5 Puisi terbaik Karya Artemius Janu
- account_circle Nasarius Fidin
- calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
- visibility 107
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi diambil dari google, diedit di canva.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
- Jeritan Anak Desa Di Tanah Kering
Langit biru merona merah,
Matahari membakar tanpa cela,
Tanah retak memanggil hujan,
Namun awan tak kunjung tiba dan berdatangan
Tenggorokan kering, kerontang,
Sumur tua tidak lagi terbayang
Jauh berjalan kaki melangkah
Mencari setetes air yang tak kunjung datang
Dimana bening itu sekarang?
Mengapa pergi tinggalkan sunyi?
Jerigen plastik berbaris antre
Menanti harapan di musim kemarau yang garing
Menanti tergugah hati sang penguasa
Ya Allah, turunkan kasih-mu
Basahi bumi dan tanah kering ini dengan air bahari-mu
Agar air kembali mengalir
Membasuh dahaga, menyudahi tangis yang tanpa akhir.
- Kami Di Ujung Perbatasan
Di sini, di bibir desa yang sunyi,
Dinding papan saksi bisu mimpi-mimpi kita
Buku lama lusu di makan usia-ku
Sepatu tipis melangkah penuh percaya diri
Tak ada jalan yang mulus
Hanya debu kotor dan rindu yang menemani
Guru hadir membawa pelita harapan
Mengajar dengan tabah dan sabar, menanam janji di perbatasan
Kami anak perbatasan
Menatap masa depan dengan penuh keberanian
Meski tertinggal di ujung desa
Ilmu dan pengetahuan di genggam, harga diri abadi
- Tanpamu Aku Bukan Siapa-Siapa
Entah sejak kapan aku mengenalmu
Dan entah mengapa aku harus mengenalmu
Yang jelas engkaulah yang akan selalu dikenang dalam hidupku
Dan kau adalah guru
Guru……
Jasamu tak bisa di balas dengan uang
Dan tak bisa di tukar dengan benda mahal
Dari pagi sampai petang, engkau hanya mengurus kami
Sehingga keluargamu tak kau awasi
Memang terkadang dirimu sangat mengesalkan
Akan tetapi itu akan menjadi hal yang mengesankan
Oh guru……..
Kalau bukn karena jasamu, tak akan jadi seperti ini
Engkau tiiba untukku
Untuk menunjukan semua ilmu
Untuk mengajarkanku
Apa yang tak kutehui
Guruku……….
Engkaulah pelitaku di kala saya di kelilingi kebodohan
Juga ketidaktahuan
Ketika aku menatap langit
Tingginya takkan dapat kuraih berjinjit
Tapi tatkala aku menatapnya bersamamu
Tanpamu aku bukan siapa-siapa
- Kerinduan Mama
Keringat bertaut membasahi tubuh
Airnya jatuh menjadi tangisan di mataku
Rasa ini membeku, rasa ini hampa
Membantu mengingat masa yang lalu
Saatku bersamamu
Waktu kecilku
Biarlah nafasku bercerita tentangmu
Bersajak indah memanggil namamu
Ibu….
Aku merindukanmu
Aku rindu,,aku rindu dipelukanmu
Rindu masa itu
Rindu saat ibu menggendongkku
Berbisik doa merajut sanubariku
Semoga ibu di sana tersenyum bahagia selalu
Doa anakmu yang selalu menyertaimu
- Pemandangan Di kala Senja Pergi Ke Sekolah
Saat aku berjalan pergi bersama sahabat
Kupandang lingkungan sekitar
Sungguh elok di pandang mata
Langit senja yang kebiruan
Dihiasi awan yang sangat indah
Dihiasi kawanan ternak yang hendak keluar dari sarangnya
Kucoba menerawang ke arah yang lebih jauh
Kulihat tiga buah bukit
Seolah hendak menelan bulat-bulat
Sang raja siang
Hingga hanya tersisa bagian tubuh benda langit itu
Yang memancarkan sinar indahnya
Tak berhenti mata ini memandang
Banyak orang mudik menuju tempat peraduan
Seakan tak peduli keindahan alam di pagi ini
Seakan tak mengerti akan kebahagian besar
Dari hal-hal kecil disekitar kita
Yang kelak dan nanti akan hilang
Tak berbekas
Sebagaimana perjuangan hidup ini
Yang nantinya akan sirna
Tak berbekas pula
Oleh: Artemius Janu
- Penulis: Nasarius Fidin

Saat ini belum ada komentar