Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » CERPEN » Langkah Juang Menuju Terang

Langkah Juang Menuju Terang

  • account_circle admin
  • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
  • visibility 282
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di pelukan sunyi sebuah desa pedalaman yang tidak dijamah dengan keramaian kota, Dela merajut hari-harinya. Meski usianya baru genap dua belas tahun, binar di matanya menyimpan api cita-cita yang melampaui batas cakrawala. Desanya adalah sebuah rahasia yang terkunci, tempat di mana jalanan masih berupa tanah yang menyimpan jejak hujan, cahaya lampu hanya singgah sekejap sebelum ditelan malam, dan sinyal komunikasi seringkali hanyut dibawa angin. Namun, di antara segala sekat dan keterbatasan itu, Dela memupuk sebuah mimpi, ia ingin menjadi penunjuk jalan, seorang pemandu wisata yang membawa dunia mengenali keelokan tanah kelahirannya. Baginya, mimpi itu bukan sekadar ambisi pribadi, melainkan ia ingin membanggakan kedua orang tuanya.

Setiap pagi, Dela bergegas ke sekolah yang jaraknya hampir lima kilometer. Jalan menuju sekolah bukanlah jalan beraspal, melainkan jalan berbatu dan tanah yang berlumpur. Kadang ia harus menyeberangi sungai kecil dengan jembatan bambu yang rapuh. Meski lelah, Dela selalu membawa buku catatan lusuhnya. Ia tahu, setiap huruf yang ia pelajari adalah batu bata untuk membangun masa depan. Namun, keterbatasan listrik membuatnya sulit belajar di malam hari. Lampu pelita menjadi teman setia, meski asapnya sering membuat mata perih. Di era digital, banyak anak kota bisa belajar lewat internet, menonton video pembelajaran. Dela hanya bisa mendengar cerita itu dari gurunya. Di desanya, sinyal telepon hanya muncul di titik tertentu, biasanya di atas bukit atau dekat pohon besar. Dela sering berjalan ke bukit setelah pulang sekolah. Ia membawa ponsel tua milik Ayahnya yang baterainya cepat habis. Dengan sabar, ia menunggu sinyal muncul, lalu mencoba mengunduh kosa kata Bahasa Inggris, karena di sekolahnya tidak terdapat Pelajaran Bahasa Inggris. Sementara untuk bisa mewujudkan mimpinya, ia harus bisa berbahasa Inggris. Kadang saat ia sedang asik belajar, ponselnya tiba-tiba mati. Namun ia tidak menyerah. “Kalau aku berhenti, mimpi ini akan mati,” bisiknya setiap kali layar ponsel menampilkan tulisan loading. Ayah dan ibu Dela bukan orang berpendidikan tinggi. Ayahnya hanya lulusan SD, begitupun dengan ibunya. Namun mereka mendukung penuh mimpi Dela. Suatu malam, ketika Dela sedang belajar tiba-tiba minyak lampu pelita yang sedang ia gunakan habis, ibunya berkata, “Nak, kami mungkin tak bisa memberi banyak. Tapi kami percaya, ilmu akan membawamu keluar dari jalan sempit ini.” Kata-kata itu menjadi bahan bakar semangat Dela. Ia tahu, perjuangannya bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk keluarga dan desanya.

Suatu hari, Dela mendapat kabar bahwa ada tamu dari luar negeri yang akan mengunjungi kampung tetangga, dan mereka akan membagikan buku kosa kata Bahasa Inggris secara gratis. Ia ingin sekali ikut, karena ingin mendapatkan buku kosa kata tersebut. Namun perjalanan ke kampung tetangga bukanlah hal mudah. Jalan berlubang dan kendaraan yang masih terbatas menjadi penghalang. Dela harus berjalan kaki hampir dua jam menuju kampung tetangga. Di tengah perjalanan, hujan deras turun, Dela basah kuyup, namun ia tetap bertahan, dan terus berjalan. “Kalau aku menyerah sekarang, aku tak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk memiliki buku kosa kata itu,” katanya dalam hati. Akhirnya ia tiba di kampung tetangga, meski terlambat. Saat ia tiba, pembagian buku sudah hampir selesai, hanya tersisa satu buku. Sementara anak-anak yang lainnya masing-masing mendapatkan tiga buku. Namun, ia tetap bersyukur dan merasa sangat senang karena masih bisa mendapatkan buku kosa kata itu.

Malam itu, Dela kembali ke desa dengan hati penuh harapan. Ia tahu jalannya masih panjang, tetapi ia sudah melihat secercah cahaya. Ia mulai rajin menulis kosa kata dan belajar lebih giat. Namun, keterbatasan listrik tetap menjadi penghalang. Kadang ia harus menyalakan lampu pelita hingga larut malam. Meski begitu, ia percaya bahwa setiap halaman buku yang ia baca adalah langkah menuju mimpi. Guru Dela, Pak Robi, melihat semangat muridnya. Suatu hari, ia memanggil Dela. “Dela, aku tahu kamu punya mimpi besar. Jangan biarkan jalan berlumpur atau listrik padam menghentikanmu. Aku akan membantumu sebisa mungkin,” kata Pak Robi. Sejak itu, Pak Robi sering meminjamkan ponselnya agar Dela bisa mengakses internet lebih cepat. Dukungan itu membuat Dela semakin yakin bahwa ia tidak sendirian.

