Perjuangan; Seni Menata Masa Depan yang Indah
- account_circle admin
- calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
- visibility 254
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto saat lomba FLS2N di SMKN 1 Wae Ri"i
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hidup adalah perjuangan. Untuk menggapai kesuksesan, kita wajib mengenal keseluruhan diri baik kelebihan maupun keterbatasan. Dalam pengenalan diri, kita diibaratkan sebuah gelas kosong seperti yang telah digagas oleh seorang pemikir, John Locke. Ketika gelas kosong itu diisi dengan air sampai penuh, maka airnya itu akan berguna bagi siapa pun yang membutuhkannya. Demikian hidup ini, ketika diri kita diisi dengan berbagai pengetahuan dan pengembangan diri (terkait bakat-bakat dan kemampuan), dan menjadi ahli dibidang tersebut, kita akan berguna atau menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Kesadaran itu mendorong saya untuk mewujudkan cita-cita di sekolah pariwisata, SMKN 1 Satarmese. Perjuangan itu tidak mudah. Saya harus berhadapan dengan kehendak orang tua. Pasalnya pilihan saya sangat berbeda dengan kemauan orang tua. Namun saya tidak berhenti sampai di situ. Saya berjuang dengan mengandalkan Tuhan. Buah rohani itu memampuakan saya berani melakukan pendekatan kontekstual yang membuat kedua orang tua mengikuti pilihan saya sendiri.
Berdasarkan persoalan itu, saya memilih judul Perjuangan; Seni Menata Masa Depan Yang Indah. Tulisan ini bermaksud untuk memberikan pencerahan kepada para pembaca lewat nilai-nilai positif yang terungkap dalam artikel ini. Bahwa perjuangan adalah sebuah seni yang mendorong kita tidak putus asa, tetapi mau bangkit dari keterjatuhan.
Realitas: Oase Di Padang Gurun
Setelah tamat sekolah menengah pertama (SMPN) Satap Pong Meleng, saya bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan di sekolah kejuruan, SMKN 1 Satarmese. Saya melakukan pendekatan dengan orang tua, agar cita-cita saya tercapai. Namun orang tua saya tidak setuju. Pasalnya, ada alasan yang membuat mereka mengambil keputusan agar saya tidak melanjutkan pendidikan di sekolah pariwisata. Kedua orang tua tidak sependapat. Ibu sangat setuju tatkala saya melanjutkan SMKN 1 Satarmese. Sedangkan ayah tidak setuju karena dia lebih memilih sekolah SMA daripada SMK. Ketidaksepatan antara kedua orangtua membuat saya bingung untuk menentukan masa depan. Saya tidak tahu mau berbuat apa. Saya menyendiri dalam kebisingan.
Dalam keraguan itu, saya melakukan pendekatan dialogis dengan kedua orang tua. Saya berdiskusi dengan mereka. Namun pendekatan itu berbuah pada kegagalan. Saya semakin bingung. ”Cara apa lagi yang saya lakukan agar hati sang ayah cepat luluh sehingga keputusan untuk melanjutkan sekolah di SMKN 1 Satarmese tercapai”, rintihanku dari kedalaman. Keputusasaan semakin menguasai diri saya. Saat itu saya mencoba meluangkan waktu untuk sendiri. Saya meminta mereka untuk memahami situasi yang saya alami.
Dalam kesunyian yang membisu dan membius hati, saya menemukan setitik cerah dari kedalaman jiwa. Cahaya kecil nan lembut itu, perlahan menghangatkan kebekuan hati. Ada kehangatan, ada pula kesadaran terkait pentingnya kesabaran dalam menghadapi persoalan atau kebuntuan.
Kesabaran itu adalah lilin kecil yang menerangi malam gelap. Kesabaran bagaikan pintu masuk yang memampukan saya belajar untuk tidak putus asa saat menghadapi persoalan-persoalan yang ada. Ketika kita sabar, maka kita tengah hadir dalam menelusuri lorong eksistensi diri.
