Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » INSPIRASI » Mampau – Ulu Maor Satar Mese Barat: Merawat Asa yang Sempat Pudar

Mampau – Ulu Maor Satar Mese Barat: Merawat Asa yang Sempat Pudar

  • account_circle admin
  • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
  • visibility 382
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.


Bagi saya, hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang. Ada perjalanan panjang mengejar kebenaran, ada juga yang mengejar kebahagiaan, dan ada pula yang mencari kedamaian. Selain itu, perjalanan panjang juga karena ketersestan di mana seseorang sudah kehilangan arah hidup, karena kekecewaan, dan karena keputusasaan. Dan, perjalanan karena kehilangan harapan inilah yang saya angkat dalam kisah ini.

Siswa Pandai Yang Tersesat

Saya salah satu siswa tamatan SDI Wukulaku desa Legu yang diterima di kelas A (kelas unggul) di SMP Negeri Iteng tahun 1992. Sa’at itu, untuk masuk kelas A seleksinya adalah Nilai Ebtanas Murni (NEM). Ada banyak siswa unggul lainnya dari SD lain dari seluruh kecamatan Satar Mese. Dengan masuk kelas unggul ini, saya terpacu untuk belajar rajin dan berupaya untuk menjadi yang terbaik.

Di kelas satu, pada setiap kali ujian Cawu (catur wulan: 4 bulan) saya masuk dalam kelompok tengah. Nilai baik walaupun tidak masuk tiga besar. Namun demikian, saya termasuk siswa unggul dalam mata pelajaran Bahasa Inggris. Banyak teman seangkatan yang mengakui itu. Situasi ini bertahan sampai kelas dua. Saya tetap masuk dalam kelompok siswa unggul.

Bulan April 1994, saat liburan Paskah, saya tersesat pada cara hidup yang salah. Tentang ini, saya tidak bisa terangkan secara eksplisit. Hal ini kemudian memicu pertengkaran dengan orang tua yang kemudian tanpa pikir panjang saya lari dari rumah dan juga meninggalkan sekolah serta kampung halaman.

Banyak guru, keluarga dan juga teman-teman yang menyesalkan pilihan saya. Mereka menyesal karena saya dianggap sebagai anak yang baik dan juga pintar. Namun, nasi sudah jadi bubur. Waktu tidak bisa kembali.

Awal Pengembaraan

Saya mengawali pengembaraan saya di Rahong Utara tepatnya di Kampung Ntala dan Ndehes. Saya menjadi buruh kasar pada proyek pelebaran dan pembangunan jalan menuju Kampung Nanu bersama P.T TMA. Bos kami saat itu adalah Om Lipus Keko dari Popo tetapi tinggal di La’o.

Hari pertama bekerja, saya diberikan kepercayaan sebagai pemasak, sa’at itu biasa dipanggil “Tuma”. Alasan Mandor memberikan kepercayaan sebagai Tuma adalah karena saya berbadan kecil kurus. Mereka merasa iba kalau saya bekerja gali tanah, angkat batu, pegang linggis dan skop.

Pecat di hari pertama sebagai “Tuma”

Ini adalah pengalaman perdana bagi saya dengan pekerjaan ini. Walaupun pernah tinggal di asrama, namun situasinya berbeda. Sebagai pemasak, kami harus bangun pagi, jam 4.30. Kami harus memasak untuk 65 orang hari itu. Menggunakan dua periuk besar, kami menyiapkan api, menampi beras, mengambil air, dan menyiapkan peralatan makanan lainnya.

Nasi mentah. Matang setengah, dan panik. Sa’at jam makan pagi (saya tidak menyebutnya sarapan karena porsi makan anak proyek sama banyaknya untuk makan pagi sampai makan malam), semua pekerja mengamuk, mereka membentak, mereka juga memaki.

Hal itu kemudian didengar oleh Mandor, Om Lipus Keko. Dengan muka bengisnya om marah. Dia memaki kami, dan sa’at itu juga dia memecat kami dari pekerjaan sebagai pemasak, dan memberikan kami pekerjaan lain seperti tenaga kerja dewasa lainnya.

Saya bekerja di sana selama kurang lebih tiga bulan. Selama di sana, saya juga membangun hubungan sosial dengan warga di sana yang kemudian sampai hari ini tetap membangun komunikasi yang baik. Di antara mereka yang masih saya kenal baik dari kampung Ntala dan Ndehes adalah om Largus (sekarang tinggal di Satar Mese), Om Niel (sekarang tinggal di Leda) serta Joni (sekarang tinggal di Taga).