Bukit tempat Dela mencari sinyal akhirnya menjadi simbol perjuangan. Setiap kali ia mendaki, ia merasa sedang mendaki mimpi. Jalan terjal, sinyal lemah, dan baterai ponsel yang cepat habis adalah ujian kesabaran. Namun, di puncak bukit itu, Dela sering menatap langit dan berkata, “Aku akan sampai. Aku akan menjadi Pemandu Wisata yang profesional.” Tahun berganti, Dela kini menginjak usia tiga belas tahun. Ia memulai jenjang Pendidikan yang baru yaitu SMP. Semangatnya untuk belajar Bahasa Inggris kini semakin kuat, apalagi ia akan menempuh Pendidikan di kota. Ia tak lagi melewati jalan berlumpur untuk pergi ke sekolah, tak lagi harus pergi ke bukit untuk mengakses internet. Di SMP ia juga akan mendapatkan Pelajaran Bahasa Inggris, maka semakin luas pula ruang baginya untuk belajar.

Tiga tahun berlalu, Dela telah menyelesaikan pendidikannya di jenjang SMP. Kini saatnya Dela akan melanjutkan Pendidikan ke jenjang selanjutnya yaitu SMA. Perjalananya tidak mulus begitu saja, saat hendak memasuki jenjang SMA Dela harus dihantui rasa bimbang dan ragu. Dela bingung antara harus masuk ke SMA atau SMK. Ketika ia memilih untuk masuk ke SMA, maka ia akan tinggal dekat dengan orang tuanya, tapi kecil kemungkinan baginya untuk bisa mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pemandu wisata. Sedangkan Ketika ia memilih untuk masuk SMK, besar kemungkinan baginya untuk mewujudkan cita-citanya. Suatu malam, Dela menceritakan tentang kebimbangan hatinya kepada kedua orang tuanya. Ibu Dela dengan lembut menepuk bahu Dela sambil berkata “Nak, ikuti kata hatimu. Jangan pikirkan kami, kami akan baik-baik saja. Jika dengan masuk ke SMK Pariwisata bisa membantu mempermudah kamu untuk menggapai cita-citamu maka pilihlah itu.” Setelah mendengar perkataan itu dari ibunya, Dela langsung merasa lega, dan langsung memutuskan untuk masuk ke SMK Pariwisata. Kedua Orang tuanya juga langsung menyetujui keputusan Dela tersebut.

Akhirnya, Dela mendaftarkan dirinya ke salah satu SMK Pariwisata yang berada di kecamatan Satarmese Barat, yaitu SMKN 1 Satarmese. Sekolah tersebut sangat jauh dari kampungnya, di sekolah juga Dela dituntut untuk bisa beradaptasi dengan orang-orang yang belum ia kenal sebelumnya. Awalnya Dela merasa tidak betah di lingkungan sekolah tersebut. Namun, ia tidak berhenti. Ia terus belajar beradaptasi dengan lingkungan tersebut, hingga akhirnya ia terbiasa, dan ia merasa betah. Setelah satu tahun belajar dan mendapatkan teori di sekolah, tiba waktunya untuk Dela dan teman-temannya melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Selama melakukan PKL Dela merasa dirinya sudah menjadi seorang pemandu wisata yang sesungguhnya, karena ia sudah bisa berbicara secara langsung dengan tamu-tamu asing di tempat ia praktek.

Waktu berjalan tanpa permisi, setiap musim pun berlalu tak terasa, tiga tahun telah usai. Dela kini sudah lulus dari bangku sekolah.
Ia melipat seragam putih-abunya dengan rapi, menyimpan kenangan di laci terdalam, lalu melangkah menuju riuh dunia kerja. Bagi Dela, ijazah itu bukan sekadar kertas, melainkan tiket untuk menjemput senyum di wajah tua ibunya dan ketenangan di pundak lelah ayahnya.
Dela pun bekerja menjadi seorang Pemandu Wisata. Dela menyimpan sebuah janji yang ia ucapkan pada dirinya sendiri bahwa“Ternyata benar, perjuangan yang luar biasa akan dibalas dengan hasil yang luar biasa pula.”

