Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » NEWS » Pembangunan Maju, Warga Desa Tetap Haus: Ada Yang Salah?

Pembangunan Maju, Warga Desa Tetap Haus: Ada Yang Salah?

  • account_circle Nasarius Fidin
  • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
  • visibility 703
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sangat ironis. Jalan aspal yang memanjang, membelai rumah-rumah yang memanjang sepanjang desa, terlihat indah dan bagus di setiap lorong-lorong gang, tower Bakti atau BTS berdiri gagah di samping istana desa, dana miliaran rupiah digelontarkan setiap tahun. Tapi di saat yang sama, bapak dan ibu serta anak-anak di banyak pelosok masih harus jalan 2 km tiap pagi dan sore hanya untuk menimba sejerigen air. Anak-anak mandi menggunakan air terbatas sepulang sekolah. Pembangunan katanya maju, tapi mengapa warga desa tetap haus?

Krisis air di desa bukan lagi cerita el nino atau kemerau panjang dan langkah. Ini sudah menjadi musim yang rutin datang tiap tahun. Data dan realitas berbicara sebagian besar rumah tangga di pedesaan yang belum punya akses air bersih yang layak. Artinya, ditengah gembor Indonesia emas 2045 masih ada ribuan warga yang dahaganya belum terjawab oleh desa.

Pembangunan Yang Salah Alamat

Kita terlalu sibuk membangun sesuatu yang kelihatan. Gedung balai desa dibuat baru jadi megah seperti istana kerajaan, bicara besar terlalu tinggi, setinggi gapura yang bagun tinggi-tinggi oleh desa sebelah, dibuka jalan yang baru. Semua itu penting untuk estetika dan mobilitas atau pergerakan warga desa. Sayangnya, semua itu tidak ada asas manfaat sama sekali. Tetapi apa gunanya jalan mulus kalau warga yang lewatnya tenggorokannya kering?

Kita terjebak dengan kalimat “ yang penting kelihatan “. Semua itu penting, tapi jadi terasa hambar saat warganya harus beli air Rp 150.000 rupiah per tangki tiap minggu dan memikul jerigen ke sungai setiap harinya. Padahal, tanpa air semua insfrastruktur lain lumpuh. Jalan bagus mau dipakai siapa kalau warga sakit akibat memikul jerigen setiap harinya.


Proyek air bersih sering kalah pamor di banding proyek fisik yang besar. Membangun jaringan pipa dengan tenaga teknis, sumur bor dalam, atau embung desa memang tidak semencolok membangun alun-alun. Tidak ada pitah yang bisa digunting. Akhirnya air di desa jadi prioritas nomor kesekian.

Alam Dirampas, Air Pun Hilang

Ini juga soal tata kelola lingkungan. Banyak desa mengalami kekeringan justru setelah hutan di hulunya di tebang secara liar untuk kepentingan sang penguasa. Sumber mata air mati karena daerah resapan berubah jadi tempat pemotongan kayu bahkan jadi beton dan kebun penguasa. Kita membangun waduk besar untuk kota, tapi lupa menjaga waduk alami berupa hutan dan bukit yang selama ini menghidupi desa.

Alam dirampas menurut warga, tapi penguasa berkata: kita punya kesepakatan dan perjanjian. Sang penguasa berlindung di balik alasan yang kuat ternyata memilikki sumber daya yang rendah. Pemerintah berlomba menarik investasi tapi analisis mengenai dampak lingkungan menjadi formalitas. Ironinya nyata: desa dikorbankan untuk mengairi kota, lalu desa itu sendiri sering dibiarkan mati kehausan.
Akibatnya warga desa yang menanggung: sungai mengering, sungai tercemar, dan saat protes dijawab “ ini demi pembangunan, ini demi investasi dan pertumbuhan ekonomi”.

Jadi Apa Yang Harus Dibetulkan?

  1. Geser prioritas dana desa: Undang-Undang Desa sudah memberi kewenangan. Pasti minimal 20% dana desa wajib untuk air bersih dan sanitasi. Jangan habiskan untuk hal seremonial.
  2. Audit Lingkungan serius : ijin usaha yang merusak daerah resapan air harus dievaluasi. Pembangunan tidak boleh menumbalkan hak dasar warga desa.
  3. Libatkan warga Dari perencanaan: warga tau titik airnya dimana, musimya kapan, dan sistem apa yang bisa digunakan. Jangan pakai pendekatan “proyek turun dari atas”

Pembangunan tanpa air adalah pembangunan yang gagal paham. Jalan aspal tidak bisa diminum, saluran air juga tidak bisa mempertahankan kehidupan warga. Tower BAKTI tidak bisa mengairi ke rumah-rumah seperti kondisi jaringan di desa. Kemajuan seajatinya harus diukur dari hal yang paling dasar: Apakah warga desa masih haus atau tidak.
Kalau desa tetap haus ditengah gegap gempita pembangunan, berarti memang ada yang salah. Dan itu bukan takdir. Itu kelelaian kita bersama yang harus segera di koreksi.

