Manusia Lebih Mencintai Eco Chamber Daripada Fakta Yang Masuk Akal
- account_circle admin
- calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
- visibility 150
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto penulis, Yohanes Guru
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Manusia adalah makhluk hidup yang diciptakan oleh Tuhan dengan posisi yang paling tinggi di muka bumi. Baik dari segi akal budi, etika dan prilaku serta tutur kata ia menempati posisi tertinggi dari semua makhluk hidup. Sebagai yang tertinggi tentunya manusia tidak diragukan lagi dalam menyikapi sebuah perkembangan. Perkembangan yang dimaksud diantaranya; teknologi informasi dan komunikasi, pola hidup yang serba instan, gaya hidup yang serba modern serta akses pendidikan yang sangat mudah. Eksistensi ini bagi manusia yang hidup di era 4.0, tidak bisa dipungkiri.
Perkembangan teknologi yang semakin canggih dan serba mudah, meninabobokan kita dalam hal berpikir kritis (critical thinking) dewasa ini. Selain itu, kemajuan teknologi juga dapat mempersempit pola pikir manusia. Sehingga eksistensi manusia yang merupakan ciptaan paling tinggi di muka bumi tidak dapat menghasilkan ide atau gagasan. Demikian halnya dengan jawaban pertanyaan kritis yang tiba-tiba menghampiri dirinya. Hal ini karena ketergantungan manusia sangat tinggi pada sesuatu yang dihasilkan sistem, dalam hal ini adalah Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Tanpa disadari, pengaruh AI sangat tinggi dalam mengatur tatanan hidup manusia.
Selain itu, AI telah merambat sampai pada titik terendah bahkan sistem kepercayaan manusia sudah dipengaruhi oleh kecerdasan buatan ini. Dalam kaca mata iman Katholik, AI telah menghipnotis manusia sampai lupa untuk berdoa sebagai salah satu bentuk refleksi yang paling ampuh agar bisa menangkal dan menyikapi kehidupan yang serba instan ini dengan benar dan tepat. Sehingga apapun bentuk prilaku, tutur kata, ide atau gagasan, jawaban atas pertanyaan kritis manusia cendrung mengikuti saja tanpa berpikir panjang. Hal ini terjadi karena, manusia saat ini tidak akan terasa nyaman kalau ada yang memiliki pola pikir yang berbeda.
Manusia saat ini, seringkali mengabaikan hal yang masuk akal ketimbang informasi yang belum tahu kebenarannya. Sempitnya pola pokir seperti ini sebagai dampak dari Echo Chamber (ruang gema). Echo Chamber merupakan fenomena di mana seseorang hanya menerima, terpapar, dan mempercayai informasi yang sesuai dengan pandangan mereka sendiri. Terminologi ini akan mempertebal pengaruh perkembangan teknologi dalam hal ini adalah AI telah mencapai titik terendahnya manusia. Manusia tidak lagi mampu menerima perbedaan yang masuk akal. Tetapi lebih cenderung menerima hal yang tidak masuk akal. Hal ini menjadi penanda bahwa psikologi dan iman serta kepercayaan manusia telah dikuasai segala yang dihasilkan oleh Echo Chamber (ruang gema). Sehingga semua yang dihasilkannya diterima begitu saja. Jadi, sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan paling sempurna di muka bumi ini sebaiknya perlu refleksi diri. Baik melalui iman dan kepercayaan pun berprilaku, serta cara mencintai informasi dengan benar dan tepat. (T) Juma’t, 13 Februari 2026.
Oleh: Yohanes Guru
(Refleksi Artikel Ilmiah Mahasiswa IFTK Ledalero)
Penulis admin
Admin adalah anak kampung yang punya kerinduan untuk mengubah dunia dengan cinta, kebenaran dan kebijaksanaan melalui goresan-goresan bernas. Setiap detik tulisan pasti bernas. Admin akan selalu mempublis tulisan yang menyejukkan dahaga para pembaca. Kiranya teman-teman pembaca selalu hadir dan betah untuk menikmati setiap suguhan pena detikbernas.

Saat ini belum ada komentar