Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » NEWS » Antara Altar dengan Tenda Pesta: 252 Anak Se-paroki Todo Menerima Tubuh dan Darah Kristus

Antara Altar dengan Tenda Pesta: 252 Anak Se-paroki Todo Menerima Tubuh dan Darah Kristus

  • account_circle admin
  • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
  • visibility 619
  • comment 19 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Todo, Detikbernas.com – Altar Paroki Todo menjadi ruang penuh sukacita dan saksi perayaan iman dan cinta dalam peziarahan rohani Katolik. Sejumlah 252 anak dari 13 sekolah Dasar (SD) se-Paroki Todo telah menerima first holly communion (komuni pertama).

Perayaan komuni pertama itu menjadi ruang perjumpaan antara makna teologis, filosofis, kosmologis tradisi Manggarai dan pendidikan karakter siswa/i yang baru saja menerima Tubuh dan Darah Kristus tersebut.

Perjumpaan Iman dan Tradisi Manggarai

Ketua panitia, Yohana R. Yasti Gai menyampaikan perjumpaan iman dan tradisi Manggarai menjadi paduan yang sangat memesona. Pasalnya keduanya tidak bertentangan melainkan saling menyatu. Tradisi Manggarai dapat menyempurnakan iman dan semakin berakar di bumi Nucalale.

“Dalam tradisi Manggarai, Sambut Baru bukan sekadar acara gereja, tetapi bagian dari ritus kehidupan. Ini adalah momen kegembiraan seluruh keluarga besar khususnya di Manggarai, paroki Todo. Tradisi kumpul bersama dan acara syukuran keluarga adalah wujud dari nilai sukacita bersama dan ungkapan syukur kepada Tuhan. Adat menyempurnakan iman di mana anak disambut secara adat sekaligus secara gerejani”, ujar Atik, Minggu, (07/06/2026).

Antara Altar dengan Tenda Pesta: Sebuah Kontradiksi (?)

Kepala SD-SMP Satap Mowol itu menerangkan komuni pertama dipandang secara substansial sebagai momen sakral anak-anak menerima Tubuh dan Darah Kristus secara utuh yang merupakan pemenuhan janji babtis.

“Dalam konteks iman Kristiani, Sakramen Maha Kudus dimaknai sebagai momen indah karena anak-anak pertama kalinya menerima Tubuh dan Darah Kristus. Ini adalah pemenuhan janji baptis mereka. Perayaan sesungguhnya terjadi di Altar, bukan di tenda pesta”, uangkapnya.

Yesus Kristus menjadi pusat dalam perayaan itu. Menjaga kesakralan komuni pertama adalah suatu keharusan. Dan tenda pesta diakui sebagai ungkapan sukacita atas penerimaan sakramen tersebut.

Sosialitas: Ruang Merajut Kasih-Persaudaraan

Alumnus Unika Widya Mandira Kupang itu mengatakan pesta sambut baru dapat mengasah kasih dan persaudaraan antar warga masyarakat. Bertitik berangkat dari sebuah filosofi sosialitas Manggarai, anak sambut baru merupakan tanggung jawab bersama sebagai sesama seiman Katolik.

“Dalam lingkup sosial, momen Sambut Baru dapat menjalin relasi kasih di Manggarai, khususnya di Todo. Semangat saling bantu dalam mempersiapkan pesta menunjukkan anak-anak ini adalah tanggung jawab sosial bersama, bukan hanya beban satu keluarga. Namun, kami juga mengimbau agar aspek sosial ini tidak bergeser menjadi ajang gengsi atau pamer kemewahan”, terangnya.

Keluarga: Gereja Mini dan Teladan Iman

Ketua panitia perayaan menjelaskan keluarga memiliki peran sentral dalam pendidikan karakter dan teladan iman anak. Meskipun demikian, keluarga akan dihadapkan pada sebuah kemungkinan realitas bahwa anak yang sudah menerima komuni suci tidak pergi ke gereja atau melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran iman.

Hemat Atik Gai itu, panitia, pastor, para guru dan pembina hanya mendampingi anak-anak sampai ke altar untuk menerima Komuni. Selebihnya, orangtua atau keluarga menjadi gereja mini yang dapat memberikan teladan iman bagi anak-anak.

“Tidak hanya sikap mendengar, anak-anak meniru apa yang mereka lihat. Jika orang tuanya malas ke gereja, anak pun akan malas. Kita tidak bisa hanya menyalahkan anak. Orang tua harus menjadi teladan iman, mengajak anak berdoa bersama di rumah, dan menjadikan hari Minggu sebagai hari Tuhan yang wajib, bukan pilihan. Gereja dan stasi juga perlu terus merangkul mereka melalui kegiatan SEKAMI (Serikat Kepausan Anak Misioner) atau misdinar agar mereka tetap betah di lingkungan gereja”, katanya.

Panitia mengapresiasi semangat dan kesungguhan anak-anak sejak awal hingga hari puncak perayaan. Perayaan Sakramen Maha Kudus itu berlansung hikmat dan penuh sukacita.

“Saya merasa sangat terharu dan bangga melihat anak-anak menyambut kehadiran Kristus hari ini. Perayaan Misa berjalan dengan begitu khidmat, agung, dan penuh air mata bahagia dari para orang tua. Kerja sama antara panitia, sekolah, orang tua, dan pihak stasi juga sangat luar biasa. Semangat gotong royong khas Manggarai sangat terasa”, ujarnya.

