Pendidikan: Antara Janji Merdeka dan Realita Yang Terpenjara
- account_circle admin
- calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
- visibility 195
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pendidikan: Antara Janji Merdeka dan Realita Yang Terpenjara
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Merdeka. Kata itu sering ditulis Ki Hajar Dewantara di atas sekolah pertamanya. “Merdekakan manusia”, katanya. Bukan Cuma merdeka dari penjajah, tapi merdeka pikirannya, merdeka batinnya, merdeka jadi diri sendiri.
100 tahun kemudian, kita punya jutaan lebih anak sekolah. Kurikulum merdeka. Kampus merdeka. Guru penggerak. Semua ada kata “merdeka”. Tapi cobalah kita bertanya jujur kepada anak-anak SMP dan SMA sekarang, kamu merasa merdeka tidak di sekolah?
Jawabannya menyentuh hati. Karena janji merdeka itu masih jauh. Realitanya? Pendidikan kita masih terpenjara.
- Terpenjara oleh Nilai Di atas Kertas
Janji pendidikan: mencerdaskan kehidupan bangsa.
Realita: mencerdaskan cara untuk mendapatkan nilai 100 atau nilai bagus.
Anak-anak kita merdeka memilih ekstrakurikuler, tapi tidak merdeka pilih untuk tidak ikut les tambahan. Merdeka pilih jurusan kuliah, tapi tidak merdeka bilang “saya tidak mau jadi guru, tidak mau jadi dokter dan profesi lainnya ke orang tua.
Kita bilang bahwa kurikulum merdeka bikin siswa bisa eksplorasi minat. Tapi begitu raport keluar, yang ditanya itu rangking berapa?. Guru merdeka mengajar, tapi tetap dikejar target ketuntasan materi 100 % sebelum PTS atau UAS berlangsung. Kalau tidak tercapai, dibilang bahwa guru itu tidak kompoten atau tidak berkemampuan.
Hasilnya? Semua peserta lulus dengan nilai baik, tapi tidak tau dia suka nya apa. Guru lulus sertifikasi, tapi ngantuk di kelas karena mengurus begitu banyak materi untuk persiapan mengajar. Kita semua merdeka di kertas tapi terpenjara di angka.
- Terpenjara oleh Tembok Kelas Yang tidak Relevan
Ada janji merdeka belajar: bahwa sekolah lebih dekat dengan dunia nyata.
Realita : dunia nyata sudah pakai teknologi canggi, sekolah masih sibuk melarang anak bawah hp ke sekolah.
Anak SD dan SMP bisa edit video 1 juta vievs dari rumahnya, tapi di sekolah disuruh bikin kliping dari koran. Anak SMA jago jualan di shopee, tapi mata pelajaran kewirausahaan masih mengajari buat proposal ke bank. Kita bicara merdeka berinovasi., tapi ruang kelasnya masih format ceramah satu arah dan di tambah papan tulis terpapar di depan kelas.
Anak merasa sekolah itu penjara, bukan penjara fisik tapi penjara waktu. 7 jam sehari duduk, mendengarkan hal yang tidak tau di luar sana.begitu bel pulang, baru di merasa merdeka buat belajar hal yang dia suka: dari YouTube, dari Internet dan dari ChatGPT. Sangat Ironis sekali. Yang buat merdeka pintar justru yang dilarang sekolah.
- Terpenjara oleh Beban Administrasi Bernama “Merdeka”
Sulit sekali dan ini yang paling pahit. Atas nama merdeka belajar, guru semakin tidak merdeka. Mau jadi guru penggerak? Silahkan isi belasan modul, unggah aksi nyata, buat laporan refleksi. Mau sekolah dapat BOS kinerja silahkan input raport pendidikan, susun perencanaan berbasis data, sinkron ARKAS. Mau Akkreditasi? Siapkan 8 standar dalam ratusan dokumen.
