Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » NEWS » Merajut Asa, Menggapai Impian

Merajut Asa, Menggapai Impian

  • account_circle admin
  • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
  • visibility 296
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Langkah kecilnya tertatih, menyusuri setapak di pinggir hutan. Sepatu robek dengan kaus kaki lusuh dan usang. Wajahnya tetap ceria dengan sesunging senyum mengiring langkah. Bercengkerama dan bercanda ria bersama sahabat-sahabatnya, menyusuri setapak di tengah hutan dalam suasana ceria dan gembira. Bukan jalan aspal mulus berkendara sepeda motor apalagi mobil mewah. Itulah keseharian Agnes, seorang gadis remaja ketika dia berangkat ke sekolah.

Agnes, seorang anak pekerja migrant. Ayahnya bekerja di Kalimantan dan menikah lagi dengan seorang perempuan Dayak sedangkan ibunya menikah lagi dengan pria tetangga kecamatan ketika dia masih berusia 10 tahun. Kadang hatinya perih mengingat semua itu tapi dia tak pernah surut langkah. Dia tetap bersemangat ke sekolah. Neneknya selalu menguatkannya bahwa sekolah merupakan jalan menuju perubahan nasib. Bagi Agnes, kehidupan dengan nenek adalah segala-galanya sekarang. Dia tidak dapat melepaskan diri dari neneknya. Segala niat baik dan arah perjuangan hidupnya selalu dalam arahan dan nasihat nenek, termasuk semangat belajar dan sekolah. Kekurangan dan keterbatasan memang terus menghantui baik uang sekolah maupun pakaian. Menurut sang nenek, sekolah dan belajar merupakan jalan pemutus rantai kemiskinan dan kebodohan.

Tidak mudah memang tapi jalan panjang sebuah perjuangan. Sang nenek tanpa henti mengingatkan bahwa sekolah atau belajar adalah perjuangan dan kerja keras tanpa henti. Tidak ada kata menyerah sekalipun sulit. Kalaupun kita mengalami situasi sulit, sederhana, dan miskin, setidak-tidaknya tidak terbawa hingga kita tua. Di samping demi sukses dalam meniti karier menuju keberhasilan di masa depan, sekolah juga dapat mendidik untuk menjadi orang yang berperilaku baik dalam hidup. “Kita hanya berdua. Saya punya keterbatasan mendidik dan membimbing kamu menjadi orang sukses dan baik. Saya yakin, dengan bersekolah, kamu dididik dan dibina dengan baik”, ujar nenek ketika mereka bercerita berdua.

Wejangan dan nasihat nenek inilah yang menjadi pegangan sekaligus pedoman bagi Agnes mengisi hari-harinya. Dia menghadapi kerasnya kehidupan dalam semangat untuk tetap maju. Disiplin dan kerja keras seolah menjadi bagian yang yang tak terpisahkan dari hidupnya. Menurutnya, disiplin adalah sikap patuh dan taat pada aturan yang sudah ditetapkan, dilakukan secara konsisten, dan penuh kesadaran. Disiplin bukan hanya soal tidak terlambat tetapi juga bentuk tanggung jawab seorang terhadap dirinya sendiri. Dia tidak hanya meresapi secara konsep tetapi juga mempraktekannya dalam hidup.

Tentang disiplin diri, baginya itu adalah keniscayaan. Dasar dari semua tindakan adalah disiplin diri yang terejawantah dalam disiplin waktu, disiplin sikap dan perilaku, termasuk disiplin dalam hal-hal teknis, misalnya tentang berpakaian sesuai ketentuan. Sebagai seorang pelajar, dia tahu kapan harus berseragam nasional, pramukan dan seragam olah raga. Inilah contoh kecil dalam soal kedisiplinan. Pembiasaan kedisiplinan secara pelan dan pasti mengubah karakter kita. Karakter baik akan selalu menyatu dan menjadi bagian integral dalam hidupnya. Daya tahan, tahan uji, dan tdak mudah menyerah menjadi karakter yang menyatu dalam dirinya.

Agnes juga menjadi orang yang mudah berempati melihat penderitaan temannya atau orang lain. Ini semua bisa dirasakan karena dirinya mengalami situasi yang sama. Setiap kali dia melihat teman atau orang menderita, dia ringan tangn segera membantu semampu dia. Hal inilah yang membuatnya mendapat simpati dari orang lain. Dia rendah hati dan tidak sombong. Karakter yang menjauhkannya dari perasaan lebih dari yang lain.