Air adalah hak dasar dan sumber kehidupan manusia, bukan komoditas mewah. Jika pembangunan terus berlari tapi lupa menoleh ke jerigen kosong di tangan warga desa, maka kita sedang membangun di atas kehausan. Dan itu bukan kemajuan. Itu kegagalan yang disamarkan dengan beton.
Sudah saatnya kita berhenti untuk bangga pada apa yang bisa di lihat, dan mulai peduli pada apa yang benar-benar menghidupi.

Oleh : Artemius Janu

  • Penulis: Nasarius Fidin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peringatan Lahirnya Pancasila di SMKN 1 Satarmese, Kepala Sekolah Lawan Diri Sendiri dan Rawat Cinta Lintas Batas

    Peringatan Lahirnya Pancasila di SMKN 1 Satarmese, Kepala Sekolah: Lawan Diri Sendiri dan Rawat Cinta Lintas Batas

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.510
    • 2619Komentar

    Wae Cepang, Detikbernas.com – Peringatan hari jadi Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia bukan sekadar rutinitas tahunan atau formalitas upacara bendera semata. SMKN 1 Satarmese menjadikan peringatan hari Pancasila ke-79 itu sebagai momentum pergumulan filosofis yang menantang para guru dan peserta didik untuk membongkar kenyamanan berpikir tentang bagaimana makna substansial Pancasila diwujudkan […]

  • Jiwa Pengabdian dan Loyalitas Yakob Kareth Sebagai Sekda Papua Barat Daya

    Jiwa Pengabdian dan Loyalitas Yakob Kareth Sebagai Sekda Papua Barat Daya

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 239
    • 0Komentar

    Dalam dunia birokrasi, loyalitas adalah nilai yang sangat penting. Loyalitas bukan sekadar patuh kepada atasan, tetapi lebih dalam dari itu: setia kepada tugas, bertanggung jawab terhadap amanah, dan konsisten melayani masyarakat dengan hati yang tulus. Nilai inilah yang tampak melekat erat dalam diri Yakob Kareth, Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat Daya. Perjalanan seorang birokrat tidak […]

  • Gempa 7,7 Picu Longsor, Saluran Irigasi Wae Mantar Tertimbun, Petani Ulu Belang dan Papang Khawatir Gagal Panen

    Gempa 7,7 Picu Longsor, Saluran Irigasi Wae Cecu Tertimbun, Petani Ulu Belang dan Papang Khawatir Gagal Panen

    • calendar_month Senin, 24 Agt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Manggarai, 24 Agustus 2026 – Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026 membawa dampak serius bagi warga Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai. Selain menyebabkan guncangan kuat, bencana tersebut juga memicu longsor yang menimbun saluran irigasi Wae Mantar sepanjang kurang lebih 40 meter. Saluran irigasi yang menghubungkan kebutuhan air pertanian masyarakat […]

  • 10 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    10 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
    • account_circle Nasarius Fidin
    • visibility 1.416
    • 0Komentar

    Karyamu tak kenal pensiunkeilahian tersembunyi di balik nuranitubuh kudus tak elok dipandang duniasedang Kau Maha dari setiap maha Langit tunduk di hadapanMubumi ramah di dalam kebesaraniklim menjinaksegalanya menyembahmunamun dunia tetap tegar hati Tingkah pongah mengotak atik sadarego menggiring rasio hingga benalukau kian memeluk dunia malah menjauhcinta setiaMu dasyat meski entah… Dunia gemar sesat sesaatrindu berdiam […]

  • Transformasi Ekonomi Pertanian Manggarai di Tengah Gempuran Budaya Intan: Judi Online atau Proses Cerdas?

    Transformasi Ekonomi Pertanian Manggarai di Tengah Gempuran Budaya Intan: Judi Online atau Proses Cerdas?

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 265
    • 1Komentar

    Budaya instan bagaikan harimau meraung-raung di saat fajar pagi menyinsing. Raungannya merupakan taringan tajam menembus sulur niat para petani sehingga mindset dan mentalitas instan menguasai nurani. Faktor penyebab terjadinya hal itu karena masyarakat Manggarai belum mampu beradaptasi secara komprehensif terkait kemajuan tehnologi. Kebanyakan orang terjebak pada persaingan tehnologi. Mereka belum siap untuk hidup sesuai kemajuan […]

  • Suara Redaksi

    Detikbernas Tampil Bernas, Solutif dan Terpercaya

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 279
    • 0Komentar

      DETIKBERNAS.COM merupakan media online yang hadir karena adanya kerinduan bergelora dari salah seorang anak kampung ujung Nusantara. Kehadiran media ini bermaksud untuk menyejukkan dahaga masyarakat yang haus mengenai keadilan, kebenaran, kebahagiaan, kesejahteraan berpikir, hati dan kehendak bebas. Media ini tidak berfokus pada bagaimana melihat persoalah dari kacamata persoalan itu sendiri, tetapi bagaimana persoalan dikunyah […]

expand_less