Pindah ke Manggarai Timur

Setelah bekerja tiga bulan dengan gaji Rp. 1.500 per hari, kami pun pindah ke Manggarai Timur, tepatnya di Nunur Paroki Mok. Saat itu, PT. TMA juga menangani pekerjaan pembangunan jalan dari Mok menuju Wojang kecamatan Kota Komba. Kamp (orang proyek menyebutnya Beskem) kami saat itu di bagian barat kampung Nunur.

Pada awalnya, kami bekerja pada bagian pelebaran jalan dengan sistem harian. Artinya kami dibayar oleh sup dengan upah Rp. 1.500 per hari. Kami bekerja dengan sistem upah harian selama tiga minggu. Dan, semuanya lancar.

Tergiur untung banyak, salah analisa kubikasi

Dengan harapan mau dapat uang banyak, kami menawarkan kerja borongan dengan hitungan kubikasi kepada sup. Dan, sup pun setuju. Konsekwensinya, kami beli sendiri beras, jam kerja kami atur sendiri. Memang ini lebih baik karena kami bekerja tanpa tekanan.

Awalnya pekerjaan pelebaran itu berjalan lancar. Hanya gali tanah dan membuangnya di pinggir jalan dan menutupi bagian jalan yang berlubang. Namun setelah dua minggu berjalan, kami berhadapan dengan medan yang berat. Cadas. Medan yang kami tidak bisa hindari.

Kami pun harus menyelesaikannya sebagai konsekuensi dari pilhan. Kami tertahan di situ selama hampir dua minggu. Setelah kami hitung, hasil pekerjaan kami selama pekerjaan dengan sistem borongan itu, setara dengan kerja harian dengan upah Rp. 300 per hari. Jadi, kami sangat rugi. Bayangkan dari harian Rp. 1.500 turun menjadi Rp. 300 per hari. Dan sejak saat itu kami pun kembali kerja sistem upah harian.

Kami bekerja di sana selam hampir 3 bulan. Selama di sana, kami mengenal beberapa anak kampung seperti kampung Nunur, Mok, Wae Kekik, Mesi, dan Wojang.Kami juga mengenal beberapa dialek. Di kampung Nunur saja ada 5 dialek yaitu Bai’, Pae, Toe, Niang/Ning dan Rongga. Itu juga yang menjadi alasan di sana, bahasa komunikasi harian mereka adalah bahasa Indonesia.

Pulang Kampung Karena Kerasnya Hidup

Pada bulan Desember 1994, saya pulang kampung. Saya mulai merasakan bahwa pekerjaan yang mengandalkan fisik dan kerja proyek itu sangat berat dan melelahkan. Secara sosial, kami juga direndahkan. Kami dipanggil dengan sebutan “om proyek” atau “anak proyek”.

Suatu ketika, pada hari Rabu saat jadwal Pasar Wae Kekik, saya cape dan bolos kerja. Sa’at itu, jadwal kerja kami di Mesi. Saya cape dan bolos kerja dan mengikuti pasar Wae Kekik.

Sore hari, saya dimarahi oleh Sup Proyek, om Lipus Keko. Saya dimaki, bahkan sempat ditempeleng. Rasanya sakit. Bukan saja sakit secara fisik tetapi lebih sakit psikis. Disaksikan banyak orang.

Menghadapi situasi ini saya benar-benar terpukul, tertekan dan menyesal. Saya menyesal akan pilihan saya dulu berhenti sekolah. Saya menangis sendiri dalam hati. Saya benar-benar menyesal.

Proyek Jalan Ramut-Dintor-Borik

Pada bulan April 1995, saya mulai bergabung dalam pekerjaan proyek jalan Ramut-Dintor-Borik yang ditangani oleh Ibu Nini. Dan saya bekerja dibawah bimbingan om Rafael dari Todo sebagai Mandor.

Lokasi pertama saya bekerja pada proyek ini tepatnya di Mampau desa Ceka Luju. Bidang kerja saya bersama om Rafael adalah angkut batu dan susun batu menjadi jalan telford.

Selama bekerja di sana, saya berjumpa dengan orang-orang baik. Yang bekerja dengan saya, tinggal satu beskem dengan saya waktu itu berasal dari Wogel , Watu Dali-Poco Leok, Wogel, Keka – Rejo, Todo, Wotol dan Joeng.

Saya menemukan banyak nilai positif selama bekerja di Mampau. Saya mereka hargai karena sopan, tidak sombong, dan menghargai orang yang umurnya lebih tua.

Bahkan, ada di antara mereka yang memotivasi saya untuk kembali ke sekolah. Mereka tahu saya anak yang berbakat dan tidak sepantasnya bekerja di lokasi proyek.

Saat itu saya tidak menanggapi sama sekali. Namun, dalam hati saya memiliki impian itu. Lanjut sekolah. Kembali pakai seragam dan berada di kelas untuk belajar dan merajut impian. Sejak itu, saya semakin menyadari bahwa bekerja di lokasi proyek memang baik untuk memenuhi kebutuhan sementara tetapi tidak untuk masa depan.