Peluh dan keringat baginya bukanlah derita tetapi asupan semangat. Hal ini berdampak pada prestasinya di sekolah. Dia selalu memeroleh peringkat tiga besar dan menjadikannya siswa teladan berprestasi. Dia tidak pernah mengecewakan guru-gurunya karena di samping prestasi akademik, juga non akademik seperti kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler dan organisasi untuk belajar tentang kepemimpinan seperti OSIS. Prestasi baginya bukan sekedar akademik tetapi tidak terpisahkan juga dengan yang non-akademik. Dari aspek non-akademik dia belajar tentang managemen diri dan kepemimpinan, kerja sama dalam tim dan kolaborasi serta menjadi problem solver ketika menemukan masalah. Kegiatan-kegiatan seperti ini menurutnya menjadi orang yang lebih matang dan berkepribadian serta memiliki keyakinan dalam menatap masa depan.

Dia sungguh menyadari, disiplin dan tanggung jawab merupakan dasar dalam menggapai semua proses yang dia lakukan sekarang. Agnes selalu menjadi inspirasi bagi teman-temannya terutama yang sekelas dengannya. Dia pun tak henti-henti mengajak mereka untuk selalu memiliki sikap disiplin dan melalukan sesatu dengan penuh tanggung jawab. Tanggung jawab sebagai seorang pelajar harus dijunjung tinggi dan menjadi pegangan dasar dalam bersikap terutama proses belajar serta perilaku sopan membuat kita dapat menjadi orang sukses. Itulah yang selalu diingatkan ke teman-temannya. Dampaknya sedikit terlihat di mana kelasnya menjadi yang cukup aktif di sekolah. Kelas di mana siswanya lebih disiplin, jarang absen atau bolos, dan aktif dalam mengikuti kegiatan dibanding kelas-kelas lainnya di sekolah. Guru-guru pun puas dengan kelas ini.

Agnes beruntung berada dalam circle pergaulannya yang postif. Sahabat-sahabatnya sangat mendukung dia dalam berbagai situasi termasuk mengikuti ajakan-ajakan postif untuk kemajuan bersama. Hal ini tentu sangat membantu sekolah juga dalam menjalankan dan menyukseskan program-program sekolah. Dalam lomba-lomba pun, mereka sering dipercaya mewakili sekolah. Tentu semua ini terjadi karena karakter disiplin dan tanggung jawab tadi; karakter yang pelan-pelan hilang dari anak-anak zaman sekarang.

Kita mengalami krisis karakter positif dan tanggung jawab sekarang. Pada umumya mereka mudah terjebak dengan hal-hal instant tanpa memiliki daya juang dan mudah menyerah pada keadaan. Hal ini berdampak di sekolah. Para siswa banyak yang pasif, semangat belajar menurun, jarang mengerjakan tugas dan bermental malas-malasan. Agnes mencoba hadir sebagai pembeda. Dia menyadari benar tentang perjuangan hidup dan cara mengatasinya di masa depan yang harus dimulai saat ini. Pengalaman hidup membawanya pada sebuah kayakinan bahwa tidak ada yang mudah, semua melalui perjuangan tanpa menyerah. Di samping itu, sesuatu yang baik tidak bermakna kalau hanya untuk diri sendiri. Kebaikan itu harus berbagi dan sedapat mungkin dapat menggerakan orang lain dan menjadi bagian dari gaya hidup bersama.

Merajut asa atau harapan bukanlah sekedar kata tapi tindakan nyata agar mimpi kita tercapai. Mimpi menjadi orang sukses dan bahagia adalah mimpi semua orang tanpa kecuali. Demikian pula kesuksesan merupakan hak setiap orang walaupun wda yang melaluinya dengan perjuangan keras dan menderita meski di sisi lain ada yang menggapainya begitu mudah. Agnes mencoba melewati semua itu melalui jalan cukup terjal. Sesekali jatuh tapi bangkit lagi untuk menapaki hidup selanjutnya. Tidak menyerah di satu titik karena masih banyak titik-titik lain yang harus dilewati. Dengan keyakinan pada diri sendiri, melihat keadaan diri, serta semangat kolaborasi bersama sahabat-sahabatnya, pelan-pelan dilalui walau disadari jalan itu masih panjang. Doa sang nenek pun akan selalu menjadi pegangan hidup dan menjadi petunjuk arah dalam ziarah hidupnya yang masih panjang.

