Transformasi Ekonomi Pertanian Manggarai di Tengah Gempuran Budaya Intan: Judi Online atau Proses Cerdas?
- account_circle admin
- calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
- visibility 46
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi diambil dari google (antaranews).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Budaya instan bagaikan harimau meraung-raung di saat fajar pagi menyinsing. Raungannya merupakan taringan tajam menembus sulur niat para petani sehingga mindset dan mentalitas instan menguasai nurani. Faktor penyebab terjadinya hal itu karena masyarakat Manggarai belum mampu beradaptasi secara komprehensif terkait kemajuan tehnologi.
Kebanyakan orang terjebak pada persaingan tehnologi. Mereka belum siap untuk hidup sesuai kemajuan tersebut. Efeknya, masyarakat Manggarai menerima secara mentah kemajuan tehnologi semisal situs-situs yang berdampak negatif bagi kesejahteraan bersama, sebut saja judi online (judol).
Jemari para petani cendrung menari-nari di antara tuts-tuts judi online hingga mabuk kepayang. Kecanduan menjadi makanan di tengah kelaparan keluarga. Dalam masyarakat modern, yang disebut sebagai mentalitas instan telah menjadi fenomena yang sangat umum.
Persoalan tersebut berdampak pada mentalitas serba instan. Orang-orang menginginkan segala sesuatu serba cepat seperti penghasilan instan tanpa melalui usaha keras dan cerdas. Dan keinstanan dipandang universal sebagai suatu kebiasaan bahkan kebenaran yang wajib dihayati dalam kehidupan nyata.
Melihat persoalan itu, masyarakat Manggarai melakukan re-instal mindset dan mentalitas untuk melakukan transformasi ekonomi pertanian berkelanjutan di tengah gempuran budaya instan. Kesadaran ini bermaksud untuk memerangi dan meminimalisir pengaruh budaya instan di bumi Nucalale. Masyarakat mengatasi kecendrungan judol dan mengembangkan segala potensi, bakat dan kemampuan untuk mewujudkan pertanian modern.
Budaya Instan (?)
Budaya instan dipahami sebagai budaya yang mendorong masyarakat inginkan sesuatu serba cepat, mudah, tidak mau ribut, atau serba instan. Manusia tidak mau memberi ruang kepada dirinya sendiri untuk berpikir produktif, kreatif, inovatif dan mengutamakan proses. Semuanya serba instan. Keinstanan adalah suatu kebenaran yang berlaku bagi semua orang di tengah kemajuan tehnologi. Pasalnya, era tehnologi menawarkan segala sesuatu serba mudah diakses.
Realitas tersebut sangat mudah ditemukan di kalangan masyarakat. Kebanyakan orang cendrung mencari nafkah di dunia online seperti judol. Kecanduan judol membuatkan sebagain orang lupa diri, waktu tersita tanpa meninggalkan bekas bermakna, dan lupa keluarga. Singkatnya mereka lupa segala sesuatu yang lebih penting dan mendesak karena judol dianggap lebih trend, menarik dan mudah untuk meraup keuntungan besar dalam waktu singkat.
Adapun efek dari kenakalan online tersebut yakni relasi dengan Tuhan semakin dangkal. Kedekatan dengan keluarga dan sesama menjadi berantakan, bahkan mereka susah untuk mengurus diri sendiri. Sebab judol adalah Tuhannya yang menawarkan sesuatu yang sesaat tetapi menyesatkan dirinya sendiri dan keluarga.
Dalam konteks SMA/SMK, kebanyakan siswa/i tidak mengutamakan apa yang menjadi tugas utama. Mereka lebih cendrung hp-an seperti wa-an, facebook-an, tiktok-an atau bahkan judol. Waktu dan tenaga dikuraskan hanya untuk hal yang tidak berdampak pada cita-cita. Mereka tidak belajar dan mengerjakan tugas-tugas yang telah diberikan guru karena berharap pada kecerdasan buatan (AI) untuk mendapatkan hasil dengan cepat dan mudah.
Budaya instan ini terungkap dari realitas yang memang tidak bisa kita hindari. Kita memang berada di dunia gelobal yang serba instan. Bahwa, kecepatan dan sifat serba instan menjadi ciri utama kehidupan modern. Berkat kemajuan teknologi, segala akses informasi dan sebagainya cepat tersaji dalam hitungan detik. Media sosial, belanja daring, dan layanan digital telah meninabobokan rasionalitas dan hatinurani manusia karena segala sesuatu dapat dilakukan dengan satu klik.
