13 Puisi Terbaik Karya Nasarius Fidin
- account_circle Nasarius Fidin
- calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
- visibility 1.028
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilusutrasi diambil dari google, lalu diedit di canva.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
- Cinta Sejati
Cinta sejati dimeteraikan sakramen
disaksikan siapapun yang hadir
dimatangkan beribu onak tancap
jadi bahtera yang romantika
Cincin emas hanyalah tanda semata,
memahat selaksa belantara,
mengikat diri dengan janji setia,
satu untuk selamanya
itu yang utama
Setiap petir menyambar pikat rasa,
arus deras menenggelam bahtera,
jangan takut jika dilanda,
bangunkan Sang Penjala
meredakan gelombang samudera
Panas dingin tak usah dikekang
pahit manis perlu dikenang
tak usah meragu dikala mendung
dayun bahtera dengan gemilang
- Komitmen Cinta
Aku cinta dengan mata cinta
seluruh hidupku cintamu
dan semua adamu cintaku
cinta kita mengutuh
Cinta ini tak sekedar kata
hatiku penuh
melampaui ruang
mencinta adanya dirimu
tak lekang oleh waktu
Mencinta sejatinya
butuh komitmen,
konsistensi,
kesetiaan,
pengorbanan
- Sebijak Mentari
Jangan malu
jangan minder
jangan lelah
bertemu keluarga
dalam acara adat nikah
Tiada guna rasa berkecamuk
toh kekasih dan buah hati hadir juga
hanya karena banjir bandang
bukan salahmu
alam tidak berpihak
Tak usah salahkan hujan,
karna saatnya membasahi bumi,
menghijau gersang,
merapat tanah menganga
Ubah cara berpikir
ubah cara merasa
ubah cara menilai
sebijak mentari pagi
- Hulu Cinta
Tatap berjumpa
senyum berbinar,
kata-kata bersahutan
disaksikan hangatnya fajar
Rupa wajah berada
suara dan hening berpadu
tergantung bijak bertengger di kepala
mengarti suasana yang lara
Situasi jadi moody
hati pun tenggelam gelombang rasa,
duduk tenang berbingkai wibawa
merapal pagi tak menentu
Panik berdampak melarat
gelisah menggeli kening
namun kau harus memuja dewasa
memusar dengan cinta
- Minggu Kelabu
Mentari pagi dikeroyok awan gemawan pekat,
wajah berpakaian kabut,
rumah yang satu tertutup dari binar mata
deru hujan tak terkira
Alam meniup angin berputar
memenjarakan ruang gerak pada Minggu kelabu
membuat ku berteman sepi
namun kumanfaatkan momen ini
merangkai sajak, menggores konsep
Iklim ini hanyalah musiman
datang di setiap acara, pergi mendulang tanya,
memendam cerah,
memenjara semangat,
ada yang tak merapat,
karena hati melarat
Cuaca pagi tak bertuan
roda waktu tak terasa,
mungkin Tuhan punya rencana
asal kau mau diubah
- Wajah Unik
Kau ciptaan unik
raut wajahmu seistimewah rembulan, bintang…
helai rambut tergerak perlahan pada desir angin sepoi
mata juling berbintik hitam
suara merdu begitu mendamaikan sukma
Kau ciptaan paling mulia,
secuil jejak sungguh berharga,
sehelai rambutmu terhitung
segudang bakat, setangkas cerdas
membuatmu berbeda
aroma hadirmu tercium menawan
Kau gambaran wajah Ilahi
insan bermartabat,
nalar, hati, dan kehendak bersahaja
ekspresi memagnet tatapan
memikat jiwa
Kau pribadi berkarunia,
pemberian Tuhan maha dari semua yang ada,
patut kau bersiul puji
kepada Yang empunya segalanya
Dirimu paling beruntung,
tak satupun buntung merundung
itu semua karena cinta menjulang
baiklah karuniamu berkembang
- Tuhan Di Balik Mimpi dan Juangku
Kumemulai cara berpikirku dari belakang
dan memulai tindak juangku dari awal
kumenatap masa depan kumenuju
dan focus dalam proses aku menjadi…
Aku tak peduli seberapa besar badai menghadang