Kesabaran bukan tentang seberapa besar persoalan yang dihadapi, melainkan seberapa dalam kesadaran kita untuk tetap sabar meskipun kebuntuan atau persoalan semakin garang seperti hempasan ombak bergulung di saat kelengahan diri.
Nilai kesabaran menjadi kunci dalam menetralkan atau memadamkan api persoalan yang tengah bernyala. Ketika kita sabar menghadapi segala sesuatu, hidup pun seperti mawar yang tengah mekar di pagi hari meskipun layu di senja hari. Ketenangan bertahta di kedalaman jiwa. Dalam ketenangan kita dapat berpikir bijak dan jernih dalam melihat realitas persoalan. Suasana hati yang tenang membuat saya mulai merasa bahwa hidup itu pasti ada tantangan. Untuk mewujudkan mimpi, kita harus memiliki disposisi batin yang tenang.
Ketenangan adalah sikap batin yang tidak mudah terpengaruh oleh berbagai situasi bahkan tidak berpihak dengan kita. Penguasaan diri dari berbagai tantangan ataupun persoalan seperti pengalaman ditolak orang tua dalam meniti masa depan adalah domain yang memampukan kita melewati badai kehidupan. Artinya, kita tidak bisa mengendalikan hujan, badai atau petir. Kita tidak bisa mengendalikan keputusan orang tua untuk menentukan masa depan kita. Kita tidak bisa mengendalikan kehendak hati mereka. Namun kita mampu menguasai diri kita yakni cara kita beraksi atau merespon mereka.
Ketenangan membuka secara lebar sayap penguasaan diri sehingga persoalan yang dihadapi bisa dikendalikan di kedalaman diri. Tanpa ketenangan, yang ada hanyalah keputusasaan. Hidup itu harus tenang terlepas dari seberapa banyak persoalan yang datang silih berganti. Usaha menenangkan diri bukan berarti kita bebas dari badai kehidupan, melainkan bagaimana posisi batin kita di tengah gulungan ombak tersebut.
Dalam ketenangan ada kepastian yakni cara berpikir logis dan penuh pertimbangan rasionalitas, hati nurani dan kehendak bebas tatkala taufan tertiup kencang. Kita tidak perlu takut dengan badai tersebut. Karena ketenangan memampukan kita untuk melakukan hal-hal besar yang ditentukan Allah. Ketika ketenangan merajai kehidupan, semangat juang bagaikan fajar pagi yang tengah terbit dari kedalaman diri. Di tengah keputusasaan itu, semangat juang bergelora dari ketenangan diri saya.
Perjuangan bagaikan jembatan yang menghubungkan jarak antara cita-cita dan pencapaian. Cita-cita itu terwujud tatkala kita berjuang keras dan cerdas. Dalam proses perjuangan, ada air mata, luka, derita, sakit hati dan kelelahan. Itu semua adalah pengalaman terindah. Pengalaman penderitaan adalah sahabat terbaik yang lebih tahu tentang masa depan kita. Tanpa ada persoalan kita hanyalah bangunan yang dibangun di atas pasir. Tatkala badai menerjang bangunan itu pasti roboh seketika.
Kesuksesan itu harus dibangun di atas segala tantangan atau persoalan. Kita tidak bisa terhindar dari segala persoalan. Dengan kata lain, persoalan atau tantangan itu pasti ada, barangkali bentuknya berbeda. Banyak orang tidak menyadari bahwa persoalan itu adalah sahabat atau guru terbaik yang meransang dan memotivasi kita untuk bangkit dan melaju menuju dermaga cita-cita. Namun tidak sedikit orang mampu menjadikan badai kehidupan sebagai hal positif untuk tetap bersemangat dalam mencapai kesuksesan.
Kegagalan merupakan buah dari (1) kemalasan, (2) ketidakmauan serta (3) ketidakmampuan dalam menyikapi badai kehidupan. Ketiga hal tersebut merupakan jalan aspal yang memampukan kita cepat sampai pada tujuan yang tidak perlu kita pikirkan atau perjuangkan yakni kegagalan itu sendiri. Kesuksesan bagaikan lorong kecil yang akan dicapai melalui perjuangan tak kenal lelah dan kerja keras yang penuh dengan harapan dan keyakinan.