                SELESAI

Penulis

Admin adalah anak kampung yang punya kerinduan untuk mengubah dunia dengan cinta, kebenaran dan kebijaksanaan melalui goresan-goresan bernas. Setiap detik tulisan pasti bernas. Admin akan selalu mempublis tulisan yang menyejukkan dahaga para pembaca. Kiranya teman-teman pembaca selalu hadir dan betah untuk menikmati setiap suguhan pena detikbernas.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Desa wisata Todo memiliki mutiara tersembunyi yang barangkali banyak orang belum mengetahuinya. Mutiara itu sudah tersimpan sejak nenek moyang, jaman kerajaan. Mutiara tersembunyi itu sudah bersinar sejak lama bagaikan rembulan di kala malam gelap. Mutiara-mutiara itu yakni nilai-nilai kehidupan yang indah, selain bentuk rumah kerucut dan panorama alamnya.

    Desa Wisata Todo Menyimpan Mutiara Tersembunyi

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 393
    • 0Komentar

    Desa wisata Todo memiliki mutiara tersembunyi yang barangkali banyak orang belum mengetahuinya. Mutiara itu sudah tersimpan sejak nenek moyang, jaman kerajaan. Mutiara tersembunyi itu sudah bersinar sejak lama bagaikan rembulan di kala malam gelap. Mutiara-mutiara itu yakni nilai-nilai kehidupan yang indah, selain bentuk rumah kerucut dan panorama alamnya. Desa wisata Todo merupakan salah satu destinasi […]

  • Petani mengalami gagal panen pisang di Satarmese Barat.

    Dampak Ekonomi Akibat Gagal Panen Pisang di Satarmese Barat

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 252
    • 0Komentar

    Indonesia mencapai usia emas pada tahun 2045. Dalam menuju usia emas itu, transformasi ekonomi ditetapkan sebagai pilar utama dalam mewujudkannya. Sektor pertanian berkelanjutan memegang peran penting khususnya di wilayah – wilayah yang kaya akan potensi alam seperti Manggrai, Nusa Tenggara Timur. Transformasi ini tidak hanya bertujuan untuk mencapai kedaulatan pangan, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan […]

  • Suara Redaksi

    Detikbernas Tampil Bernas, Solutif dan Terpercaya

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 225
    • 0Komentar

      DETIKBERNAS.COM merupakan media online yang hadir karena adanya kerinduan bergelora dari salah seorang anak kampung ujung Nusantara. Kehadiran media ini bermaksud untuk menyejukkan dahaga masyarakat yang haus mengenai keadilan, kebenaran, kebahagiaan, kesejahteraan berpikir, hati dan kehendak bebas. Media ini tidak berfokus pada bagaimana melihat persoalah dari kacamata persoalan itu sendiri, tetapi bagaimana persoalan dikunyah […]

  • Transformasi Ekonomi Pertanian Manggarai di Tengah Gempuran Budaya Intan: Judi Online atau Proses Cerdas?

    Transformasi Ekonomi Pertanian Manggarai di Tengah Gempuran Budaya Intan: Judi Online atau Proses Cerdas?

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 219
    • 1Komentar

    Budaya instan bagaikan harimau meraung-raung di saat fajar pagi menyinsing. Raungannya merupakan taringan tajam menembus sulur niat para petani sehingga mindset dan mentalitas instan menguasai nurani. Faktor penyebab terjadinya hal itu karena masyarakat Manggarai belum mampu beradaptasi secara komprehensif terkait kemajuan tehnologi. Kebanyakan orang terjebak pada persaingan tehnologi. Mereka belum siap untuk hidup sesuai kemajuan […]

  • Kisah Kelahiran dan Masa Kecil Yakob Kareth; Dari Kampung Sederhana Menuju Sekretaris Daerah

    Kisah Kelahiran dan Masa Kecil Yakob Kareth; Dari Kampung Sederhana Menuju Sekretaris Daerah

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Nasarius Fidin
    • visibility 329
    • 0Komentar

    Drs. Yakob M.Kareth, M.Si., bukanlah sosok asing di arena pelayanan publik di wilayah pemerintahan provinsi Papua Barat Daya. Ia adalah role model (panutan)yang memadukan Integritas, dedikasi dan kompetensi akademik yang briliant dengan jabatan strategis dibirokrasi pemerintahan sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Papua Barat Daya. Ia membawa aura profesionalisme berkat pencapaiannya di dunia akademik hingga menyandang […]

  • Tinjauan Kritis Hakekat Manusia dan Realitas Pendidikan di Indonesia

    Tinjauan Kritis Hakekat Manusia dan Realitas Pendidikan di Indonesia

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Nasarius Fidin
    • visibility 1.569
    • 2Komentar

    Di era modern, pendidikan menjadi pergumulan bersama yang wajib diprioritaskan. Pendidikan kontekstual memampukan manusia mengasah dan mengembangkan segala potensi yang dimiliki. Manusia yang berpendidikan mampu merumuskan tujuan, proses dan arah pendidikan serta kehidupan yang diimpikan. Kesadaran ini mendorong pendidik berpikir bijak untuk mendidik peserta didik secara humanis dalam kaitannya dengan kurikulum yang ada. Tulisan ini […]

expand_less