Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » NEWS » Dr. Mantovanny Tapung: “Fenomena Hiperrealitas vs Pengabdian sebagai Panggilan Hati” Ulasan Bedah Buku: Gigih: Sebuah Catatan Pengabdian, Karya Ir. Boni Hasudungan Siregar

Dr. Mantovanny Tapung: “Fenomena Hiperrealitas vs Pengabdian sebagai Panggilan Hati” Ulasan Bedah Buku: Gigih: Sebuah Catatan Pengabdian, Karya Ir. Boni Hasudungan Siregar

  • account_circle admin
  • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
  • visibility 746
  • comment 6 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Detikbernas.com, Borong, 1 Mei 2026 – Puncak kegiatan Expo Pendidikan V Manggarai Timur yang berlangsung di Lapangan Depan Pertamina Borong, Sabtu (1/5/2026), menghadirkan momentum reflektif melalui kegiatan bedah buku bertajuk “Gigih: Sebuah Catatan Pengabdian”, karya Ir. Boni Husadungan Siregar.

Kegiatan ini menjadi salah satu agenda utama expo pendidikan sekaligus bentuk penghargaan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur kepada Pak Boni atas dedikasi dan pengabdiannya selama puluhan tahun bagi masyarakat Manggarai Timur menjelang masa purna tugasnya beberapa bulan mendatang.

Dalam sesi ulasan, Dr. Mantovanny Tapung mengangkat tema “Fenomena Hiperrealitas vs Pengabdian sebagai Panggilan Hati” dengan menyoroti tantangan zaman modern melalui perspektif pemikiran Jean Baudrillard (1929–2007) tentang simulacra—suatu kondisi ketika representasi dianggap lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri.

Menurutnya, masyarakat hari ini hidup dalam pusaran hiperrealitas: tampak saling terhubung, tampak harmonis, tampak melayani, tetapi kerap hanya menjadi panggung simbolik yang kehilangan keaslian makna.

“Di tengah budaya pencitraan dan viralitas, kita sering terjebak pada kenyataan semu, di mana sesuatu yang tampak nyata, tetapi kehilangan substansi kemanusiaannya,” ungkap Dr. Mantovanny di hadapan peserta expo. Ia menjelaskan bahwa di era digital, relasi sosial sering kali dikurasi sedemikian rupa untuk terlihat ideal, padahal tidak selalu mencerminkan kehadiran, empati, dan pengabdian yang nyata.

Berangkat dari kerangka itu, Dr. Mantovanny menempatkan sosok Pak Boni sebagai antitesis dari hiperrealitas. Menurutnya, pengabdian Pak Boni tidak dibangun di atas pencitraan, melainkan kerja nyata, kesetiaan panjang, dan pelayanan tulus bagi masyarakat Manggarai Timur.

Sosok birokrat berdarah Batak yang memilih mengabdi di Tanah Congkasae ini dinilai memperlihatkan bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu tampil gemerlap, tetapi bekerja dalam diam dan meninggalkan dampak nyata.
Bedah buku ini sekaligus menjadi penghormatan moral bahwa pengabdian sejati bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati: tentang memilih hadir, melayani, dan memberi makna bagi sesama.

Selain Dr. Mantovanny Tapung, kegiatan bedah buku ini juga menghadirkan Dr. Agustinus Manfred Habur sebagai pembedah lainnya. Acara tersebut dihadiri guru-guru, kepala sekolah, siswa-siswi peserta expo, unsur Forkopimda, serta anggota DPRD Manggarai Timur. Kehadiran berbagai elemen ini memperlihatkan apresiasi kolektif terhadap pengabdian panjang Pak Boni bagi pembangunan daerah, khususnya pelayanan publik dan pendidikan.

Karya: Ir. Boni Husadungan Siregar
Editor: Nardy Jaya

Penulis

Admin adalah anak kampung yang punya kerinduan untuk mengubah dunia dengan cinta, kebenaran dan kebijaksanaan melalui goresan-goresan bernas. Setiap detik tulisan pasti bernas. Admin akan selalu mempublis tulisan yang menyejukkan dahaga para pembaca. Kiranya teman-teman pembaca selalu hadir dan betah untuk menikmati setiap suguhan pena detikbernas.