Untuk mencapai titik puncak itu, saya tidak mengandalkan diri sendiri. Saya membiarkan Tuhan terlibat dalam persoalan. Saya berdoa bersama Bunda Maria agar Tuhan Yesus yang merupakan pengantara kita kepada Allah Bapa memberkati perjuangan saya. Saya melakukan Novena 3X Salam Maria selama 9 malam.
Devosi kepada Bunda Maria bukan berarti saya dibebaskan dari berbagai tantangan dan kesulitan. Sebaliknya, semakin saya sungguh-sungguh berdevosi kepada Bunda Maria, saya semakin menghadapi tantangan hebat bahkan tingkat keputusasaan bagaikan ular bludak yang berusaha memagut jiwa. Artinya, tantangan itu justru semakin menghantam ketenangan bahkan perjuangan saya untuk bersekolah di SMKN 1 Satarmese.
Namun saya tetap berpegang teguh pada komitmen untuk melakukan Novena 3X Salam Maria. Saya tidak berfokus pada hasil atau buah novena. Bagi saya, hasil bukan prioritas berdasarkan kehendak pribadi melainkan buah relasi dan komunikasi yang intim kepada Allah lewat Bunda Maria. Hasil itu adalah konsekuensi dari kecintaan Allah kepada saya.
Saya menyerahkan semua persoalan khususnya niat untuk melanjutkan pendidikan di SMKN 1 Satarmese. Saya yakin, segala persoalan bisa kulalui tatkala Tuhan berpihak kepada saya. Saya mampu melewati segala ketidakpastian dalam Dia yang selalu mencintaiku dalam keterbatasan.
Buah novena yang saya temukan yakni sikap rendah hati. Kerendahan hati merupakan sikap mendengarkan sekaligus berani mengajak kedua orang tua untuk berdiskusi dengan keterbukaan. Segala alasan yang dia sampaikan sesungguhnya bukan sesuatu yang menakutkan tetapi itu bertitik berangkat dari kegelisahannya sendiri. Kegelisahan itu menutupi ruang dialog dan keterbukaan.
Seusai mendengarkan isi hatinya, saya mencoba melakukan pendekatan melalui pihak ketiga. Luar biasa! Suatu mujizat bagi saya, sepupu datang ke rumah tanpa diundang. Saya meminta petuah bijak untuk memberikan pencerahan kepada kedua orang tua khususnya ayah. Inilah momen menegangkan. Hati saya berdebar-debar dan berantakan, antara sukacita atau kepedihan. Namun di tengah ketegangan itu, sepupu mencairkan suasana. Dia tidak lansung masuk ke inti pembicaraan karena belum tahu persoalan sesungguhnya. Dia hanya merasakan suasana yang berbeda dengan sebelumnya.
Saya coba membuka dialog bersama. Dengan suara terbata-bata saya mensharingkan persoalan itu kepada kakak sepupu tersebut. Dia meresponnya dengan kelembutan hati dan pencerahan-pencerahan yang dimulai dari akarnya. Bahwa beliau menyadarkan kedua orang tua dengan kepedulian dan pilihan bebas dalam menentukan masa depan yang cerah.
Tatkala kedua orang tua khususnya papa mendengarkan pencerahan sepupu tersebut, hatinya mulai meluluh. Kesadarannya adalah pintu masuk yang mendorong dia mengambil keputusan sesuai kemauan saya. Dia berterima kasih kepada kakak atas segala masukan yang dapat membuka wawasannya.
Selain kerendahan hati, nilai rohani yang saya alami sebagai buah dari novena yakni berpikir jernih dan bersikap bijak. Berpikir jernih adalah cara saya merawat keseimbangan diri. Persoalan datang silih berganti. Namun saya tetap berusaha untuk jernih dalam proses berpikir khususnya persoalan yang tengah saya alami. Saya berusaha untuk berpikir positif (positive thinking).