Ketua panitia itu memberikan pesan penting terkait kesucian Sakramen Maha Kudus dijadikan sebagai dasar hidup dan dihayati dalam realitas sehari-sehari agar hidup itu menjadi alunan cinta dan kesetiaan kepada Allah dan berbuah pada kasih terhadap sesama.

“Hayati momen terindah hari ini dengan kesetiaan dan cinta. Pesta syukuran di rumah silakan dijalankan sebagai bentuk kegembiraan adat dan sosial, tetapi jagalah agar tetap sopan, tidak berlebihan, dan tidak menenggelamkan esensi sakral yang baru saja kita terima di gereja. Ingat, setelah pesta usai dan tenda dibongkar, Yesus tetap tinggal di dalam hati anak-anak kita”, pesannya.

Oleh: Nasarius Fidin

Penulis

Admin adalah anak kampung yang punya kerinduan untuk mengubah dunia dengan cinta, kebenaran dan kebijaksanaan melalui goresan-goresan bernas. Setiap detik tulisan pasti bernas. Admin akan selalu mempublis tulisan yang menyejukkan dahaga para pembaca. Kiranya teman-teman pembaca selalu hadir dan betah untuk menikmati setiap suguhan pena detikbernas.

Rekomendasi Untuk Anda

  • Transformasi Ekonomi Pertanian Manggarai di Tengah Gempuran Budaya Intan: Judi Online atau Proses Cerdas?

    Transformasi Ekonomi Pertanian Manggarai di Tengah Gempuran Budaya Intan: Judi Online atau Proses Cerdas?

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 265
    • 1Komentar

    Budaya instan bagaikan harimau meraung-raung di saat fajar pagi menyinsing. Raungannya merupakan taringan tajam menembus sulur niat para petani sehingga mindset dan mentalitas instan menguasai nurani. Faktor penyebab terjadinya hal itu karena masyarakat Manggarai belum mampu beradaptasi secara komprehensif terkait kemajuan tehnologi. Kebanyakan orang terjebak pada persaingan tehnologi. Mereka belum siap untuk hidup sesuai kemajuan […]

  • Perpisahan dengan Kelas XII, Pimpinan SMKN 1, Berotak Global Berhati Budaya Lokal

    Perpisahan dengan Peserta Didik Kelas XII, Pimpinan SMKN 1 Satarmese, Berotak Global Berhati Budaya Lokal

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Nasarius Fidin
    • visibility 1.547
    • 0Komentar

    Wae Cepang – Seusai tiga tahun berada bersama, SMKN 1 Satarmese mengadakan acara perpisahan dengan para peserta didik kelas XII yang akan segera melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi atau di dunia usaha dan industri. Acara tersebut dilakukan di Aula Kapela Stasi Sta. Maria Stella Maris Wae Cepang, Senin, (13/04/2026). Kepala SMKN 1 Satarmese, Fransiskus Jehoda, […]

  • Bahasa yang Menyatukan Jejak

    Bahasa yang Menyatukan Jejak

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 401
    • 15Komentar

    Matahari di pesisir pantai selatan membakar kulit dengan cara yang berbeda, seolah menyambut Amelia di tanah pengabdian yang baru. Sambil berdiri di depan cermin kecil di kamarnya, yang kini berbalut seragam SMK yang tegak dan kaku, ia mencoba menelan getirnya rindu. Amelia mengikat janji pada dirinya sendiri. Merantau bukan sekadar berpindah tempat, tapi membiarkan mimpi […]

  • 6 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    6 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle Nasarius Fidin
    • visibility 1.424
    • 4Komentar

    1. Budaya Kasih Raungan serakah di setiap acaraasap angkuh mengepul,arak diteguk hingga mabuk kepayang,kata-kata beradu tajam,tawuran menyapu….wajah tergeletak, berserakanseolah tiada bernilai…. Teguk arak jadi tradisi,komplotan jago berkeliarantiada kata saudara pun keluargaasal pedang amarah mengenai sasar Budaya benci mengakar,pesta jadi ajang pertarungan,mental dan minsed tak maju-maju,hidup pun seperti ilalang Dimanakah gendang nurani ditabuh,adakah kesadaran nalar meraja,kenapa […]

  • 5 Puisi terbaik Karya Artemius Janu

    5 Puisi terbaik Karya Artemius Janu

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Nasarius Fidin
    • visibility 230
    • 0Komentar

    Langit biru merona merah,Matahari membakar tanpa cela,Tanah retak memanggil hujan,Namun awan tak kunjung tiba dan berdatangan Tenggorokan kering, kerontang,Sumur tua tidak lagi terbayangJauh berjalan kaki melangkahMencari setetes air yang tak kunjung datang Dimana bening itu sekarang?Mengapa pergi tinggalkan sunyi?Jerigen plastik berbaris antreMenanti harapan di musim kemarau yang garingMenanti tergugah hati sang penguasa Ya Allah, turunkan […]

  • Merajut Asa, Menggapai Impian

    Merajut Asa, Menggapai Impian

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 332
    • 0Komentar

    Langkah kecilnya tertatih, menyusuri setapak di pinggir hutan. Sepatu robek dengan kaus kaki lusuh dan usang. Wajahnya tetap ceria dengan sesunging senyum mengiring langkah. Bercengkerama dan bercanda ria bersama sahabat-sahabatnya, menyusuri setapak di tengah hutan dalam suasana ceria dan gembira. Bukan jalan aspal mulus berkendara sepeda motor apalagi mobil mewah. Itulah keseharian Agnes, seorang gadis […]

expand_less