Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » NEWS » 6 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

6 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

  • account_circle Nasarius Fidin
  • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
  • visibility 1.425
  • comment 4 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

1. Budaya Kasih

Raungan serakah di setiap acara
asap angkuh mengepul,
arak diteguk hingga mabuk kepayang,
kata-kata beradu tajam,
tawuran menyapu….
wajah tergeletak, berserakan
seolah tiada bernilai….

Teguk arak jadi tradisi,
komplotan jago berkeliaran
tiada kata saudara pun keluarga
asal pedang amarah mengenai sasar

Budaya benci mengakar,
pesta jadi ajang pertarungan,
mental dan minsed tak maju-maju,
hidup pun seperti ilalang

Dimanakah gendang nurani ditabuh,
adakah kesadaran nalar meraja,
kenapa tuan tak memegang kendali
untuk apa kau panggang rasa hingga mendidih

Pandang surya mendekat,
bangun budaya kasih mengarti,
berantas hasrat memakan,
lenyapkan kecendrungan ego
agar hidup bersinar

2. Perang Saudara

Ratap tangis menengadah,
raga bersemayam di pusara,
tiada lagi senda gurau, canda tawa
semuanya diam membisu
hanya terpampang kenang

Perang saudara merajalela,
sentakan kaki berdentum,
amukan runcing silih berganti,
tumpahan darah bag air sungai

Duka lara tak berujung
derita tak berakhir
luka tak tersembuhkan,
dendam kesumat semakin liar

Siapa yang memulai
siapa yang mengakhiri
perang tanding tak tertandingi
bumi ini terguncang
hanya karna rebut sejengkal milik

Apakah hak milik lebih besar dari HAM
sedang hidup cuma sekali,
apakah perang saudara bagai permata
sedang cintakasih nafas hidup

3. Falsafah Hidup

Budaya Manggarai menginspirasi
kaya kata bernilai bijak
filosofi relasional sangat kental,
sosialitas tak dapat diragukan

Embun kasih menyejuk dahaga
rumpun nilai meremajakan
sesama memerkaya cermin hidup
tempat menimba petuah bijak

Beda karakter jadi panorama
prinsip hidup pilihan semata,
tungku-tungku cinta menyala,
buah semangka ingin dirasa

Motif seni menghiasi,
sajak budaya elok dinanti,
lisan insan mengena di hati
falsafah hidup tak usah dikebiri

4. Bercermin

Kebijaksanaan memanjang ke langit,
tak lekang dibakar mentari
tubuh lusuh tak jadi soal
asal kau menimbun ilmu sampai ke ujung
petuah sang ayah ibumu kala itu

Mengapa kau berhamba pada rasa hampa
bukankah nikmat sesaat menyesat
mengapa kau menjajah masa depanmu sendiri
bukankah kau tuan atas hidupmu ini

Ayah ibumu terpanggang bara panas
mata tak dapat terpejamkan
tubuh lelah tak berdaya
hati pikiran tetap bekerja
demi hari depanmu nan indah

Lantas, kau berterimasih dengan reruntuhan sukses
jiwamu mondar-mandir dalam proses
lebih mementing nikmat semata,
mengutamakan pernak pernik duniawi
lebih memamer tubuh molek dari yang utama
itukan cinta yang kau tuai teruntuk
ayah ibumu tercinta

Sadar kawan, sadarlah…
reruntuhan puing masa depan menggema
menuntut tanggung jawabmu,
membangun kembali menara jaga
mumpung waktu bertengger di kelopak matamu
dan dawai cinta masih berpihak padamu

Bercermin kawan, bercerminlah…
bahagiakan ayah ibumu
dengan tobat dan suksesmu
selagi mereka di penghujung senja
berjuang hingga kau memetik bintang

5. Panah Mekar

Serumpun keluarga bahagia di mata,
dibangun di atas cumbu cemburu,
dimainkan dengan nada ketertutupan,
dengan sukma dendam kesumat

Lampiasan iri pada mawar tengah mekar,
karna mungkin tersaingi, entah…
atau segunung ego meletus,
takut akut matanya terbuai pada
mekar kembang memesona

Saudara dipandang selayang saing
akal durja merayap jahat
hati mati tenggelam dalam senyum belati
mata busuk mengecoh tatapan
memicu sentakan amarah tanpa sebab

Nafsu liar bagai harimau
garis bibir pun ikut bertempur
bunga mekar dipandang musuh
karna kembangnya malah layu di tanah subur

Di mana nuranimu
dimana nalar sehatmu
kemana cintamu
apa artinya mengasihi

Teguk sebening embun dari mata air sejati
mengasihi Tuhan,
mengasih sesama seperti dirimu
tak usah memanah mekar pada saudara
fokuslah merawat kembang di tanahmu sendiri

6. Sosialitas Cinta

Rumpunan satu hulu bersayap,
semuanya bagai kerbau liar,
memertahankan ide meski…
asal bukan pendapat yang lain

Semuanya saling beradu gensi
utamakan sensasi,
tak sadar kering rapuh secara intrinsik
namun nyali, licik kaya trik