tak hirau seberapa kuat petir menerjang
aku tetap komit dan konsisten pada cita-cinta
berjuang meski jatuh dan terjatuh
aku tetap bangkit,
bahkan berlari kencang
meraih mimpi
Aku berusaha bernalar di kala ombang ambing iklim
berjuang hingga keringat ini lelah
focus pada tujuan,
focus jua pada proses
selebihnya Tuhan bekerja untukku
dan masa depanku
Aku tetap mengandalkan Tuhan
apapun tantangannya
ya untuk Tuhan dan tidak untuk hantu
sebab Tuhan besertaku selamanya
- Cinta Sang Ibu
Lusuh terserak, tua renta berbadan kurus,
berbaju motif keriput,
tulang belulang nampak keropos,
makan dari remah remah si kaya
Wajah rapuh tak dipandang,
bernapas kasih di hantinya,
memakai kain lenan robek
berdandan dalam ketaksesuaian mata
Tangan tua renta itu selamatkan
anak muda memar terkapar
di pinggir jalan karena
korban raungan majikannya
Wajah tua itu memangkunya,
meminyakinya dengan rempah,
mengenakan lenan miliknya padanya
menerbangkan seuntai kertas pada langit biru
bertuliskan “kupinta Tuhan selamatkan anakku”
Seketika anak muda sadar
sekucur tubuh kakunya memulih
namun tua itu menghilang dari ujung matanya
ternyata senyum renta itu persis seperti
gambar ibunya yang sudah lama
bersemanyam di pusara
sejak ia masih kecil
- Kopi senja
Kepul asap surya,
dilengkapi seruput kopi senja,
duduk manis di teras rumah di pinggir jalan kota
tak jauh dari tatapan mata
Wajah sunyi itu sedang asyik-asyiknya
menyepi di balik kisi-kisi
kupu-kupu beterbang kesana kemari
namun tak diusiknya
Ada apa sepasang mata juling itu,
apa yang dia pikirkan
apa yang di cari,
tanyaku dibalut penasaran
Sejenak kubermenung dalam gerget
mencari tahu yang tidak pasti
sebatas nalar yang haus pada misteri
ternyata wajah itu tengah mikirin
kopi senja kehidupan
- Kekasih Hati
Kekasih hati manis parasnya,
elok rupanya,
bersinar wajahnya,
sederhanya bawaannya
Kekasih hati hening jiwanya,
lembut teguh
setia mencinta
aroma harum penuh seluruh
Kekasih hati tegas berprinsip
lembut berkata
tajam berasah
seyum meneduh
Kekasih hati penuh cinta
cahaya memancar
romantika di pangku
love you for ever
- Lemari Patah
Lemari patah di kamar,
kusangka malam berkabut
ada pengait disambar petir
tutupan jadi liar merapuh
Lemari menganga di kamar,
dihantam pelana senja
padahal bahan buatan kota
tak sekuat dari kayu jati
Skil kota tidak diragukan
dipoles pelbagai seni canggih
jadi memolekkan mata
namun tak sekuat buatan wajah kampung
hatinya tak canggung
utuh dalam berproses
Aku tak sedang merendah
karena memang lemari kini rusak
karena bahan serbuk mudah patah
dipukul angin terpendam
- Hidup Mesra
Minum anggur sampai mabuk
melepas resah seketika
mengaduk kopi malam
menyeruputnya dengan ria
Pandang malam yang ambruk
jemput cahaya tersenyum
menari jemari tanpa ragu
gulung ombak jiwa hingga reda
Potret obyek terselip,
menulis sajak sajak hidup,
pada tiap lembar tabut
mata terpaut jadi benderang
Mari kita berjumpa
Tuhan lelah menunggu
jangan lepas memeluk
hidup menjulang mesra
- Sehat Jiwa Raga
Pinggang berbeban berat
rasa menjerit,
denyut pikiran tak karuan
menelur gelisah malang
Sauh meneduh seluruh
Tuhan menyamar tampang
harap aku mengerti
malah hati melirih
Tuhan, ajar kusemakin beriman,
menantang awang menara,
aku tenang melewati,
istana cinta kugapai
Tuhan, aku melantun puji
kepadaMu bersemayam
agar tubuh mungil seperti
hidup sehat jiwa raga
- Penulis: Nasarius Fidin

Saat ini belum ada komentar