Guru yang harusnya mikirin “bagaimana cara membuat anak di pojok belakang itu bisa berbicara, malam berpikir “bagaimana buat LKPD biar lolos penilain”. Waktu buat peserta didik dipenjara oleh waktu buat aplikasi.
Kita merdeka tahun 1945. Kita merdeka dari penjajah Belanda. Tapi terjajah oleh exel, word, PDF, dan dealine upload.
- Terus, Kuncinya Dimana?
Merdeka itu bukan dikasih. Merdeka itu diambil, dan buat ambilnya 3 penjara ini yang harus kita bobol bersama.
Bobol penjara Nilai: Berani Definisi Ulang “Pintar”
Berhenti bertanya “kamu dapat nilai berapa hari ini?”. Ganti jadi “kamu kemarin buat bangga karena apa?’. Kalau anak bisa bongkar mesin motor sendiri pada SMK, itu pintar. Kalau anak bisa menangani adiknya yang menangis, itu pintar. Kalau raport boleh tidak 100, asal mental nya tidak 0 sama sekali.
Sekolah harus berani kasih raport narasi. Anak hebat di kolaborasi, tapi perlu latiha deadline. Itu lebih merdeka dari pada angka 90 yang tidak bicara apa-apa.
Bobol Penjara Tembok Kelas: Kasih Anak masalah Nyata
Ganti memberi tugas “buat makalah Globalisasi” menjadi “wawancara kejadian nyata dekat rumah”: apa masalahnya?.
Ganti PR Matematika “hitung luas trapesium” menjadi “ukur kelas kita, butuh cat berapa kaleng kalau 1 kaleng untuk 5 Meter persegi?’’
Biar anak-anak merasakan: ilmu itu alat, bukan hukuman. Kalau sudah merasa gunanya seperti apa, tidak perlu disuruh, dia bakal belajar sendiri. Itu merdeka benaran.
Bobol Penjara Administrasi: Percaya Sama Guru.
Kementrian pendidikan dan kebudayaan harus berani: pangkas 80 % administrasi guru. Ganti laporan 30 halaman menjadi 1 video berdurasi 2 menit.
Kalau kita tidak percaya guru, mengapa kita rekrut mereka? Kasih guru merdeka, baru dia bisa memerdekakan murid. Sesimpel itu saja.
Penutup
Merdeka Itu Bukan Seragam.
Bapak Pendidikan kita Ki Hajar Dewantara, tidak pernah bilang, seragam harus putih abu-abu. Tidak pernah bilang bangku harus berbaris. Dia Cuma bilang: “ Didiklah anak sesua kodrat zaman nya” .
Kodrat zaman sekarang: anak bisa aksen info secepat kedipan mata. Kodrat zaman sekarang: anak gampang cemas, gampang kesepian.
Jadi kalau pendidikan kita masih buat anak takut bertanya, takut salah, takut beda, berarti kita belum merdeka. Kita baru ganti seragam penjajahnya saja. Dari kompeni menjadi menjadi kurikulum yang kaku.
Pendidikan yang merdeka itu sederhana: pas lulus, anak tidak Cuma bawah ijazah. Tapi bawah keberanian.berani mikir, berani beda, berani menjadi diri sendiri.
Sampai hari itu datang, kita masih punya PR: Bebaskan pendidikan dari penjara yang kita bikin sendiri.
Karena bangsa yang tidak merdeka pikirannya, selamanya akan terjajah. Walaupun kita mengikuti upacara setiap senin.
Oleh : Artemius Janu, S.Pd.,Gr (Guru Geografi SMA Negeri 4 Satarmese )
Penulis admin
Admin adalah anak kampung yang punya kerinduan untuk mengubah dunia dengan cinta, kebenaran dan kebijaksanaan melalui goresan-goresan bernas. Setiap detik tulisan pasti bernas. Admin akan selalu mempublis tulisan yang menyejukkan dahaga para pembaca. Kiranya teman-teman pembaca selalu hadir dan betah untuk menikmati setiap suguhan pena detikbernas.

Saat ini belum ada komentar