(Oleh: Anastasia Purnama Hambur.
SMKN 1 Satarmese)

Penulis

Admin adalah anak kampung yang punya kerinduan untuk mengubah dunia dengan cinta, kebenaran dan kebijaksanaan melalui goresan-goresan bernas. Setiap detik tulisan pasti bernas. Admin akan selalu mempublis tulisan yang menyejukkan dahaga para pembaca. Kiranya teman-teman pembaca selalu hadir dan betah untuk menikmati setiap suguhan pena detikbernas.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gereja Paroki Todo Gelar Prosesi Patung Bunda Maria dari Niang Menuju Gereja

    Gereja Paroki Todo Gelar Prosesi Patung Bunda Maria dari Niang Menuju Gereja

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 775
    • 0Komentar

    Detikbernas.com – Perarakan patung Bunda Maria menjadi tradisi umat Katolik pada umumnya. Umat paroki Todo menggelar prosesi patung Bunda Maria itu secara berbeda mulai dari Niang (rumah kerucut) menuju gereja paroki, Jumat, (01/05/2026). Kampung adat yang menyimpan jejak leluhur itu dijadikan titik awal prosesi tersebut. Seluruh umat paroki melangkah bersama sebagai simbol peziarahan spiritual yang […]

  • Peringatan Lahirnya Pancasila di SMKN 1 Satarmese, Kepala Sekolah Lawan Diri Sendiri dan Rawat Cinta Lintas Batas

    Peringatan Lahirnya Pancasila di SMKN 1 Satarmese, Kepala Sekolah: Lawan Diri Sendiri dan Rawat Cinta Lintas Batas

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 5.704
    • 191Komentar

    Wae Cepang, Detikbernas.com – Peringatan hari jadi Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia bukan sekadar rutinitas tahunan atau formalitas upacara bendera semata. SMKN 1 Satarmese menjadikan peringatan hari Pancasila ke-79 itu sebagai momentum pergumulan filosofis yang menantang para guru dan peserta didik untuk membongkar kenyamanan berpikir tentang bagaimana makna substansial Pancasila diwujudkan […]

  • Transformasi Ekonomi Pertanian Manggarai di Tengah Gempuran Budaya Intan: Judi Online atau Proses Cerdas?

    Transformasi Ekonomi Pertanian Manggarai di Tengah Gempuran Budaya Intan: Judi Online atau Proses Cerdas?

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 217
    • 1Komentar

    Budaya instan bagaikan harimau meraung-raung di saat fajar pagi menyinsing. Raungannya merupakan taringan tajam menembus sulur niat para petani sehingga mindset dan mentalitas instan menguasai nurani. Faktor penyebab terjadinya hal itu karena masyarakat Manggarai belum mampu beradaptasi secara komprehensif terkait kemajuan tehnologi. Kebanyakan orang terjebak pada persaingan tehnologi. Mereka belum siap untuk hidup sesuai kemajuan […]

  • 10 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    10 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
    • account_circle Nasarius Fidin
    • visibility 1.344
    • 0Komentar

    Karyamu tak kenal pensiunkeilahian tersembunyi di balik nuranitubuh kudus tak elok dipandang duniasedang Kau Maha dari setiap maha Langit tunduk di hadapanMubumi ramah di dalam kebesaraniklim menjinaksegalanya menyembahmunamun dunia tetap tegar hati Tingkah pongah mengotak atik sadarego menggiring rasio hingga benalukau kian memeluk dunia malah menjauhcinta setiaMu dasyat meski entah… Dunia gemar sesat sesaatrindu berdiam […]

  • Kita Lulus Sekolah, Tapi Gagal Lulus Jadi Manusia

    Kita Lulus Sekolah, Tapi Gagal Lulus Jadi Manusia

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 354
    • 0Komentar

    Kelulusan adalah moment yang dinantikan seseorang pada fase titik terakhir. Dulu waktu upacara, kita semua bangga, senang, dan bahagia. Toga dipakai, ijazah dipegang, orang tuan tepuk tangan meriah. Katanya kita sudah “lulus”. Tapi coba kita amati bersama di sekeliling kita sekarang, beberapa banyak sarjana yang tidak mau antre? Berapa banyak anak mendapat nilai tinggi dengan […]

  • Film dalam Bingkai Budaya Ketika Tradisi Hanya Jadi Hiasan, dan Perlunya Imersi sebagai Jalan Keluar

    Film dalam Bingkai Budaya: Ketika Tradisi Hanya Jadi Hiasan, dan Perlunya Imersi sebagai Jalan Keluar

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 400
    • 19Komentar

    Setiap kali film Indonesia menampilkan tarian adat, upacara kematian yang megah, atau pakaian tradisional dengan warna-warna mencolok, kita sering bertepuk tangan. Kita merasa bangga. Kita berkata, “Wah, film ini mengangkat budaya!” Namun, setelah film usai, pertanyaan yang jarang kita ajukan adalah: Apakah budaya itu benar-benar menjadi jiwa cerita, atau hanya sekadar latar eksotis yang mempercantik […]

expand_less