Saya melihat persoalan dari kacamata bening. Saya yakin bahwa pikiran jernih dapat memampukan saya membedakan pikiran benar dari ilalang. Berpikir jernih merupakan itu yang wajib ditanamkan sejak dini. Ketika kita berpikir jernih secara berkali-kali, dan itu diungkapkan dalam kata-kata, maka itu terwujud dalam sikap dan tindakan. Dan ketika kita bertindak jernih dan positif secara terus-menerus, itu dapat membentuk karakter.
Karakter baik dapat menampakan aura positif dalam diri kita. Berpikir positif memampukan kita bersikap bijak dalam melewati dinamika kehidupan, khususnya tatkala badai menghempas secara tiba-tiba dalam diri kita.
Persoalan yang saya hadapi menjadi pengalaman yang baik dalam memacu adrenalin saya untuk berpikir jernih dan bersikap bijak. Saya menyadari badai adalah itu yang paling mengerti tentang masa depan saya. Saya tahu, kualitas diri tidak ditentukan oleh kenyamanan-kenyamanan yang dapat membelai dan meninabobokan tetapi dibangun di atas berbagai hempasan badai yang menantang dan meneggelamkan saya dalam kekelaman.
Dalam persoalan dan doa-doa sunyi, ada harapan dan keyakinan yang kuat dalam diri saya. Itu bagaikan obor yang menerangi langkah sehingga saya bisa keluar dari kebuntuan atau kegelapan hidup. Harapan dan keyakinan itu nyata sehingga persoalan itu bisa dipecahkan dengan mudah. Karena dalam harapan dan keyakinan, Tuhan sungguh hadir untuk membuka jalan yang pasti.
Berdasarkan pengalaman itu, saya melihat harapan dan keyakinan sebagai suatu realitas. Ketika saya berharap dengan penuh keyakinan, maka saya menemukan secercah senyum di balik derita. Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya, karena kesetiaan adalah salah satu karakter-Nya.
Kesadaran ini mendorong saya berharap dan yakin terlepas dari kedasyatan badai yang melanda jiwa saya. Saya tetap menjadikan harapan dan keyakinan sebagai tumpuan hidup di tengah ketidakpastian. Ketika ada profokasi yang membuat relasi antara orang tua dengan anak, saya selalu menjadikan harapan dan keyakinan sebagai sentuhan yang hidup.
Setelah semuanya diatasi dengan baik, saya merasa legah. Sukacita itu memuncak ketika kedua orang tua bersepakat dan meminta saya mendaftarkan diri di SMKN 1 Satarmese. Mimpi sudah menjadi nyata. Kegelisahan dan ketidakpastian sebelumnya sudah dipatahkan oleh pedang Allah. Artinya Allah berpihak pada saya. Allah terlibat dalam menyelesaikan persoalan masa depanku.
Mimpi ini benar-benar menjadi titik awal perjuangan saya sesungguhnya. Langkah saya menjadi ringan. Pikiran dan hati saya legah. Semangat saya bergelora. Arah masa depan saya mendekat. Saya dengan penuh semangat datang ke SMKN 1 Satarmese dengan hati yang penuh harapan dan keyakinan.
Realitas Pendidikan Di SMKN 1 Satarmese
Setelah diterima di SMKN 1 Satarmese, kebahagiaan itu semakin bersinar tatkala saya memulai petualanagan intelektual dengan hadir sebagai salah satu siswa di sekolah kejuruan yang bergerak di bidang pariwisata dan perhotelan tersebut. Saya merenungkan pengalaman pertama saya sebelum datang ke sekolah ini.
Pengalaman penderitaan yang saya alami di awal merupakan motivasi terbaik yang memampukan saya berjuang dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan agar saya mampu menyelesaikan pendidikan di sekolah ini. Ada nilai yang tengah saya pergumulkan yakni kedisiplinan.
Bagi saya, kedisiplinan merupakan salah satu fondasi yang wajib saya hayati setiap hari baik di asrama maupun di lingkungan sekolah. Sikap disiplin adalah sikap yang selalu menyadarkan, menegur dan mengarahkan saya untuk berjuang secara sungguh-sungguh dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas ataupun melaksanakan segala tugas yang ada dengan penuh tanggung jawab.