Anak Proyek Daftar Masuk Sekolah

Pada bulan Juni 1995, saya pamit berhenti dari proyek. Memang sejak dua bulan sebelumnya saya sudah merencanakan ini. Saya mulai mengumpulkan uang sebagai modal untuk masuk sekolah.

Hal pertama yang saya lakukan adalah bertemu dengan Bapak asrama Kuntum Mekar, tempat saya tinggal sebelumnya di Nunur yaitu Pa Kletus Jurus. Kebetulan waktu itu dia menjabat sebagai Kepala SMP Mandiri Iteng. Saya menyampaikan niat saya untuk melanjutkan pendidikan saya. Walaupun teman-teman seangkatan saya di SMPN Iteng sudah tamat saya tidak merasa berkecil hati.

Mendengar maksud kedatangan saya, Pa Kletus sangat senang. Bagaimana pun, dia tahu siapa saya saat tinggal bersamanya.

Selanjutnya saya menyampaikan permohonan kepada Pa Kletus agar berkenan diterima di kelas 3 di SMP yang dia pimpin. Mendengar itu, Pa Kletus menarik nafas panjang. Dia tahu itu melanggar aturan. Namun, dia memberikan saya kesempatan itu. Dan, saya dimintanya untuk pergi ke sekolah langsung untuk bertemu dengan guru-guru.

Saya pun duduk di kelas 3 SMP Mandiri Iteng. Diasuh oleh guru-guru hebat; Pa Lorens Jon, Pa Kletus Jurus, Pa Domi Agat (Alm), Pa Ben Jemudin, Pater Paul Barekama, dan Pater Thomas Wangge (Alm). Saya berjumpa dengan teman-teman kelas Eman A Wagur, Domi, Walter Budiman, Ros Semiun, Erni Cui, Ros Pegili, Yos Harap, Hiro Papu dan beberapa teman lainnya.

Siswa Berprestasi Tetapi Tidak ada piagam

Ada banyak pengalaman indah selama saya berada di SMP Mandiri Iteng. Suatu ketika sa’at upacara bendera hari Senin, Kepala Sekolah sa’at amanatnya memberikan apresiasi atau penghargaan kepada saya. Siswa Terbaik dalam inisiasi penggunaan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Walaupun penghargaan lisan tetapi bagi saya itu adalah penghargaan terbaik sepanjang hidup saya. Penghargaan itu kemudian memotivasi saya untuk terus meningkatkan kemampuan diri, mengembangkan pengetahuan, dan memperkuat kharakter sebagai bekal hidup di masa depan.

Pengalaman kedua yang sangat berkesan adalah saat ujian Cawu I kelas 3. Mata pelajaran Bahasa Inggris. Awalanya guru bahasa Inggris kami adalah Pater Paul Barekama, SVD. Namun, dalam perjalanan dia mengikuti program pelatihan ke luar negeri sehingga mata pelajaran Bahasa Inggris dilanjutkan oleh P. Tomas Wangge.

Setelah ujian Bahasa Inggris, saya dipanggil ke pastoran oleh Pater Thomas. Alasannya, dia meragukan nilai Bahasa Inggris yang saya capai. Sa’at itu nilai Bahasa Inggris saya 95 sedangkan urutan kedua di bawah saya hanya dapat nilai 70. Itulah alasan Pater Thomas meragukan nilai Bahasa Inggris saya. Di Pastoran, Pater Thomas menguji kemampuan saya dan pada akhirnya dia percaya bahwa nilai yang saya peroleh itu asli.

Sejak itu, saya kemudian menjadi anak pastoran. Saya sering diajak oleh Pater Thomas untuk kunjungan ke stasi dalam kegiatan pelayanan Gereja. Saya kemudian diajak dan dimotivasi oleh Pater Thomas utnuk masuk ke SMA Suryadikara Ende. Setelah dia tahu latar belakang keluarga saya, dia menjanjikan untuk membiayai saya masuk ke SMA Suryadikara Ende.

Rencana ke Ende batal karena pada waktu itu Pater Thomas pindah ke Borong. Bermodalkan pengalaman berjalan bersama Pater Thomas, saya kemudian memberanikan diri untuk mengikuti seleksi masuk Seminari Yohanes Paulus II Lab Bajo. Dan, saya dinyatakan diterima di Semyopal II pada tahun pelajaran 1996/1997.

Itulah kisah saya sejak berhenti sekolah, bekerja di lokasi proyek jalan, dan kemudian melanjutkan sekolah. Di lokasi proyek saya menemukan bahwa mendapatkan uang di lokasi proyek tidak memberikan pengharapan akan masa depan yang lebih baik bagi anak berusia sekolah.