Kecepatan akses ini memiliki banyak nilai guna. Relasi-komunikasi menjadi mudah; yang dekat jadi jauh dan yang jauh jadi dekat. Bisnis menjadi lancar dan aman sehingga bisa mencapai keuntungan besar. Kita bisa mengakses segala sesuatu tanpa batas. Segalanya terbuka baik yang positif maupun yang negatif. Manusia dihadapkan pada dilematis yang akut bila dirinya tidak bisa dikendalikan dengan kesadaran, cinta, hatinurani dan rasionalitas.
Tekanan kemajuan tehnologi membuat segala sesuatu cepat tersaji, tetapi hal itu mengabaikan proses seperti berliterasi, pengembangan diri, belajar membangun sesuatu yang membutuhkan waktu, tenaga dan proses cerdas.
Karena itu, inmediatez di dunia global harus dipandang sebagai alat sekaligus tantangan. Kita perlu belajar menyeimbangkan kecepatan kemajuan teknologi dengan kedalaman pemikiran manusia agar masa depan yang kita bangun menjadi lebih bijaksana dan berkelanjutan.
Hemat saya, budaya instan membekukan mata batin, kesadaran, budaya mencinta, kesabaran, kerja keras dan tanggung jawab. Budaya tersebut merupakan jalan pintas untuk mencapai kesuksesan tanpa memikirkan resiko. Semuanya seperti membalikkan telapak tangan atau dalam konteks mistis seperti bim sala bim. Padahal semuanya itu merugikan dalam setiap aspek bila tidak ditata, dikelola dan dikendalikan dengan rasionalitas dan hatinurani.
Realitas Petani Manggarai
Sebagain besar petani Manggarai terjebak dalam budaya instan. Mindset dan mentalitas cepat saji menjadi kebiasaan bahkan membudaya oleh karena kecanduan. Masyarakat lebih cendrung memilih jalan pintas dan instan. Petani semakin bergantung pada praktek instan.
Budaya instan pelan-pelan menghilangkan nilai-nilai yang telah diwariskan para leluhur seperti kerja keras dan tanggung jawab untuk menghidupi keluarga.
Para petani mulai beralih profesi meskipun tidak semua orang melakukannya. Ada orang menggantikan pengolahan tanah dengan judol. Atau tanah mereka sesungguhnya adalah ladan aplikasi judol. Mereka tidak lagi bertani atau berkebun atau bekerja di sawah dan sebagainya. Mereka lebih memilih yang paling singkat dan mudah.
Realitas para petani Manggarai tengah berada di persimpangan. Budaya yang memgutamakan proses atau hasil instan. Apalagi hingga saat ini sebagian petani masih menerapkan gaya bertani konvensional sehingga pendapatan juga tidak memuaskan. Mereka sangat shok dengan kehadiran tehnologi yang semakin canggih. Kapasitas para petani belum mumpuni jika dibandingkan dengan alat tehnologi yang membutuhkan sumber daya manusia (SDM) tinggi.
Tantangannya tidak hanya terletak pada insfrastruktur tetapi kapasitas manusia. Kemajuan tehnologi mengharuskan para petani Manggarai untuk beradaptasi dan bertransformasi untuk menjadi petani moder yang berkelanjutan.
Realitas para petani Manggarai adalah sebuah potret yang perlu dikritisi. Saatnya para petani berbenah agar tidak terjebak dalam kecanduan judol. Hal ini menjadi perhatian bersama sebab pertanian merupakan salah satu aset utama di bumi Manggarai. Aset ini mau tidak mau ditindaklanjuti dengan cara yang lebih baru dan kontekstual.
Transformasi Ekonomi Pertanian Berkelanjutan
Para petani Manggarai melakukan transformasi ekonomi pertanian berkelanjutan supaya kesejahteran bersama menjadi panorama indah. Ada beberapa poin penting untuk mendukumg transformasi tersebut yakni
Ubah mindset dan mentalitas, pendidikan kontekstual dan transformasi ekonomi berkelanjutan.