Apa yang kau cari
apakah kau ialah kebenaran
di mana sosialitas cintamu
kemana gendang telingamu

Kepak sayapmu menuju petuah leluhur
baca sabda dan merenung di bawah langit rumah
di setiap lembar kitab termeterai sabda kehidupan
agar kau tetap nyaman di jalan berbatu-batu

Oleh: Nasarius Fidin

  • Penulis: Nasarius Fidin

Komentar (4)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Yakub Kareth Sosok Rendah Hati di Balik Jabatan Sekda Papua Barat Daya

    Yakub Kareth: Sosok Rendah Hati di Balik Jabatan Sekda Papua Barat Daya

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 171
    • 3Komentar

    Di tengah hiruk-pikuk dunia birokrasi yang sering dipandang penuh formalitas dan jarak antara pemimpin dengan masyarakat, sosok Yakob Kareth sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat Daya menghadirkan warna yang berbeda. Ia dikenal bukan semata karena jabatan tinggi yang disandangnya, melainkan karena sikap rendah hati yang melekat kuat dalam dirinya. Kerendahan hati itu menjadi ciri khas […]

  • 15 Puisi Terbak Karya Nasarius Fidin

    15 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin

    • calendar_month Minggu, 12 Apr 2026
    • account_circle Nasarius Fidin
    • visibility 847
    • 0Komentar

    Hari hari ialah makna cinta,Jam, menit, detik pun cintapagi hingga pagi mengalir bulir cintasiang malam terbersit cinta Cinta tak kenal batas,cinta tak kenal lelah,cinta ialah awal hingga akhircinta ialah ekspresi hidupcinta ialah hidup Dalam gelap terkais jalan cintakau menemukan tapak cahaya cintasehingga mampu melawan gelapdan melewati malam Terang pun cintatak semua siang terbersit cintabisa saja […]

  • “Tagihan Berpikir Paradigmatik di Ruang Sosial”, Komentar Dosen Ilmu Sosial dan Pendidikan UNIKA St. Paulus Ruteng Soal Pengukuhan Uskup Maksimus Regus dan Sabina Ndiung sebagai Guru Besar

    “Tagihan Berpikir Paradigmatik di Ruang Sosial”, Komentar Dosen Ilmu Sosial dan Pendidikan UNIKA St. Paulus Ruteng Soal Pengukuhan Uskup Maksimus Regus dan Sabina Ndiung sebagai Guru Besar

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 1.796
    • 0Komentar

    Detikbernas.com, Ruteng – Universitas Katolik Indonesia St. Paulus Ruteng (UNIKA St. Paulus Ruteng) mengukir sejarah akademik dengan pengukuhan dua tokoh intelektual hebat, Mgr. Prof. Dr. Maksimus Regus, S.Fil., M.Si sebagai guru besar dalam bidang Sosiologi Agama dan Multikulturalisme, dan Prof. Dr. Sabina Ndiung, M.Pd, di bidang Pendidikan Matematika ke-SD-an. Upacara pengukuhan tersebut dilakukan oleh Kepala […]

  • Metodologi Penelitian Pendidikan; Membongkar Realitas Tersembunyi di Tengah Budaya Instan

    Metodologi Penelitian Pendidikan; Membongkar Realitas Tersembunyi di Tengah Budaya Instan

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 1.965
    • 34Komentar

    Mencintai masa depan generasi Z tidak dengan kata indah semata, tetapi mengupas persoalan-persoalan bahkan yang luput dari pisau bedah peneliti. Dalam dunia pendidikan, menjadi guru adalah menjadi peneliti realitas secara menyeluruh. Aktivitas penelitian menjadi pilihan hidup sekaligus kewajiban setiap pendidik. Mengapa? Di era modern ini, dunia sudah dan sedang terjebak dalam budaya instan. Persaingan teknologi […]

  • Rekonstruksi Model Kedisiplinan Siswa Terkait Rendahnya Kualitas Lulusan

    Rekonstruksi Model Kedisiplinan Siswa Terkait Rendahnya Kualitas Lulusan

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 1.254
    • 4Komentar

    Di tengah persaingan global, peserta didik lebih cendrung melakukan hal-hal yang tidak penting dari pada upaya pengembangan kualitas diri. Kecanduan penggunaan hp/gadget di luar batas nalar yang membuat siswa tersebut lupa mendisiplinkan diri. Hal itu dilakukannya dengan tahu dan mau. Dia tahu bahwa sikap tidak disiplin dapat merugikan diri sendiri dan masa depannya, tetapi dia […]

  • Petani mengalami gagal panen pisang di Satarmese Barat.

    Dampak Ekonomi Akibat Gagal Panen Pisang di Satarmese Barat

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 308
    • 0Komentar

    Indonesia mencapai usia emas pada tahun 2045. Dalam menuju usia emas itu, transformasi ekonomi ditetapkan sebagai pilar utama dalam mewujudkannya. Sektor pertanian berkelanjutan memegang peran penting khususnya di wilayah – wilayah yang kaya akan potensi alam seperti Manggrai, Nusa Tenggara Timur. Transformasi ini tidak hanya bertujuan untuk mencapai kedaulatan pangan, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan […]

expand_less