Oleh: Fransiskus Jehoda (Kepala SMKN 1 Satarmese)

Penulis

Admin adalah anak kampung yang punya kerinduan untuk mengubah dunia dengan cinta, kebenaran dan kebijaksanaan melalui goresan-goresan bernas. Setiap detik tulisan pasti bernas. Admin akan selalu mempublis tulisan yang menyejukkan dahaga para pembaca. Kiranya teman-teman pembaca selalu hadir dan betah untuk menikmati setiap suguhan pena detikbernas.

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Suara Redaksi

    Detikbernas Tampil Bernas, Solutif dan Terpercaya

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 134
    • 0Komentar

      DETIKBERNAS.COM merupakan media online yang hadir karena adanya kerinduan bergelora dari salah seorang anak kampung ujung Nusantara. Kehadiran media ini bermaksud untuk menyejukkan dahaga masyarakat yang haus mengenai keadilan, kebenaran, kebahagiaan, kesejahteraan berpikir, hati dan kehendak bebas. Media ini tidak berfokus pada bagaimana melihat persoalah dari kacamata persoalan itu sendiri, tetapi bagaimana persoalan dikunyah […]

  • Strategi Petani Satarmese Barat Mendukung Kebutuhan Objek Wisata Waerebo

    Strategi Petani Satarmese Barat Mendukung Kebutuhan Objek Wisata Waerebo

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Menjadi petani modern merupakan itu yang dirindukan oleh setiap petani di tengah kemajuan dunia pariwisata. Petani dengan pelbagai kualitas sumber daya manusia-nya (SDM) dapat meningkatkan transformasi ekonomi pertanian berkelanjutan di Manggarai khususnya wilayah Satarmese Barat. Hal ini menjadi realitas ideal tatkala masyarakat memiliki ideologi yang sama. Namun secara faktual, para petani masih berkutat pada cara […]

  • 12 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    12 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 1.338
    • 0Komentar

    Sayap pengetahuan melebarterbentang dari ujung ke ujung,menghajar dungumembongkar bodohmembrantas nakalmenyembuh luka Jiwa ilmu merasukimemanusiakan manusiamenerbitkan juta bukuberbagi inspirasi Dunia terus berubahpengetahuan ikut lebarkan sayapinsan perlu beradaptasihidup bermegah Pengetahuan menopang pikiranmewujud pada tingkah dan rasajadi kebiasaanmembentuk karakter hidupinsan kian bersinar Maju terus pantang mundurmemacu majujangan menolehhidup ini perjalananmenuju istana cinta Alam bawah sadar diafirmasiBerpikir majuhati mau […]

  • Pendidikan: Antara Janji Merdeka dan Realita Yang Terpenjara

    Pendidikan: Antara Janji Merdeka dan Realita Yang Terpenjara

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 193
    • 0Komentar

    Merdeka. Kata itu sering ditulis Ki Hajar Dewantara di atas sekolah pertamanya. “Merdekakan manusia”, katanya. Bukan Cuma merdeka dari penjajah, tapi merdeka pikirannya, merdeka batinnya, merdeka jadi diri sendiri. 100 tahun kemudian, kita punya jutaan lebih anak sekolah. Kurikulum merdeka. Kampus merdeka. Guru penggerak. Semua ada kata “merdeka”. Tapi cobalah kita bertanya jujur kepada anak-anak […]

  • Petani mengalami gagal panen pisang di Satarmese Barat.

    Dampak Ekonomi Akibat Gagal Panen Pisang di Satarmese Barat

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Indonesia mencapai usia emas pada tahun 2045. Dalam menuju usia emas itu, transformasi ekonomi ditetapkan sebagai pilar utama dalam mewujudkannya. Sektor pertanian berkelanjutan memegang peran penting khususnya di wilayah – wilayah yang kaya akan potensi alam seperti Manggrai, Nusa Tenggara Timur. Transformasi ini tidak hanya bertujuan untuk mencapai kedaulatan pangan, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan […]

  • Metodologi Penelitian Pendidikan; Membongkar Realitas Tersembunyi di Tengah Budaya Instan

    Metodologi Penelitian Pendidikan; Membongkar Realitas Tersembunyi di Tengah Budaya Instan

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 1.648
    • 0Komentar

    Mencintai masa depan generasi Z tidak dengan kata indah semata, tetapi mengupas persoalan-persoalan bahkan yang luput dari pisau bedah peneliti. Dalam dunia pendidikan, menjadi guru adalah menjadi peneliti realitas secara menyeluruh. Aktivitas penelitian menjadi pilihan hidup sekaligus kewajiban setiap pendidik. Mengapa? Di era modern ini, dunia sudah dan sedang terjebak dalam budaya instan. Persaingan teknologi […]

expand_less