Komentar (6)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kokohnya Semangat Dalam Membangun Pendidikan

    Kokohnya Semangat Dalam Membangun Pendidikan

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 774
    • 2Komentar

    Pendidikan penting bagi setiap pelajar di Indonesia, memiliki tekat kuat dan besar dalam membangun pendidikan. Melakukan sesuatu dengan rencana, jika benar rencana tersebut pun akan berjalan dengan baik. Setiap pelajar mungkin bosan dengan adanya tugas yang selalu menumpuk, tapi ini bagian dari proses untuk masa depan yang baik, tidak pernah bosan dengan yang namanya pendidikan. […]

  • Antara Altar dengan Tenda Pesta 253 Anak Se-paroki Todo Menerima Tubuh dan Darah Kristus

    Antara Altar dengan Tenda Pesta: 252 Anak Se-paroki Todo Menerima Tubuh dan Darah Kristus

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 619
    • 19Komentar

    Todo, Detikbernas.com – Altar Paroki Todo menjadi ruang penuh sukacita dan saksi perayaan iman dan cinta dalam peziarahan rohani Katolik. Sejumlah 252 anak dari 13 sekolah Dasar (SD) se-Paroki Todo telah menerima first holly communion (komuni pertama). Perayaan komuni pertama itu menjadi ruang perjumpaan antara makna teologis, filosofis, kosmologis tradisi Manggarai dan pendidikan karakter siswa/i […]

  • Gagal panen menjadi momok yang menakutkan para petani. Beberapa tahun terakhir, bencana gagal panen menimbulkan banyak pertanyaan. Pasalnya, para petani sangat profesional dalam bertani, khususnya dalam mengolah tanah untuk berbagai tanaman seperti padi, pisang, dan sebagainya. Pertanyaannya, mengapa terjadi demikian? Gagal panen disebabkan oleh pelbagai faktor. Selain cara bertani konvensional juga faktor alam seperti musim tak menentu. Beberapa tahun terakhir, musim kemerau panjang berdampak pada menurun drastisnya penghasilan perekonomian di wilayah Manggarai. Persoalan gagal panen menjadi duka bersama khususnya para petani yang dapat mengguncang kestabilan kesejahteraan.

    Realitas Gagal Panen Di Manggarai: Bencana Rumah Tangga dan Ironi Transformasi Ekonomi Berkelanjutan

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 385
    • 1Komentar

    Gagal panen menjadi momok yang menakutkan para petani. Beberapa tahun terakhir, bencana gagal panen menimbulkan banyak pertanyaan. Pasalnya, para petani sangat profesional dalam bertani, khususnya dalam mengolah tanah untuk berbagai tanaman seperti padi, pisang, dan sebagainya. Pertanyaannya, mengapa terjadi demikian? Gagal panen disebabkan oleh pelbagai faktor. Selain cara bertani konvensional juga faktor alam seperti musim […]

  • Yakub Kareth Sosok Ugahari Yang Menjaga Martabat Birokrasi

    Yakub Kareth: Sosok Ugahari Yang Menjaga Martabat Birokrasi

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 199
    • 2Komentar

    Di tengah kehidupan birokrasi yang sering dipenuhi protokoler, fasilitas jabatan, dan berbagai bentuk penghormatan, sosok Yakob Kareth sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat Daya dikenal memiliki karakter ugahari—hidup sederhana, tahu batas, dan mampu menempatkan diri secara bijaksana. Sikap ini menjadi nilai penting yang melekat erat dalam dirinya, sekaligus menjadi teladan bahwa jabatan tinggi tidak harus […]

  • 12 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    12 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 1.529
    • 0Komentar

    Sayap pengetahuan melebarterbentang dari ujung ke ujung,menghajar dungumembongkar bodohmembrantas nakalmenyembuh luka Jiwa ilmu merasukimemanusiakan manusiamenerbitkan juta bukuberbagi inspirasi Dunia terus berubahpengetahuan ikut lebarkan sayapinsan perlu beradaptasihidup bermegah Pengetahuan menopang pikiranmewujud pada tingkah dan rasajadi kebiasaanmembentuk karakter hidupinsan kian bersinar Maju terus pantang mundurmemacu majujangan menolehhidup ini perjalananmenuju istana cinta Alam bawah sadar diafirmasiBerpikir majuhati mau […]

  • Pendidikan: Antara Janji Merdeka dan Realita Yang Terpenjara

    Pendidikan: Antara Janji Merdeka dan Realita Yang Terpenjara

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 328
    • 0Komentar

    Merdeka. Kata itu sering ditulis Ki Hajar Dewantara di atas sekolah pertamanya. “Merdekakan manusia”, katanya. Bukan Cuma merdeka dari penjajah, tapi merdeka pikirannya, merdeka batinnya, merdeka jadi diri sendiri. 100 tahun kemudian, kita punya jutaan lebih anak sekolah. Kurikulum merdeka. Kampus merdeka. Guru penggerak. Semua ada kata “merdeka”. Tapi cobalah kita bertanya jujur kepada anak-anak […]

expand_less