Pertama, Ubah mindset dan mentalitas menjadi sesuatu yang sangat urgen di kalangan para petani Manggarai. Kesadaran untuk mengubah dari kedalaman diri adalah hal pertama yang harus dilakukan. Selain itu, bertindak segera dengan cara kontekstual dan modern. Kemudian, evaluasi dan refleksi diri bermaksud untuk memperbaiki diri dan kinerja demi tujuan kesuksesan.
Kedua, pendidikan kontekstual menjadi sesuatu yang sangat urgen bagi para petani Manggarai. Pendidikan kontekstual tidak harus bersifat formal. Belajar dari petani sukses dan modern menjadi pengalaman berharga. Hal itu menjadi modal untuk mewujudkan pertanian yang berkualitas.
Ketiga, transformasi ekonomi berkelanjutan memiliki tujuan jangka panjang. Di tengah gempuran budaya instan, para petani Manggarai wajib bertransformasi diri guna meningkatkan kesejahteraan keluarga. Produktivitas, kreativitas, kemandirian dan inovasi diri menjadi salah satu syarat penting dalam upaya transformasi ekonomi berkelanjutan tersebut.
Selain itu, untuk meningkatkan kualitas ekonomi berkelanjutan, penguatan sinergi antar pemerintah, pelaku usaha, komunitas lokal dan para petani itu sendiri dapat meningkatkan nilai plus khususnya pemberdayaan kualitas pertanian. Tidak hanya itu, para petani perlu membentuk kelompok tani dengan maksud untuk mempermudah segala akses informasi dan sebagainya.
Para petani juga membangun kemitraan dengan para petani produktif supaya aura kesuksesan mereka dapat tertular sehingga kesuksesan itu semakin nyata. Pengembangan kemitraan dapat meningkatkan kesadaran pentingnya kualitas ekonomi berkelanjutan.
Catatan Kritis
Transformasi ekonomi berkelanjutan bagi para petani Manggarai tidak sedang mendiskreditkan kemajuan tehnologi, atau juga tidak merendahkan kualitas pertanian hingga saat ini. Tulisan ini lebih menyoroti sebagian petani yang menjadikan judol sebagai ladang instan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Setiap orang memiliki kebebasan untuk mengekspresikan hidup termasuk kecanduan untuk judol. Namun hal itu menjadi perhatian bersama bila merugikan jika dikaitkan dengan aspek-spek lain seperti moralitas, sosialitas, spiritualitas dan ekonomi. Pasalnya setiap keputusan dan tindakan selalu ada konsekwensinya baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.
Kepedulian dan cita-cita bersama demi kesejahteraan umum sangatlah penting. Kehidupan tatanan sosial bisa didukung dari aspek perekonomian yang membahagiakan. Di tengah gempuran budaya instan dan individualisme, perjuangan bersama dalam mengutamakan proses tidak dapat mengkianati hasil. Proses yang cerdas memerlihatkan hasil yang luar biasa.
Transformasi ekonomi berkelanjutan bagi para petani Manggarai menjadi visi bersama. Kerja bersama dan sama-sama bekerja dapat meningkatkan kualitas dan transfomsi ekonomi di bumi nucalale.
Transformasi ekonomi berkelanjutan butuh dukungan dari pihak pemerintah, para petani produktif dan pengusaha sukses. Dengan itu, budaya bertani dilakukan dengan cara baru dan modern. Jadi budaya instan bukan jalan menuju kesuksesan melainkan batu sandungan yang membuat para petani tak berdaya. Sebaliknya, proses yang efektif dapat menentukan kualitas pertanian. Mengabaikan proses berarti membuat diri terjebak dalam budaya instan. Hidup pun tak berlandaskan pada akar yang kuat dalam perekonomian berkelanjutan. Dengan demikian, proses cerdas adalah cara terbaik untuk melakukan transformasi ekonomi pertanian Manggarai berkelanjutan di tengah gempuran budaya instan.
Oleh: MJM
Penulis admin
Admin adalah anak kampung yang punya kerinduan untuk mengubah dunia dengan cinta, kebenaran dan kebijaksanaan melalui goresan-goresan bernas. Setiap detik tulisan pasti bernas. Admin akan selalu mempublis tulisan yang menyejukkan dahaga para pembaca. Kiranya teman-teman pembaca selalu hadir dan betah untuk menikmati setiap suguhan pena detikbernas.

Saat ini belum ada komentar