Pengalaman awal merupakan motivasi yang dapat meremajakan kesadaran saya dalam mewujudkan kedisiplinan tersebut. Saya berusaha berdisiplin untuk datang ke sekolah tepat waktu. Berdisiplin mengerjakan tugas. Berdisiplin dalam segala hal yang mendorong saya untuk mengembangakan segala potensi, bakat-bakat dan kemampuan untuk menjadi pribadi yang berkualitas.
Bagi saya, masa depan itu akan tercapai, tatkala saya memulainya dengan sikap disiplin yang konsisten, penuh komitmen dan kerja keras serta cerdas. Masa depan adalah konsekuensi dari kedisiplinan. Selain itu, kita bersikap disiplin untuk mengendalikan dan menata diri. Saya yakin, ketika semuanya diterapkan dengan hati yang bebas, tanpa paksaan orang lain, saya pasti meraih kesuksesan bukah hanya di lembaga pendidikan ini tetapi lebih dari itu yakni perkuliahan nantinya.
Kesimpulan
Setelah mensharingkan banyak hal terkait perjuangan yang dipahani sebagai seni menata masa depan yang cerah, saya menyimpulkan hidup ini tidak selamanya mulus. Terkadang pilihan kita sangat berbeda dengan kehendak orang tua. Ketika kita tidak sejalan dengan orang tua, di situlah ada perbenturan atau persoalan yang membuat kita patah semangat untuk melanjutkan pilihan. Relasi dan komunikasi orang tua dengan anak menjadi hampa, tatkala persoalan itu tidak dikelola dengan bijaksana, saya yakin pilihan itu hancur. Namun ketika kita dengan rendah hati mengandalkan Allah dalam proses perjuangan, maka apapun bentuk persoalannya dapat diatasi dengan baik.
Pengalaman saya memerlihatkan kemahakuasaan Allah dalam setiap kebuntuan yang saya alami sendiri. Saya melihat ada oase di tengah padang pasir seperti semangat mewujudkan cita-cita, dialog dengan orang tua, kesabaran, ketenangan di tengah pengalaman ditolak, semangat juang, doa bergelora, rendah hati, berpikir jernih dan bersikap bijak, harapan dan keyakinan, dan mimpi jadi nyata.
Tatkala diterima, saya merasa bahwa perjuangan sesungguhnya adalah ketika saya berada di SMKN 1 Satarmese. Inilah awal saya mengukir masa depan itu melalui kerja keras dan cerdas. Sikap disiplin menjadi kunci yang menyadarkan dan mendorong saya untuk tetap fokus dalam menyelesaikan pendidikan dengan prestasi gemilang.
Harapannya, saya bisa melesaikan segala proses yang akan saya hadapi baik pembelajaran di kelas, berbagai ekstrakulikuler dan pengembangan bakat-bakat dan kemampuan yang saya miliki. Untuk mewujudkan cita-cita itu, saya tidak mampu mengandalkan diri sendiri, saya bersama Bunda maria agar Tuhan Yesus senantiasa terlibat dalam setiap detik perjuangan. Selain itu, saya juga mengharapkan dukungan kedua orangtua dan keluarga sehingga apa yang menjadi harapan, keyakinan dan cita-cita akan tercapai sehingga saya menjadi pribadi yang berkualitas, berkarakter, beriman dan berdaya saing di dunia usaha serta dunia industri.
Penulis: Stefani Kristiani Tenas, Siswa X Perhotelan 2,
SMKN 1 Satarmese.
Penulis admin
Admin adalah anak kampung yang punya kerinduan untuk mengubah dunia dengan cinta, kebenaran dan kebijaksanaan melalui goresan-goresan bernas. Setiap detik tulisan pasti bernas. Admin akan selalu mempublis tulisan yang menyejukkan dahaga para pembaca. Kiranya teman-teman pembaca selalu hadir dan betah untuk menikmati setiap suguhan pena detikbernas.

Saat ini belum ada komentar