dalam karakter. Kerendahan hati menjadi pondasi penting agar kekuasaan tidak berubah menjadi kesombongan. Yakob Kareth memberi gambaran bahwa seorang birokrat dapat tetap tegas dalam keputusan, namun lembut dalam sikap; dapat memimpin dengan wibawa, namun tetap merakyat.
Pada akhirnya, jabatan akan berlalu, masa tugas akan berakhir, dan nama besar bisa pudar oleh waktu. Tetapi karakter rendah hati akan tetap dikenang dalam hati banyak orang. Itulah warisan sejati seorang pemimpin. Sosok Yakob Kareth menunjukkan bahwa semakin tinggi seseorang naik, semakin penting baginya untuk tetap membumi.
Sebagaimana tertulis dalam Yakobus 4:10: “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.” Ayat ini mengajarkan bahwa peninggian sejati datang dari Tuhan, bukan dari manusia. Dan melalui sikap rendah hati yang terpancar dalam keseharian, Yakob Kareth menjadi contoh bahwa birokrat yang baik bukanlah yang paling ditakuti, tetapi yang paling dihormati karena ketulusan hati dan kerendahan dirinya.
Penulis: Agust Jehurung, S.Fil, Gr
Penulis admin
Admin adalah anak kampung yang punya kerinduan untuk mengubah dunia dengan cinta, kebenaran dan kebijaksanaan melalui goresan-goresan bernas. Setiap detik tulisan pasti bernas. Admin akan selalu mempublis tulisan yang menyejukkan dahaga para pembaca. Kiranya teman-teman pembaca selalu hadir dan betah untuk menikmati setiap suguhan pena detikbernas.

Saat ini belum ada komentar